Sesat Makna

Literasi, Serat2746 Dilihat
Sesat Makna
Foto: Ilustrasi

Maghfur M. Ramin

Sebuah potongan video tiga menit di Trans7 mendadak jadi bara. Santri yang ngesot menuju kiai -simbol penghormatan dalam tradisi pesantren- justru dituding sebagai perilaku feodal. Dalam sekejap, adab berubah jadi olok-olok, dan makna pun tersesat di antara sorot kamera dan gairah sensasi.

Salah tafsir atas kebiasaan pesantren menuai protes berjamaah: BOIKOT. Dilihat melalui kacamata systematically distorted communication Jürgen Habermas, persoalannya kian terang: ini bukan sekadar salah tayang, melainkan salah memahami makna.

Bagi Habermas, komunikasi yang sehat harus memenuhi empat syarat: benar secara fakta (truth), tepat dalam makna (rightness), jujur dalam niat (truthfulness), dan bisa dipahami bersama (comprehensibility). Kalau salah satu unsur hilang, komunikasi bisa terdistorsi. Bahkan menyesatkan.

Distorsi Komunikasi

Dalam tayangan Xpose, keempat unsur itu terganggu sekaligus. Fakta empirisnya benar. Memang ada santri yang ngesot. Namun, makna yang melekat pada tindakan itu dipotong dari konteks spiritualnya. Ta’dhim kemudian disempitkan menjadi gestur sosial yang tampak perbudakan. Kamera menangkap peristiwa, tapi gagal menangkap nilai. Gambar tajam, tapi maknanya kabur.

Padahal, di pesantren, ngesot bukan bentuk ketundukan sosial, melainkan latihan kerendahan hati. Ia mengajarkan santri menundukkan ego di hadapan ilmu. Nilai yang hidup ratusan tahun dalam tradisi Islam. Sementara dunia televisi bekerja dengan logika lain: sensasi, keanehan, dan kecepatan. Maka ketika simbol sakral itu dipotret dari luar tanpa pemahaman kultural, ia mudah terlihat dungu, bahkan lucu.

Inilah bentuk komunikasi yang rusak tidak karena niat jahat individu, tapi sebab sistem yang mendorongnya ke arah itu. Demi rating, kebenaran tersisihkan. Visual mengalahkan makna. Spiritualitas diringkas menjadi potongan video berdurasi pendek -tak mendidik.

Kalau Habermas bicara soal komunikasi yang rusak karena sistem modernitas, al-Ghazali menyoroti akar masalah yang lebih dalam: hati manusia. Dalam Ihya ‘Ulum al-Din, ia menegaskan bahwa kata adalah cermin hati, dan setiap ucapan mesti disertai niyyah shadiqah. Niat yang jernih. Ketika kata kehilangan keikhlasan, lahirlah bukan komunikasi, melainkan kekosongan moral, atau lahw al-lisan. Kelalaian lidah narator yang menyesatkan makna.

Dari sini, terlihat bahwa tayangan yang salah tafsir atas ta’dhim bukan cuma salah data, tapi juga salah adab. Ia bicara tanpa empati, menarasikan tanpa penyelidikan makna (tahqiq al-ma‘na).

Lewat Muqaddimah, juga membuka kacamata sosial: setiap komunikasi lahir dari ‘ashabiyyah. Solidaritas yang menyatukan kelompok. Tradisi pesantren adalah ‘ashabiyyah ilmiyyah: ikatan spiritual dan intelektual antara murid dan guru. Kalau simbol-simbol tersebut dilepas dari jaringan solidaritas ini, pasti disalahpahami.

Ketiganya -Habermas, al-Ghazali, dan Ibn Khaldun- bertemu pada satu titik: komunikasi yang sehat terjadi bila ada kesetaraan makna dan kejujuran hati. Bedanya, Habermas dari logika rasionalitas modern; dua lainnya dari kedalaman etika dan spiritualitas.

Dialog Retak

Ketika media gagal memahami simbol, yang rusak tidak hanya reputasi pesantren, tapi juga jembatan pengertian antarbudaya. Masyarakat pesantren merasa disalahpahami, sementara publik luar merasa sudah “tahu fakta.” Padahal konsumsi citra semata, bukan pemahaman.

Pelajarannya jelas: media perlu belajar adab representasi. Ia tidak hanya menampilkan yang menarik, tapi juga yang mendidik. Liputan tentang agama tidak “mati” di depan kamera dan naskah semata. Ia butuh empati, pendampingan, dan niat untuk mendalami.

Pesantren juga perlu membangun literasi media. Dunia luar mungkin tidak membaca kutub al-turâts (kitab kuning), tapi mereka membaca visual dan narasi. Maka, pesantren harus bisa berbicara dengan bahasa zaman tanpa kehilangan ruhnya.

Tradisi Adab

Kasus ini menyingkap ironi zaman: di era informasi yang melimpah, makna justru sering tercecer. Habermas mengingatkan bahwa komunikasi sejati butuh kesetaraan, kejujuran, dan pengakuan atas perbedaan horizon makna. Al-Ghazâlî menekankan komunikasi lahir dari hati jernih, Ibn Khaldûn menegaskan ia harus berpijak pada solidaritas nilai dan budaya.

Jika semua itu hilang, yang tersisa hanyalah monolog murakkab: suara yang memaksakan tafsir sendiri sambil menutup telinga dari yang lain. Kamera Xpose memang gagal memotret adab, tapi lebih dari itu, ia menyingkap kegelisahan zaman: dunia cepat menilai, tapi lambat memahami.

Di tengah hiruk-pikuk komunikasi serba instan, barangkali pesantrenlah yang masih ajek menjaga tradisi yang kini langka: ta’dib.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *