Mengapa Pendidikan Kita Masih Dangkal?

Literasi, Opini389 Dilihat
Mengapa Pendidikan Kita Masih Dangkal?
Foto: Dokumen Antara/Auliya Rahman

Tarmidzi Ansory

Perkembangan pendidikan di Indonesia masih terkesan stagnan dan belum menunjukkan laju kemajuan yang signifikan, meskipun telah memasuki era globalisasi. Pada fase ini, hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan, dituntut berkelindan dengan pemanfaatan teknologi informasi. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi peserta didik masih berada pada tahap berkembang, bahkan cenderung mengalami kemunduran.

Jangan Lewati: Kuota Tergadai

Berdasarkan data PISA 2022, peringkat Indonesia dalam literasi membaca berada di posisi 70 dari 80 negara. Meskipun terdapat kenaikan peringkat dibanding periode sebelumnya, skor Indonesia masih berada di bawah rata-rata OECD. Menurut UNESCO hanya mencapai 0,001 persen, rendahnya minat baca menjadi persoalan fundamental dalam dunia pendidikan nasional. Di sisi lain, Rapor Pendidikan 2024 memang menunjukkan adanya peningkatan kompetensi minimum literasi dan numerasi siswa SD dan SMP secara bertahap. Namun, capaian tersebut belum cukup untuk menutup ketertinggalan yang ada.

Fenomena ini tentu mengundang keprihatinan, sebab menandakan kualitas pendidikan Indonesia masih jauh dari kata maju. Padahal, pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi bangsa yang cerdas, berkarakter, dan berperadaban. Ia sebagai bekal menuju visi Indonesia Emas 2045 yang dicanangkan pemerintah. Oleh karena itu, persoalan ini menjadi pekerjaan rumah bersama yang menuntut solusi serius dan berkelanjutan.

Jangan Lewati: 20 Persen APBN untuk Pendidikan, Tapi Guru-Dosen Masih ‘Gigit Jari’

Pertanyaan krusial kemudian muncul: apa yang menjadi penyebab lambannya kemajuan pendidikan nasional? Apakah pergantian kurikulum yang kerap terjadi seiring bergantinya kepemimpinan di Kementerian Pendidikan? Ataukah persoalan kesejahteraan pendidik yang hingga kini belum sepenuhnya terjamin? Berbagai faktor tersebut tentu saling berkaitan dan tidak dapat disederhanakan dalam satu penyebab tunggal.

Tulisan ini mengajak pembaca untuk menyoroti salah satu pendekatan pembelajaran yang belakangan dipraktikkan dalam dunia pendidikan, yakni deep learning. Dalam konteks pedagogis, deep learning dimaknai sebagai pendekatan pembelajaran transformatif yang menekankan pemahaman materi secara utuh, bukan sekadar hafalan. Pendekatan ini mendorong keterlibatan aktif peserta didik untuk berpikir kritis, mengaitkan berbagai konsep, serta mengaplikasikan pengetahuan dalam konteks nyata, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan.

Jangan Lewati: Pekerjaan Utama

Pembelajaran mendalam bertujuan mengembangkan potensi peserta didik secara holistik, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan demikian, pendekatan ini relevan sebagai upaya mempersiapkan peserta didik menghadapi tantangan masa depan. Ini sekaligus menjawab persoalan literasi dan numerasi yang masih menjadi pekerjaan besar pendidikan nasional.

Secara konseptual, deep learning hadir sebagai strategi pedagogis yang berorientasi pada pemahaman konseptual, kemampuan berpikir kritis, reflektif, serta keterkaitan lintas disiplin ilmu. Sejumlah praktik pendidikan menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran mendalam dapat meningkatkan efektivitas implementasi kurikulum yang berdampak di sekolah. Pendekatan ini kerap dikaji melalui studi kualitatif dengan metode studi kasus di sekolah-sekolah yang telah mengintegrasikan strategi deep learning dalam proses belajar mengajar.

Jangan Lewati: Visiting Professor – The Qur`an and Hadith with Their Own Cross-References

Berbagai temuan menunjukkan bahwa pembelajaran mendalam mampu meningkatkan partisipasi aktif siswa, memperkuat kemampuan reflektif, serta memperdalam pemahaman konsep lintas mata pelajaran. Di sisi lain, guru yang menerapkan pendekatan ini juga mengalami peningkatan kapasitas dalam merancang pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan berkelanjutan bagi pendidik. Ini agar mampu mengembangkan dan mengimplementasikan strategi deep learning secara optimal, sehingga kurikulum benar-benar berdampak dan dapat diserap secara efektif oleh peserta didik.

Di tengah degradasi kualitas pendidikan yang belum sepenuhnya menemukan titik terang, penerapan pembelajaran mendalam setidaknya dapat menjadi secercah harapan awal bagi upaya perbaikan dan kemajuan pendidikan nasional.

Tarmidzi Ansory, Pegiat Literasi mengabdi di SMA Al. Miftah dan Stidkis Al-Mardliyyah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *