Travel-Logic

Esai, Literasi478 Dilihat
Travel-Logic
Foto: Dokumen ejogja.ID

Rudiana Ade Ginanjar

PERJALANAN SERINGKALI MENJADI jalan pemecah kebuntuan. Dari pengarang populer Stephen King hingga kalangan yang lebih serius di antara pengarang internasional, perjalanan telah memandu mereka ke sejumlah penemuan. Ide dan kenyataan. Bukankah kehidupan yang tengah kita lalui adalah juga suatu perjalanan?

Jangan Lewati: Sajak-sajak Rudiana Ade Ginanjar

Tradisi ini, yang telah diturunkan dari kebiasaan dan watak muasal, tidaklah aneh bagi masyarakat keturunan Jawa. Beberapa dari kisah bepergian menjadi jalan ibadah dan sebagian besar merupakan upaya mendayagunakan kembali kemampuan kreatif. Bergerak dan berpindah tempat, menyalin suatu irama baru dan memadukannya dengan kenangan-kenangan yang telah dikumpulkan sebelumnya telah menjadi sejenis pelipur dan penemuan. Dari jangkauannya yang tidak seberapa, hingga penerbangan yang melelahkan. Bagaimana semua itu menjadi keputusan sungguh layak diselidiki. Meski secara alami, membentuk dan menemukan kehidupan yang lebih baik merupakan watak dasar manusia, sebuah naluri dasar; efek jenuh dan problematis telah menjadi alasan bagi sebagian besar orang. Hanya dalam situasi bahagia, setiap orang mampu menemukan kejernihan perjalanan. Atau dalam kontemplasi yang mandiri, yang meletakkan diri di luar kenyataan: membangun jarak sebab dan akibat. Dan tanpa kita sadari, kita juga telah melakukan sejenis perjalanan lain: perjalanan pemikiran. 

Perjalanan dalam Grapes of Wrath (1939; Amarah I dan II, 1999, 2000)nya John Steinbeck menjadi ciri yang telah saya sebutkan di atas: pencarian kehidupan yang lebih baik. Ia tengah mengajarkan pada pembaca cara sederhana untuk sintas. Bergerak. Tokoh Santiago dalam Alchemist (1988; Sang Alkemis, 2005)nya Paulo Coelho mencari jawaban dari mimpi berulangnya melalui serangkaian perjalanan antarbenua. Meski pada mulanya hartalah yang memicu keberaniannya, Santiago pada akhirnya harus menemukan satu perjalanan terakhir: cinta.  Sementara itu, Ganesh, tokoh kita dalam novel V.S. Naipaul, The Mystic Masseur (1957; Tabib Sakti, 2017), berusaha melakukan proses penyembuhan melalui gerak kembali ke lingkungan dan kenangan masa kecilnya. Ketiganya dari kisah bandingan kehidupan nyata itu, yang kita jumpai semata lewat tangan pengalaman pengarangnya, tidak terlalu jauh dari kenyataan itu sendiri. Dan mereka adalah pengarang termasyhur. Teruji oleh waktu. Kemampuan-kemampuan sejenis tidak akan kalah menarik jika kita menyimak beberapa dari penulis kontemporer. Saya mendapatkan Rumbalara Perjalanan (2017)nya Bernando J. Sujibto sekitar tujuh tahun silam, bersama atau dengan bantuan seorang kawan yang kini telah berpulang. Dari judul, kita semua telah dipaksa untuk tertarik. Buku yang menyiratkan petualangan dengan pasti dan misterius semata karena tajuk yang baik. Kita mungkin menemukan cahaya impresionisme dari sajak-sajak di dalamnya, sebentang lanskap dan kota-kota. Kuno dan eksotik. Kita menengok kembali sejarah kita lewat tangan puitik penyair Sujibto. 

Jangan Lewati: Ziarah Literasi

Warna-warni perjumpaan yang sama juga diperoleh dalam antologi Kawitan (2016)nya Ni Made Purnama Sari. Tidak kalah seru. Buku yang menegaskan peran kecerdasan, khayal, dan perasaan silih berganti. Menonjolkan diri di satu kesempatan dan bersembunyi di titik yang lain. “Saya sadar bahwa puisi bagi saya adalah catatan kaki bagi perjalanan itu sendiri, entitas paling dekat dan intens menyertai pengembaraan saya,” ujar penyair Sujibto (Sujibto, 2017:18). Bandingkan misalnya dengan prolog serupa dalam bukunya oleh Purnama Sari: “…saya maknai sebagai buku yang lebih intim dan dekat bagi saya pribadi. Buku dengan sepilihan puisi yang mengingatkan perjalanan dan pertemuan bersama aneka peristiwa di muka bumi….” (Sari, 2021:vii) Betapa kebetulan jika saya juga menyodorkan bukti bahwa mereka adalah pribadi yang dimunculkan dari ruang tertutup bernama akademi pendidikan. ‘Tertutup’ dalam sifatnya yang ‘dimasuki dengan sejumlah prasyarat’. Tertutup dalam pemahaman lain sebagai semata ruang dengan jendela ke kehidupan. Dialog langsung, perjumpaan mereka dengan kehidupan, dalam rupa perjalanan akan menjadi arena pertemuan menarik gagasan dan kenyataan. Di sinilah, tepatnya pola pembentukan perjalanan sesungguhnya terjadi. Hikmah mereka, tawaran yang mereka terima dari dunia yang selama ini hanya menjadi bahan diskusi di ruang kelas bersama sejawat atau pengajar. 

Sebagai karya mimetik, sastra telah membentuk dunia tiruan. Yang dari pemikiran Aristoteles ditinggikan bukan semata tiruan melainkan gerak penciptaan ruang baru. Karena dunia luar, kehidupan asli, bagi penulis pada umumnya adalah sumur ilham yang tidak kunjung surut, akan terbuka kemungkinan luas penafsiran. Bagi penyair Sujibto, pertemuan-pertemuan historisnya dengan situs-situs bersejarah atau kota-kota internasional telah menyeretnya kembali, ironisnya, pada kehidupan dalam lingkungan kecil kampung halamannya. Nuansa keterpukauan itu tidak melambungkan si penyair untuk melupakan alih-alih mempertebal pada kerinduannya akan tanah air Indonesia. Ia telah mengembarai sejumlah pemikiran: dari kekagumannya pada penyair Turki, pada Rumi, pada kisah asing—ia dengan senang hati menempatkan sebagai diri yang tengah berdialog dengan sejumlah kebudayaan baru yang berbeda. Terbata-bata, barangkali, memungut tanda-tanda mereka dalam kesenangan dan ketakjuban. 

Jangan Lewati: Realitas Pahit Perempuan Belum Usai

Bagi Purnama Sari, sisi perempuannya tidak menjadikan berbeda dalam perspektif historis terhadap suatu perjalanan puitik bila dibandingkan dengan Sujibto. Mereka terlihat sama. Keduanya menjalin kembali kenangan akan muasal, kawitan. Yang di tangan penyair Bali itu menjadi dekat dan lebih nyata. Mozaik peristiwa lebih benderang ditampilkan olehnya. Meski terlihat personal, pandangan kedua penyair petualang tersebut memberi jembatan pemahaman bagi pembaca—juga seutas benang ke dunia luar. Mereka membagi tiap momentum, menguraikan kejadian dari sisi puitik. Mereka membantu kita untuk mengenali dunia luar dengan segenap pemikiran mereka. (*)

Rudiana Ade Ginanjar, lahir di Cilacap, 21 Maret 1985. Beberapa karyanya terhimpun dalam surat kabar, buku antologi bersama, dan media daring; antara lain: Horison, Seputar Indonesia, Suara Merdeka, Radar Banyumas, Harian Rakyat Sumbar, Solopos, Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos, dan Koran Tempo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *