
Kesakralan yang Menari di Tanah Tandus
Suara-suara menggigil
dalam hening yang retak,
kehangatan tak lagi menyelimuti
harapan pun patah
oleh bisikan
yang membunuh kata
dalam sunyi.
Musibah datang
tanpa lagi berputar-putar
mengitari peringatan.
Angin menghembus,
tangan terputus dari makna,
kaki memijak tanah
namun bertindak tanpa arah.
Langkah demi langkah,
mengalirkan kekeringan
yang gugur
dan mudah diucapkan
tanpa rasa.
Celah pintu dirapatkan,
ditutup botol-botol lupa.
Aroma kesucian menguap
tanpa disadari,
terbawa arus
yang membelah impian
ke lautan misteri.
Alun-alun kota runtuh
bersama mimpi,
terbang tanpa sayap,
tergelincir luka,
gersang
tanpa rasa bersalah.
Ayat-ayat menyergap diri
berbau besi,
tajam dan dingin.
Namun dalam tulisan,
kesucian dihayati—
menjadi napas,
menjelma cahaya
yang tak padam.
Bersihkan debu,
tanamkan hati,
nyalakan api.
Bakar ambisi
berbaju besi.
Hiduplah bersih,
tanpa sirih kepura-puraan.
Kesakralan menari
di tanah tandus kesucian,
dan luka di dada
pecah seribu
menjadi kata.
“Kesucian yang Terluka di Ambang Sunyi”
Suara-suara yang menggigil dalam hening
kehangatan yang tak lagi menyelimuti,
hingga harapan pun retak
penuh bisikan yang membunuh kata dalam sunyi.
Musibah telah tiba, tak lagi berputar mengelilingi.
Angin menghembus, tangan pun serasa putus;
kaki memijak, namun ragu dalam bertindak.
Langkah demi langkah, ukiran kata yang tajam
mengalir dalam kekeringan yang gugur dilantunkan,
begitu mudah terucapkan.
Rapatkanlah celah pada pintu,
tutupkan dengan botol yang kosong;
aroma kesucian hilang tanpa kesadaran,
terbawa arus,
membelah impian di lautan misteri.
Alun-alun kota runtuh bersama mimpi
terbang tanpa sayap, tergelincir dengan luka,
gersang tanpa rasa.
Ayat-ayat menyergap diri, berbau besi;
menghayati kesucian dalam tulisan,
jadilah ia nafas,
cahaya yang abadi.
Menyucikan debu, tanamkan hati, nyalakan api
membakar ambisi berbaju besi.
Hiduplah dengan bersih tanpa ada sirih;
kesakralan berdansa tandus dalam kesucian.
Luka di dada pecah seribu dalam kata.
perempuan yang ditulis dalam bisu
Wajahmu bening
menghalau awan yang tertahan di dada langit,
pelangi pun singgah
sejenak,
belajar warna darimu.
Hidungmu tajam seperti pisau tak bernama,
mengukir arah
di persimpangan nasib
yang ragu memilih pulang.
Senyummu mengembang
di dunia yang letih,
meninggalkan jejak manis
seperti kelapa muda
di kerongkongan ingatan.
Biarlah aromamu menyala
dalam sikap yang tak berpura,
api yang enggan padam
menyapa tatap
penuh harap dan pasrah.
Suaramu tawar,
namun justru di sanalah
penawar bekerja:
pada jiwa-jiwa rapuh
yang terbakar ilusi
dan kehilangan mimpi.
Tak ada yang tersisa
selain doa
dan harapan
yang mencoba menyatu
dalam diri yang retak.
Kutuliskan namamu
di ambang Arasy,
dengan ayat-ayat suci
sebagai saksi
dalam kebisuan paling jujur.
Isyaratmu terus menghantui:
perempuan
dalam lingkar keramat,
tanpa syarat,
menjadi mimpi
mutiara kelabu
yang abadi di paras rindu.
Tasbih di tanah gersang
Biji yang kutanam
di tanah gersang
layu oleh aroma
yang tak pernah punah—
bau luka,
bau penantian.
Bisikan-bisikan mengalir
di lorong rindu,
seakan maut menjemput
tanpa mengetuk pintu,
membiarkan waktu
menahan napasnya sendiri.
Pandangan meredup,
hidup terperangkap
dalam mimpi
yang enggan terbangun.
Tasbih terus kulantunkan
dengan khidmat,
menjadi payung cahaya
di jalan yang retak,
menuntun langkah
menuju rumah impian
yang dijanjikan abadi.
Api-api kembali dinyalakan,
membakar lemak diri—
sisa nafsu
yang enggan mati,
diiringi sholawat
yang bergetar dalam gelap.
Sebuah kata disimpan
sebagai saksi,
kelak di akhirat
ia akan berbicara,
membawa tangis
dalam rindu
yang tak sempat reda.
Melempar irama ke atas Arasy
pujian-pujian dilantunkan
hingga larut
dalam air kesadaran.
Suara menguap,
menjadi bisu,
kata kehilangan arah
namun kalimat-kalimat suci
menari
di lidah
yang tak bersuara.
Bibir bergetar
oleh irama penuh hikmat,
pantulan cahaya ilahi
dilemparkan kembali
ke dalam diri,
membenahi hati
yang lama berdebu.
Segalanya menyatu
napas, doa,
dan sunyi
yang paling jujur.
Hingga terucap
la ilaha illallah,
dan alam semesta
pun bersaksi
tanpa suara,
menyelimuti kata
dengan doa
yang tak pernah selesai.
Tangisan yang Menjelma Mimpi
Jantung-jantung bergetar
demi meraba bening
kutub kesadaran,
di balik kacamata waktu
yang tak lelah
menanam biji-biji
yang kautuangkan.
Mata berkijar,
tersimpan di lubuk dada,
sebagian menelusuri mimpi
yang dipenuhi cahaya
suara-suara menyala
di jiwa,
membakar
tanpa melukai.
Langkah demi langkah,
bisikan mengembara,
tak pernah padam,
sementara air doa
mengalir
tanpa meninggalkan bekas
selain tenang.
Hembusan napas
mengakhiri kata-kata,
menjadi imajinasi
yang berangan
tentang runtuhnya penghalang,
tentang diri
yang akhirnya tersapa.
Dalam iringan cahaya,
hanya satu mimpi menjelma:
tangisan yang tak terucap,
tersirat
dalam impian
yang belajar
pasrah.
Taufiq Hidayah Alumni MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura, aktivitas penulis di Pesantren Kutub Hasyim Asy’ari Yogykarta, juga seorang akademisi mahasiswa Studi Islam UIN Sunan Kalijaga. Ia aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII ) Rayon Pembebasan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam.
















