Figur Sepuh

Literasi, Serat2841 Dilihat
figur sepuh - maghfur m ramin
Foto: Istimewa

Maghfur M. Ramin

Dalam budaya Jawa kita, kehadiran sesepuh dan pinisepuh menjadi representasi otoritas moral yang tumbuh dari pengalaman, laku hidup, dan kedalaman batin. Istilah sepuh, pinisepuh, dan linuwih sebagai kategori sosial yang sarat nilai, bukan sekadar label usia. Namun di Indonesia kekinian, kehadiran figur sepuh ini bersentuhan dengan struktur kekuasaan yang semakin terpusat. Politik elektoral yang mahal, birokrasi yang kerap transaksional, serta kelas sosial yang makin berjarak. Di tengah laju teknologi dan komodifikasi informasi, sepuh tidak hanya menjadi kompas moral, tetapi juga cermin untuk menilai bagaimana otoritas diposisikan, dinegosiasikan, bahkan ditinggalkan.

Figur sepuh menjadi pintu untuk membaca kembali sistem nilai yang terdesak oleh budaya kecepatan dan logika pasar. Dalam tradisi Jawa, hierarki moral dibangun atas harmoni, welas asih, dan pengendalian diri. Nilai-nilai itu kini bersaing dengan budaya politik yang mengutamakan pencitraan dan viralitas. Dengan memahami sepuh sebagai penopang nilai komunal, kita dapat menilai bagaimana masyarakat Indonesia menangani ketegangan antara modernitas dan kearifan lokal. Apakah nilai dijalankan, atau hanya dipakai sebagai ornamen identitas.

Penjaga Harmoni

Sosok sesepuh berperan menjaga harmoni sosial. Namun harmoni itu kini diuji oleh polarisasi politik, ekonomi yang timpang, dan budaya digital yang mempercepat konflik. Nilai tepa slira, andhap asor, dan guyub rukun dalam tradisi Jawa klasik dijelaskan sebagai fondasi etika komunal (Poerwadarminta, 1939) semakin sulit dipraktikkan. Kesulitan menguat ketika ruang publik didominasi komentar kasar, fanatisme identitas, dan logika “siapa paling keras” yang dipupuk algoritma media sosial.

Dalam rapat RT atau musyawarah desa, suara sesepuh dahulu menjadi rujukan moderasi. Sekarang, ia sering terpotong oleh elite lokal yang memperoleh legitimasi bukan karena kedalaman laku, tetapi karena jaringan politik, sumber daya ekonomi, atau kedekatan dengan program pemerintah. Di banyak desa, keputusan kolektif tidak lagi sepenuhnya dituntun kebijaksanaan tokoh tua, tetapi oleh kepentingan bantuan proyek, dana desa, atau lobi politik. Ini menunjukkan tekanan terhadap otoritas moral sesepuh. Bukan hanya dari budaya digital, tetapi juga dari struktur ekonomi-politik yang semakin transaksional.

Ketika orang lebih percaya informasi kilat di media sosial daripada wejangan tokoh lokal yang telah mereka kenal puluhan tahun, penghormatan terhadap sesepuh bergeser dari makna substantif menuju simbolis. Yang dihormati sering hanya “gumunan” ritusnya, bukan kedalaman batinnya. Pergeseran ini menandai krisis otoritas moral.

Kedalaman Batin

Pinisepuh, figur yang sepuh linuwih, menempati posisi spiritual yang lebih dalam karena tirakat panjang dan kejernihan rasa. Dalam konteks budaya Jawa, kedalaman batin seperti ini pernah menjadi orientasi kelas priyayi. Fenomena tersebut dicatat dengan kuat oleh Clifford Geertz (1960) ketika membahas relasi antara ritual, struktur sosial, dan pembentukan otoritas moral dalam masyarakat Jawa. Namun di Indonesia modern, figur semacam ini menjadi langka bukan karena masyarakat tidak membutuhkannya, tetapi karena ruang spiritual publik digeser oleh dua arus besar. Agama yang terkomodifikasi dan moralitas instan.

Sebagian ruang keagamaan terjebak dalam industrialisasi dakwah. Konten singkat, ceramah viral, dan motivasi agama yang mudah dikonsumsi tetapi tipis refleksi. Di sisi lain, polarisasi identitas membuat moralitas menjadi alat mobilisasi, bukan proses pendewasaan. Dalam suasana seperti itu, nasihat pinisepuh yang menekankan rasa, kontemplasi, dan keseimbangan batin sering dianggap tidak praktis dan tidak relevan dengan ritme kompetitif zaman. Itu pun kalau ada.

Padahal masyarakat Indonesia sedang menghadapi krisis spiritual publik. Banjir informasi, konflik identitas, dan hilangnya ruang hening. Ketika hidup dipenuhi ambisi mobilitas kelas, tekanan ekonomi, dan hiruk-pikuk urban, ajaran pengendalian diri dan kejernihan batin yang menjadi ciri pinisepuh justru semakin ringsek.

Masih Krisis

Figur sesepuh dan pinisepuh menawarkan cermin untuk membaca krisis kedalaman dalam masyarakat kita. Ketika negara dikuasai logika proyek, politik ditentukan oleh koalisi pragmatis, dan ruang digital menguatkan ekstremitas, nilai ketelatenan dan kehalusan rasa tampak seperti barang antik. Padahal, tanpa nilai itu, masyarakat mudah terjebak dalam konflik dangkal, keputusan emosional, dan hubungan sosial yang rapuh.

Pemahaman terhadap figur sepuh bukan nostalgia, melainkan kritik terhadap kondisi kita hari ini. Bagaimana otoritas moral tergantikan oleh popularitas, bagaimana kebijaksanaan digeser oleh kecepatan, dan bagaimana relasi sosial diperdagangkan melalui mekanisme kekuasaan. Dengan merawat kembali ruang kedalaman batin, seperi mau mendengar dan mengukur diri, kita punya peluang membangun masa depan yang lebih jernih, beradab, dan manusiawi. Figur sepuh mengingatkan bahwa kemajuan tanpa kebijaksanaan hanya menghasilkan masyarakat yang bising nan pesing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *