Puisi-puisi Taufiq Hidayah

Literasi, Puisi453 Dilihat
Puisi-puisi Taufiq Hidayah
Foto: Dokumen ejogja.ID
Kesakralan yang Menari di Tanah Tandus

Suara-suara menggigil

dalam hening yang retak,

kehangatan tak lagi menyelimuti

harapan pun patah

oleh bisikan

yang membunuh kata

dalam sunyi.

Musibah datang

tanpa lagi berputar-putar

mengitari peringatan.

Angin menghembus,

tangan terputus dari makna,

kaki memijak tanah

namun bertindak tanpa arah.

Langkah demi langkah,

kata-kata terukir tajam,

mengalirkan kekeringan

yang gugur

dan mudah diucapkan

tanpa rasa.

Celah pintu dirapatkan,

ditutup botol-botol lupa.

Aroma kesucian menguap

tanpa disadari,

terbawa arus

yang membelah impian

ke lautan misteri.

Alun-alun kota runtuh

bersama mimpi,

terbang tanpa sayap,

tergelincir luka,

gersang

tanpa rasa bersalah.

Ayat-ayat menyergap diri

berbau besi,

tajam dan dingin.

Namun dalam tulisan,

kesucian dihayati—

menjadi napas,

menjelma cahaya

yang tak padam.

Bersihkan debu,

tanamkan hati,

nyalakan api.

Bakar ambisi

berbaju besi.

Hiduplah bersih,

tanpa sirih kepura-puraan.

Kesakralan menari

di tanah tandus kesucian,

dan luka di dada

pecah seribu

menjadi kata.

“Kesucian yang Terluka di Ambang Sunyi”

Suara-suara yang menggigil dalam hening 

kehangatan yang tak lagi menyelimuti,

hingga harapan pun retak

penuh bisikan yang membunuh kata dalam sunyi.

Musibah telah tiba, tak lagi berputar mengelilingi.

 

Angin menghembus, tangan pun serasa putus;

kaki memijak, namun ragu dalam bertindak.

 

Langkah demi langkah, ukiran kata yang tajam

mengalir dalam kekeringan yang gugur dilantunkan,

begitu mudah terucapkan.

Rapatkanlah celah pada pintu,

tutupkan dengan botol yang kosong;

aroma kesucian hilang tanpa kesadaran,

terbawa arus,

membelah impian di lautan misteri.

 

Alun-alun kota runtuh bersama mimpi

terbang tanpa sayap, tergelincir dengan luka,

gersang tanpa rasa.

Ayat-ayat menyergap diri, berbau besi;

menghayati kesucian dalam tulisan,

jadilah ia nafas,

cahaya yang abadi.

 

Menyucikan debu, tanamkan hati, nyalakan api

membakar ambisi berbaju besi.

Hiduplah dengan bersih tanpa ada sirih;

kesakralan berdansa tandus dalam kesucian.

Luka di dada pecah seribu dalam kata.

perempuan yang ditulis dalam bisu

Wajahmu bening

menghalau awan yang tertahan di dada langit,

pelangi pun singgah

sejenak,

belajar warna darimu.

Hidungmu tajam seperti pisau tak bernama,

mengukir arah

di persimpangan nasib

yang ragu memilih pulang.

Senyummu mengembang

di dunia yang letih,

meninggalkan jejak manis

seperti kelapa muda

di kerongkongan ingatan.

Biarlah aromamu menyala

dalam sikap yang tak berpura,

api yang enggan padam

menyapa tatap

penuh harap dan pasrah.

Suaramu tawar,

namun justru di sanalah

penawar bekerja:

pada jiwa-jiwa rapuh

yang terbakar ilusi

dan kehilangan mimpi.

Tak ada yang tersisa

selain doa

dan harapan

yang mencoba menyatu

dalam diri yang retak.

Kutuliskan namamu

di ambang Arasy,

dengan ayat-ayat suci

sebagai saksi

dalam kebisuan paling jujur.

Isyaratmu terus menghantui:

perempuan

dalam lingkar keramat,

tanpa syarat,

menjadi mimpi

mutiara kelabu

yang abadi di paras rindu.

Tasbih di tanah gersang 

Biji yang kutanam

di tanah gersang

layu oleh aroma

yang tak pernah punah—

bau luka,

bau penantian.

Bisikan-bisikan mengalir

di lorong rindu,

seakan maut menjemput

tanpa mengetuk pintu,

membiarkan waktu

menahan napasnya sendiri.

Pandangan meredup,

hidup terperangkap

dalam mimpi

yang enggan terbangun.

Tasbih terus kulantunkan

dengan khidmat,

menjadi payung cahaya

di jalan yang retak,

menuntun langkah

menuju rumah impian

yang dijanjikan abadi.

Api-api kembali dinyalakan,

membakar lemak diri—

sisa nafsu

yang enggan mati,

diiringi sholawat

yang bergetar dalam gelap.

Sebuah kata disimpan

sebagai saksi,

kelak di akhirat

ia akan berbicara,

membawa tangis

dalam rindu

yang tak sempat reda.

 

Melempar irama ke atas Arasy

 

pujian-pujian dilantunkan

hingga larut

dalam air kesadaran.

Suara menguap,

menjadi bisu,

kata kehilangan arah

namun kalimat-kalimat suci

menari

di lidah

yang tak bersuara.

Bibir bergetar

oleh irama penuh hikmat,

pantulan cahaya ilahi

dilemparkan kembali

ke dalam diri,

membenahi hati

yang lama berdebu.

Segalanya menyatu

napas, doa,

dan sunyi

yang paling jujur.

Hingga terucap

la ilaha illallah,

dan alam semesta

pun bersaksi

tanpa suara,

menyelimuti kata

dengan doa

yang tak pernah selesai.

 

Tangisan yang Menjelma Mimpi

Jantung-jantung bergetar

demi meraba bening

kutub kesadaran,

di balik kacamata waktu

yang tak lelah

menanam biji-biji

yang kautuangkan.

Mata berkijar,

tersimpan di lubuk dada,

sebagian menelusuri mimpi

yang dipenuhi cahaya

suara-suara menyala

di jiwa,

membakar

tanpa melukai.

Langkah demi langkah,

bisikan mengembara,

tak pernah padam,

sementara air doa

mengalir

tanpa meninggalkan bekas

selain tenang.

Hembusan napas

mengakhiri kata-kata,

menjadi imajinasi

yang berangan

tentang runtuhnya penghalang,

tentang diri

yang akhirnya tersapa.

Dalam iringan cahaya,

hanya satu mimpi menjelma:

tangisan yang tak terucap,

tersirat

dalam impian

yang belajar

pasrah.

 

Taufiq Hidayah Alumni MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura, aktivitas penulis di Pesantren Kutub Hasyim Asy’ari Yogykarta, juga seorang akademisi mahasiswa Studi Islam UIN Sunan Kalijaga. Ia aktif dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII ) Rayon Pembebasan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *