Pekerjaan Utama

Literasi, Serat2644 Dilihat
Pekerjaan Utama
Foto: Dokumen ejogja.ID
Maghfur M. Ramin

Pekerjaan hari ini sering dimulai dengan niat yang tertib, tetapi berakhir dengan kekalahan yang nyaris tak disadari. Membaca buku, misalnya, sudah diawali dengan kesiapan fisik dan mental: buku terbuka, waktu disediakan. Namun kehadiran handphone di sampingnya mengubah arah perhatian. Awalnya hanya sebagai benda netral, lalu berubah menjadi pusat gravitasi. Dari satu notifikasi, perhatian terlepas dari teks panjang dan berpindah ke layar yang menawarkan rangsangan cepat. Buku tetap terbuka, tetapi fungsi utamanya sebagai sumber pemahaman telah dilumpuhkan. Fenomena ini sejalan dengan pengamatan Nicholas Carr dalam The Shallows, bahwa teknologi secara perlahan mengikis kapasitas konsentrasi dan kontemplasi manusia modern.

Di ruang kelas, pergeseran tersebut semakin kentara. Proses belajar yang menuntut kehadiran penuh terganggu oleh getaran kecil dari gawai. Notifikasi hadir sebagai interupsi yang dilegitimasi budaya digital: selalu ada kemungkinan “yang penting”. Tubuh tetap duduk di bangku kuliah, tetapi perhatian telah dibajak. Kelas berubah menjadi ruang dua dunia. Satu berlangsung secara nyata, yang lain berlangsung di layar, dan yang kedua ini sering menang telak. Carr menyebut kondisi ini sebagai perubahan cara berpikir dari pembacaan mendalam menuju pemrosesan sinyal yang cepat dan terputus-putus.

Saat mengerjakan tugas akademik, budaya digital menunjukkan wajah paling manipulatifnya. Pekerjaan yang menuntut konsentrasi panjang bersaing dengan konten pendek yang mencuri perhatian. Scroll TikTok, Reels, atau Shorts bukan sekadar hiburan, melainkan mesin distraksi. Lima menit pertama menjadi pintu masuk bagi waktu yang terfragmentasi. Tugas tidak ditinggalkan secara sadar, melainkan dibiarkan tergantung dalam keadaan setengah jadi. Budaya ini tidak melarang bekerja, tetapi menggerogoti kemampuan untuk menuntaskan.

Fenomena serupa merembes ke ranah domestik. Melipat pakaian, menyapu rumah, atau memasak kini sering disandingkan dengan live shopping, podcast, atau video rekomendasi. Aktivitas yang seharusnya selesai cepat berubah menjadi pekerjaan panjang yang melelahkan. Bukan karena berat, tetapi karena perhatian terus terpecah. Waktu habis bukan oleh kerja, melainkan oleh jeda-jeda distraksi yang tak terasa.

Hierarki Hancur

Budaya digital juga mengintervensi ruang ibadah, relasi sosial, dan waktu istirahat. Saat berdoa, handphone tetap menyala di saku. Saat berbincang, pandangan sesekali turun ke layar. Bahkan sebelum tidur, pekerjaan pokok tubuh —beristirahat— dikalahkan oleh kebiasaan scroll tanpa tujuan. Melalui In the Swarm: Digital Prospects, Byung-Chul Han mengingatkan bahwa medium digital menjadikan segala sesuatu tampak sama pentingnya, sehingga menghancurkan hierarki nilai dalam kehidupan sehari-hari.

Masalah utamanya bukan sekadar penggunaan gawai, melainkan normalisasi keterpecahan. Budaya digital merayakan multitasking, padahal yang terjadi adalah multi-distracting. Pekerjaan pokok kehilangan kehormatannya sebagai pusat kesadaran. Segala sesuatu diperlakukan setara: membaca kitab dan membaca notifikasi ditempatkan pada level urgensi yang sama. Tidak ada hierarki perhatian. Bagi Han, hal demikian melahirkan subjek yang terus mengeksploitasi dirinya sendiri atas nama produktivitas dan konektivitas.

Jeda Dijajah

Jeda sejenak, seperti menunggu di teras atau duduk hening selepas Magrib, merupakan bagian dari ngrasa. Cara batin menyelaraskan diri dengan waktu. Jeda bukan kekosongan, melainkan ruang pengendapan diri. Namun dalam logika dunia digital, jeda justru dipersepsikan sebagai ketidakefisienan yang harus segera diisi. Layar hadir sebagai penebus rasa hampa. Masa depan pun dibentuk oleh logika ini. Teknologi tidak lagi sekadar alat, melainkan kekuatan yang mengatur perhatian, waktu, dan jalan hidup kita. Gawai kemudian menguasai ritme hidup, memecah waktu menjadi serpihan konten yang terus menuntut respons. Dalam Cyberfutures, Ziauddin Sardar menyebut kondisi ini sebagai politik teknologi. Masa depan digital tidak hanya mengubah cara bekerja dan belajar, tetapi juga membentuk cara kita berhubungan dengan waktu dan makna. Efeknya terang benderang, kita bekerja kehilangan kesungguhan, belajar kehilangan keheningan, dan ibadah kehilangan kekhusyukan.

Kita tidak sepenuhnya malas, tetapi kehilangan kemampuan untuk hadir secara utuh. Aktivitas tanpa kedalaman, waktu habis tanpa pemaknaan. Budaya digital tidak mencuri waktu secara kasar, melainkan memecahnya menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak lagi bisa dirangkai menjadi pengalaman brilian. Ini bukan ajakan untuk menolak teknologi, melainkan seruan untuk merebut kembali pekerjaan utama.

Membaca harus kembali menjadi membaca, belajar kembali menjadi belajar, bekerja kembali menjadi bekerja. Pekerjaan pokok bukan sekadar tugas teknis, melainkan latihan etis. Kita memilih fokus di tengah godaan, memilih kehadiran di tengah gangguan, dan memilih kedalaman di tengah budaya serba cepat.

Dari membaca, belajar, bekerja, hingga mengurus rumah, semuanya tersisih perlahan. Pekerjaan pokok tidak lagi menentukan arah aktivitas, melainkan sekadar selingan di antara distraksi. Jadilah pekerjaan utama main gawai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar

  1. Luar biasa, sedikit banyak menumbuhkan kesadaran pembaca khususnya saya untuk “melek” pada sesuatu yang utama