
Mohammad Afin Masrija
“Ru.. Mau minjem mobil!?”
Ajmain mengucapkannya sambil tersenyum, pecinya agak miring, sarungnya terlipat terburu-buru. Nadanya enteng, nyaris tanpa beban, seperti orang minta sandal di teras langgar. Aku sedang berdiri di depan ruko percetakanku, melipat kertas sisa potong. Mesin cetak di dalam masih meraung, bau tinta bercampur debu siang yang panas.
Aku menatapnya lama. Terlalu lama untuk ukuran sapaan biasa.
“Maaf,” kataku akhirnya, “kali ini tidak bisa.”
Ia tertawa kecil, tawa refleks yang cepat sekali padam. “Kenapa ndak bisa?”
Aku menarik napas. Dalam kepalaku, ada bau bensin sekarat, ada remah gorengan di jok belakang, ada tisu kusut menempel di dasbor. Ingatan itu belum kering.
Beberapa minggu lalu, mobil putih itu kembali ke garasi menjelang magrib. Lampu rumah sudah menyala. Tangki bensin tinggal garis merah. Jok belakang penuh sisa makanan. Dasbor lengket oleh tumpahan teh manis. Istriku berdiri di depan mobil, tidak berteriak, tidak menangis.
“Ini mobil apa tempat makan?” katanya.
Aku menjawab seperti biasa. “Sabar.” Lagi-lagi aku yang harus membersihkan kereta tanpa kuda itu.
Kata itu dulu selalu bekerja. Malam itu tidak. Ia menatapku lama, seolah menunggu aku mengatakan hal lain—apa saja selain kata yang sama.
“KAMU INI SEBENARNYA KELUARGANYA AJMAIN ATAU SUAMI SAYA!!”
Aku terpaku.
“KAMU INI SEBENARNYA AYAHNYA DERA ATAU AJLAN?! KENAPA MEREKA SELALU KAU BELA?!”
Aku duduk sampai larut malam. Lampu ruang tamu tak kupadamkan. Kipas angin berdecit pelan. Aku menatap lantai yang dingin, merasakan betapa sunyinya rumah yang selama ini kuanggap baik-baik saja. Kutatap mobil yang masih basah itu, dia juga menatapku penuh haru, seperti tahu bebanku begitu berat. Namun dia meyakinkan bahwa tidak semua beban harus dipikul sendirian. Sebagian harus dilepaskan. Setidaknya untuk saat ini mobil putih itu yang bisa memahamiku dan tak pernah protes pada keputusanku.
Aku ini orang yang tak pernah libur. Sejak percetakan kecil itu berdiri, Minggu hanya nama di kalender. Libur hanyalah jeda sebentar di antara pesanan undangan, spanduk, nota. Aku berangkat pagi, pulang ketika lampu rumah menyala. Istriku tahu. Ajlan tumbuh dengan mengerti, tanpa pernah benar-benar menuntut, menikmati apa yang ku berikan dan kupikir itu baik-baik saja. Rekening istriku memang ramai, isinya sampai berjejal namun sepertinya ada satu puzzle yang masih hilang.
Mungkin karena itu mobil putih terasa seperti milik bersama. Ia lebih sering pergi bersama orang lain daripada denganku.
Saat aku capek, aku selalu mengajak ngopi sahaabatku yang juga seorang yang paham agama. Namanya ajmain.
Ajmain sendiri sering menasihatiku. Ia ustadz kampung—ngajar ngaji anak-anak setiap sore, memimpin tahlilan, jadi khatib Jumat jika imam berhalangan. Di luar itu, ia kerja serabutan: ikut panen, angkut pasir, bantu bangunan.
“Yang penting halal,” katanya. Aku menghormatinya. Selalu.
“Yang sabar sama istri,” katanya suatu malam sambil menyeruput kopi.
“Perempuan memang begitu.” Katanya seperti orang berpengalaman
Aku mengangguk. Aku percaya.
Kadang dia juga menasihatiku
“dunia tak perlu dikejar, ia tak di bawa mati” nadanya teduh, membasuh keringnya hati ini.
“Ya pokoknya tidak bisa,” kataku sekarang.
Senyumnya memudar. “Mau dipakai?” tanyanya
“Enggak.”
Kata itu keluar bulat. Tegas. Aku sendiri terkejut mendengarnya.
Aku teringat Ajmain tertawa di teras rumahku, istrinya di samping, anaknya berlarian. Kunci mobil ada di tangannya. Aku di dalam rumah, baru saja selesai cekcok.
Ia sering menceritakan itu pada Ajlan—tentang jalan-jalan, tentang betapa enaknya punya mobil.
Yang lebih menyakitkan adalah caranya bercerita. Kepada Ajlan, anakku.
“Enak ya naik mobil om, bisa ke pantai, gunung dan tempat bermain” katanya suatu kali sambil tertawa keras.
Ajlan tertawa juga. Tawa polos anak kecil. Ngaplo, kata orang kampung. Tidak paham apa-apa, tapi ikut senang. Dadaku waktu itu terasa sesak, tapi aku tetap diam. Aku selalu diam.
“Aku sudah janji pada anak istriku istriku,” katanya kini, suaranya menurun.
“Kamu kan bisa sewa,” jawabku.
“Ayolah, Ru. Nanti istriku marah.”
Aku menatapnya. “Sabar aja,” kataku pelan. “Perempuan memang begitu, kan?”
Ia terdiam. Ada jeda yang aneh. Untuk pertama kalinya, aku melihat Ajmain tidak segera menemukan kata-kata.
“Ku kira kita teman,” katanya.
“Kita memang teman,” jawabku. “Karena itu kamu harus paham.”
“Paham apa?”
Aku tidak menjawab. Ajmain pulang wajah yang tak biasa, entah marah, sedih, atau jengkel. Aku tak peduli.
Sejak hari itu, kami jarang saling menyapa. Jika bertemu di jalan, hanya anggukan tipis. Mobil putih lebih sering diam di garasi. Aku mulai memaksa diri libur—tidak lama, setengah hari pun jadi. Aku menutup ruko lebih awal, membiarkan telepon berdering sekali dua kali, lalu mengajak istriku dan Ajlan pergi.
Kami ke kebun binatang. Panas. Ramai. Melelahkan. Aku berdiri lama di depan kandang gajah, keringat mengalir di punggung. Ajlan melompat-lompat, menunjuk belalai yang bergerak pelan. Aku tidak ingat kapan terakhir kali berdiri tanpa tergesa.
Malamnya, aku membersihkan mobil sendiri. Mengelap setir, menyedot remah-remah di jok. Tangki kuisi setengah. Aku menutup pintu perlahan, tanpa bunyi. Memang tak sepenuhnya bersih karena menyetir juga butuh tenaga.
Beberapa hari kemudian, aku mendengar Ajlan bercerita di teras.
“Aku kemarin habis diajak ayah lihat gajah.”
Teman-temannya mendekat.
“Gajah beneran?”
“Besar nggak?”
“Naik mobil apa?”
Ajlan tersenyum bangga. Untuk pertama kalinya, namaku disebut bukan sebagai pemilik mobil, tapi sebagai ayah.
Istriku tidak lagi rewel. Tidak ada suara tinggi saat mobil masuk garasi meskipun lebih kotor, dan tangki sekarat. Ia lebih tenang dan sering menyiapkan air minum ketika aku pulang. Kadang bertanya singkat, “Capek?” Lalu kembali ke dapur. Ia tidak sedang menang. Ia hanya akhirnya tidak kalah.
Di kampung, bisik-bisik muncul.
“Daru saiki pelit.”
“Mobil wae ora gelem dipinjemke.”
Aku diam.
Suatu sore, aku melihat Ajmain di depan rumahnya, menambal ban motor. Tangannya hitam oleh oli. Ia menoleh, ragu-ragu, lalu mengangguk kecil. Aku membalas anggukan itu. Tidak ada kata.
Malam Jumat, aku lewat depan langgar. Ajmain berceramah. Suaranya tenang.
“Salah satu penyakit hati yang halus,” katanya, “adalah pelit. Merasa punya, tapi enggan berbagi.”
Beberapa mata melirik ke arahku. Aku berdiri sebentar, lalu melangkah pergi.
Di sisi lain kampung, anak-anak Ajmain kini sering merengek setiap sore.
“Kapan kita liburan lagi?”
“Kapan naik mobil om Daru lagi?”
Aku pernah melihat Ajmain mengusap kepala anaknya. Ia tidak tertawa seperti dulu. “Sabar,” katanya pelan. “Nanti ada waktunya.”
Aku duduk di garasi malam itu. Mobil putih diam, berdebu tipis. Aku membuka pintu, duduk sebentar di kursi pengemudi. Tanganku di setir. Aku tidak menyalakan mesin.
Jika menjaga keluargaku disebut pelit, biarlah.
Aku hanya berhenti murah pada orang lain—dan akhirnya pulang ke rumahku sendiri.
Karena mereka, adalah anak istriku.
Mohammad Afin Masrija, Menikmati hidup di kediri, beberapa tulisannya pernah dimuat di berbagai media online



















