Cabul Intelektual

Serat130 Dilihat
cabul intelektual
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin

Ada jenis cabul yang tidak meninggalkan bekas di tubuh, tetapi perlahan melukai akal sehat dan martabat manusia. Ia tidak selalu hadir lewat kata-kata vulgar, sentuhan fisik, atau gambar yang terang-terangan. Kadang, ia bersembunyi di balik gelar akademik, ruang kuliah, bilik pesantren, mimbar diskusi, bahkan forum ilmiah yang tampak terhormat. Saya menyebutnya: cabul intelektual. Tindakan pembenaran sesuatu yang secara fundamental tidak pas.

Cabul intelektual lahir saat ilmu kehilangan etika. Ketika kecerdasan tidak lagi dipakai untuk menerangi kehidupan, melainkan untuk mengendalikan, menipu, dan mempertahankan kekuasaan. Pengetahuan berubah menjadi alat dominasi. Gelar akademik menjadi topeng moral. Kata-kata ilmiah dipakai untuk menyamarkan kepentingan.

Fenomena ini dapat tumbuh di mana saja, terutama di ruang-ruang yang memiliki otoritas pengetahuan: kampus dan pesantren. Dua lembaga ini sejatinya lahir untuk membentuk manusia berilmu dan beradab. Namun ketika relasi kuasa lebih dominan daripada etika, keduanya dapat berubah menjadi ruang reproduksi kepatuhan yang membungkam akal sehat.

Kampus dan Pesantren

Di kampus, cabul intelektual hadir dalam wajah modern dan birokratis. Ia muncul lewat dosen yang memakai otoritas akademiknya untuk menekan mahasiswa. Pembimbing yang menjadikan ruang konsultasi sebagai arena intimidasi. Peneliti yang memanipulasi data demi reputasi ilmiah. Akademisi yang menjual suara kritisnya demi jabatan, proyek, atau kedekatan dengan kekuasaan.

Kampus yang seharusnya menjadi ruang dialog sering berubah menjadi arena feodalisme intelektual. Senioritas dipelihara secara berlebihan. Kritik dianggap ancaman terhadap wibawa. Mahasiswa didorong untuk patuh, bukan berpikir. Bahkan dalam beberapa kasus, relasi akademik yang timpang membuka jalan bagi kekerasan verbal, manipulasi psikologis, hingga pelecehan seksual yang dibungkus dengan bahasa mentoring, bimbingan, atau kedekatan intelektual.

Yang paling berbahaya, semua itu kerap tampak sah karena dibalut simbol akademik: gelar, publikasi, jabatan, dan reputasi ilmiah. Orang luar melihat kampus sebagai ruang terhormat, padahal di dalamnya bisa tumbuh budaya takut dan relasi kuasa yang tidak sehat. Pengetahuan tidak lagi menjadi alat pembebasan, melainkan instrumen kontrol.

Di pesantren, cabul intelektual bekerja dengan cara yang lebih kultural dan simbolik. Ia dibungkus dengan bahasa keberkahan, adab, dan kepatuhan. Santri diajarkan untuk manut kepada kiai demi memperoleh rida dan berkah. Nilai itu pada dasarnya mulia karena lahir dari tradisi penghormatan terhadap ilmu dan guru. Namun dalam relasi yang timpang, ajaran tersebut dapat disalahgunakan untuk membangun kepatuhan tanpa ruang kritis. Semu.

Santri akhirnya terbiasa menerima tanpa bertanya. Mereka takut dianggap durhaka jika mengkritik. Takut dicap tidak beradab jika menolak. Dalam situasi seperti itu, relasi spiritual dapat bergeser menjadi relasi kuasa. Kharisma tidak lagi menjadi jalan keteladanan, melainkan alat legitimasi.

Dalam kondisi inilah, cabul intelektual menjadi sangat berbahaya. Sebab yang dicabuli bukan hanya tubuh, tetapi juga kesadaran. Mental santri dibentuk untuk tunduk bahkan ketika martabatnya dilukai. Pada kasus tertentu, relasi kuasa itu bahkan dapat berujung pada kekerasan fisik atau pelecehan seksual yang diselimuti dalih spiritualitas, kepatuhan, atau keberkahan.

Baik kampus maupun pesantren sebenarnya menghadapi persoalan yang sama: krisis etika dalam relasi pengetahuan. Bedanya hanya pada bahasa dan simbol yang dipakai. Kampus menggunakan legitimasi akademik; pesantren menggunakan legitimasi spiritual. Namun keduanya dapat sama-sama melahirkan budaya takut ketika otoritas tidak disertai kontrol moral.

Krisis Pencerahan

Fenomena ini sebenarnya telah lama dikritik oleh Ali Syariati melalui konsep rausyanfikr (intelektual tercerahkan). Shariati menjelaskan bahwa intelektual sejati bukan sekadar orang berpendidikan tinggi. Ia adalah manusia yang memiliki kesadaran moral dan keberanian sosial untuk membela kemanusiaan.

Orang berilmu sejati bukan penghuni menara gading yang sibuk memoles teori demi reputasi pribadi. Ia hadir di tengah penderitaan masyarakat, membaca ketidakadilan, lalu menggunakan ilmunya sebagai alat pembebasan. Karena itu, ukuran intelektualitas bukan hanya kecerdasan berpikir, tetapi juga keberpihakan moral.

Cabul intelektual muncul saat kaum terdidik meninggalkan tanggung jawab etiknya. Ketika intelektual berubah menjadi makelar pengetahuan. Mereka pandai berbicara tentang keadilan, tetapi diam di hadapan penindasan. Mereka mengajarkan etika di ruang kuliah dan bilik pesantren, tetapi memperlakukan manusia secara sewenang-wenang. Sering terjadi juga, mereka membela kebebasan berpikir di seminar, tetapi anti kritik terhadap dirinya sendiri.

Inilah intelektual palsu: orang-orang yang memakai ilmu untuk mendapatkan legitimasi sosial dan kedekatan dengan kekuasaan. Mereka tampak tercerahkan, tetapi sebenarnya ikut melanggengkan kebusukan. Bahasa mereka terdengar ilmiah dan ramah, namun kosong dari keberanian moral.

Tragedi terbesar masyarakat modern bukanlah kekurangan orang pintar, melainkan hilangnya intelektual yang memiliki keberanian etik. Dunia dipenuhi sarjana, tetapi miskin tanggung jawab moral. Banyak orang mampu berpikir kritis terhadap teori, tetapi gagal kritis terhadap dirinya sendiri. Mereka fasih membedah sistem sosial, namun diam ketika menikmati privilese dari sistem yang timpang. Mereka lantang berbicara tentang agama, tetapi lesu dalam etika.

Dalam keadaan seperti itu, cabul intelektual menjadi lebih berbahaya daripada kebodohan biasa. Orang bodoh mungkin hanya menyesatkan dirinya sendiri, tetapi intelektual yang kehilangan nurani dapat menyesatkan masyarakat luas. Ia mampu mengubah manipulasi menjadi wacana ilmiah, mengubah kepentingan menjadi kebijakan, bahkan mengubah ketidakadilan menjadi sesuatu yang tampak rasional. Normalisasi.

Ilmu pengetahuan semestinya tidak hanya melahirkan manusia cerdas, tetapi juga manusia yang bersedia memikul tanggung jawab moral. Kampus tidak cukup menjadi pabrik gelar dan publikasi. Pesantren pun tidak boleh sekadar menjadi ruang doktrin dan kepatuhan tanpa daya kritis. Keduanya harus menjadi ruang pembentukan integritas dan spiritualitas.

Sebab kehancuran sebuah masyarakat tidak selalu dimulai dari kebodohan. Bisa jadi, ia justru dimulai ketika orang-orang pintar berhenti memiliki nurani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *