Puasa Purba

Kabar, Serat919 Dilihat
puasa purba
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin

Kata sering menyimpan sejarah yang lebih panjang daripada praktik yang kita jalani. “Puasa”, misalnya, kini identik dengan menahan makan dan minum sejak fajar hingga matahari terbenam. Dalam kesadaran sehari-hari umat Islam, kususnya di Indonesia, puasa adalah ritual Ramadan yang sangat jelas batas-batasnya. Namun jika ditelusuri ke akar katanya, makna itu ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan. Jejak etimologinya membawa kita pada kata Sanskerta upavāsa, yang secara harfiah berarti “tinggal dekat” atau “mendekat”.

Dalam kamus klasik Sanskerta: Sanskrit–English Dictionary, istilah upavāsa dijelaskan sebagai praktik religious fasting atau laku asketis yang berkaitan dengan disiplin spiritual. Secara morfologis, kata ini tersusun dari upa (dekat) dan vāsa (berdiam atau tinggal). Makna harfiahnya: berdiam dekat. Ini menggambarkan keadaan spiritual ketika seseorang menyingkir dari rutinitas duniawi untuk mendekatkan diri kepada yang ilahi. Sedari awal, puasa bukan tentang lapar, melainkan perihal kedekatan spiritual.

Jejak Kata

Jejak kata ini menyeberang ke Nusantara melalui jalur budaya Hindu–Buddha. Dalam bahasa Jawa Kuno muncul bentuk upawāsa, yang kemudian mengalami penyederhanaan bunyi menjadi pasa atau posa (Jawa/Melayu). Proses ini terdokumentasi dalam kamus filologi penting karya Old Javanese–English Dictionary yang menunjukkan bahwa istilah tersebut memang dipakai dalam teks-teks Jawa Kuno dengan arti berpuasa atau menjalani laku asketis. Dari bentuk-bentuk inilah bahasa Melayu dan kemudian bahasa Indonesia mewarisi kata puasa.

Ketika Islam datang ke Nusantara, masyarakat Muslim tidak mengganti kata itu, melainkan menggunakannya sebagai padanan bagi istilah Arab shaum atau shiyam. Dalam literatur leksikografi Arab klasik seperti Lisan al-ʿArab, kata shaum dijelaskan sebagai al-imsak, yakni menahan diri atau mengekang diri dari sesuatu. Di syariat Islam, istilah ini merujuk pada menahan diri dari hal-hal yang membatalkan, seprti makan, minum, dan hubungan seksual sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat ibadah.

Dalam Al-Qur’an Surah Al‑Baqarah:183, puasa diwajibkan agar manusia mencapai takwa. Apa capaian ini? Kesadaran moral dan spiritual kepada Tuhan. Dengan demikian, dalam tradisi Islam sekalipun, puasa tidak semata-mata persoalan menahan lapar, tetapi sarana pembentukan kedisiplinan batin dan moral.

Makna Menyempit

Menariknya, jika dibandingkan secara konseptual, terdapat resonansi makna antara upavāsa dan shaum. upavāsa menekankan kedekatan dengan yang ilahi, sementara shaum menekankan pengekangan diri. Keduanya bertemu dalam gagasan yang sama: manusia perlu menertibkan tubuh dan keinginannya agar kehidupan spiritual dapat tumbuh.

Namun sejarah bahasa juga memperlihatkan penyempitan makna dalam praktik sosial sehari-hari. Puasa sering dipahami terutama sebagai aturan lahiriah: tidak makan, tidak minum, dan tidak merokok. Dimensi spiritual yang terkandung dalam akar kata maupun konsep teologisnya sering kali memudar.

Di sinilah etimologi memberi pelajaran reflektif. Jika akar kata puasa berarti “mendekat”, dan konsep shaum berarti “menahan diri”, maka puasa semestinya dipahami sebagai latihan moral untuk mendekat melalui pengendalian diri. Ia bukan sekadar pengalaman biologis menahan lapar, tetapi proses untuk mengurangi jarak antara manusia dan nilai-nilai ilahi: kejujuran, empati, kesederhanaan, dan keadilan.

Paradoksnya, dalam kehidupan sosial kita sering melihat kebalikan dari semangat itu. Selama Ramadan, intensitas ritual meningkat, tetapi tidak selalu diikuti peningkatan integritas publik. Korupsi, manipulasi, dan kekerasan tetap berlangsung. Puasa dijalani, tetapi jarak antara manusia dan nilai moral tidak selalu berkurang.

Karena itu, mengingat kembali asal-usul kata puasa bukan sekadar latihan linguistik. Ia merupakan undangan untuk menafsir ulang praktik religius kita sendiri. Bahasa mengingatkan bahwa inti puasa bukan hanya lapar, melainkan kedekatan. Dekat dengan Tuhan sekaligus dengan kemanusiaan orang lain. Jika makna purba itu dihidupkan kembali, puasa Ramadan tidak lagi sebatas kewajiban tahunan, melainkan disiplin spiritual yang sungguh-sungguh melahirkan insan min al-idin wa al-faizin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *