Zaman Edan

Kabar, Serat1390 Dilihat
zaman edan - maghfur mr
Foto: Istimewa

Maghfur M. Ramin

Ungkapan zaman edan kerap dilafalkan dengan nada getir, seolah ia hanyalah keluhan generasi tua terhadap dunia yang tak lagi ramah pada kebijaksanaan. Namun dalam pemikiran Ranggawarsita, istilah ini justru berfungsi sebagai alat baca kritis, bukan ratapan moral. Zaman edan menandai sebuah fase sejarah ketika tatanan sosial, politik, dan spiritual kehilangan keseimbangannya. Ia lahir bukan dari emosi sesaat, melainkan dari kepekaan etis terhadap perubahan zaman yang kian menjauh dari nilai.

Dalam Serat Kalatidha, Ranggawarsita memotret kondisi ketika nilai luhur tidak lagi menjadi penuntun, sementara kelicikan justru memperoleh legitimasi. Orang bijak tersisih, kejujuran dianggap naïf, dan kepatutan kalah oleh kecakapan memanipulasi keadaan. Gambaran ini tidak diarahkan pada kegilaan personal, melainkan pada krisis kolektif: masyarakat yang secara lahiriah tetap tertib, tetapi secara batiniah kehilangan kompas etik.

Karena itu, istilah edan dalam kerangka Ranggawarsita tidak menunjuk pada kegilaan psikologis. Ia lebih tepat dibaca sebagai kegilaan struktural, ketika sistem sosial secara bersama-sama membenarkan penyimpangan (Ricklefs, 2006). Hukum tetap berjalan, jabatan tetap terisi, ritual tetap dijalankan, tetapi semuanya terlepas dari ruh keadilan dan kebijaksanaan. Justru karena tampak normal, kegilaan semacam ini menjadi jauh lebih berbahaya.

Kegelisahan tersebut tidak lahir dalam ruang hampa sejarah. Jawa abad ke-19 berada dalam tekanan kolonial, pergeseran otoritas keraton, serta masuknya logika administrasi modern yang menggerus tata nilai lama (Ricklefs, 2006). Harmoni kosmis —yang selama ini menopang etika Jawa— mengalami guncangan mendasar. Dalam konteks inilah zaman edan tampil sebagai respons intelektual terhadap perubahan struktural yang merusak keseimbangan sosial dan makna hidup.

Ironi Bertahan

Kalimat “yen ora edan ora keduman” kemudian muncul sebagai simpul ironi. Kalimat ini kerap disalahpahami sebagai pembenaran untuk ikut larut dalam kegilaan. Padahal, dalam konteks keseluruhan Serat Kalatidha, ia merupakan pengakuan jujur atas dilema moral: antara mengikuti arus demi keselamatan atau bertahan pada nilai dengan risiko tersingkir. Ranggawarsita tidak sedang merayakan keedanan, namun menelanjangi sistem yang membuat integritas terasa seperti beban.

Di tengah kerusakan itu, Ranggawarsita tidak menawarkan revolusi terbuka, melainkan sikap batin: eling lan waspada. Eling berarti menjaga kesadaran agar tidak hanyut dalam pembusukan nilai; waspada berarti cermat membaca situasi tanpa kehilangan jarak kritis (Simuh, 1988). Sikap ini bukan pelarian dari realitas, melainkan strategi etis untuk tetap waras di tengah sistem yang keluar jalur.

Simuh menafsirkan sikap tersebut sebagai bagian dari tradisi mistik Islam Kejawen. Kritik sosial tidak diekspresikan melalui konfrontasi langsung, tetapi melalui keteguhan moral individu. Dalam horizon ini, perubahan tidak diharapkan datang secara instan dari luar, melainkan melalui pemeliharaan kesadaran etik agar kegilaan tidak sepenuhnya menguasai batin manusia.

Menjaga Nurani

Jika dibaca dari konteks zaman kita sekarang, relevansi zaman edan justru semakin terasa. Berbagai data sosial menunjukkan bahwa penyimpangan kini bukan sekadar perilaku individu, melainkan telah mengeras menjadi pola sistemik. Stagnasi Indeks Persepsi Korupsi, misalnya, mencerminkan bagaimana aturan dan prosedur tetap berjalan, tetapi keadilan sulit dirasakan dalam pengalaman sehari-hari. Bagi generasi muda yang dibesarkan dengan wacana meritokrasi dan transparansi, kondisi ini menghadirkan jurang antara ideal dan realitas.

Paradoks serupa muncul dalam hubungan generasi muda dengan institusi publik. Negara tetap hadir secara administratif, namun kepercayaan terhadap institusi politik dan hukum cenderung rapuh. Banyak anak muda merasa partisipasi mereka baru dianggap berarti ketika dimediasi oleh viralitas. Situasi ini mengulang persis gambaran Ranggawarsita tentang masyarakat yang tampak tertib, tetapi kehilangan orientasi etik yang hidup.

Media sosial mempercepat sekaligus memperdalam kegilaan tersebut. Informasi beredar tanpa henti, tetapi tidak selalu diiringi kebijaksanaan. Algoritma lebih mengganjar emosi daripada refleksi. Reaksi instan lebih dihargai daripada penilaian kritis. Zaman edan pun hadir bukan sebagai kekacauan terbuka, melainkan sebagai keteraturan semu yang perlahan mematikan daya nalar.

Dalam ranah ekonomi, kegilaan struktural itu terasa dalam ketidakpastian hidup generasi muda. Banyak lulusan perguruan tinggi terjebak dalam kondisi overqualified but underpaid, pekerjaan tidak tetap, dan keharusan memiliki side hustle demi bertahan. Merit tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan. Di titik ini, ironi “yen ora edan ora keduman” menemukan bentuknya yang paling aktual. Ini bukan sebagai pilihan etis bebas, melainkan sebagai tekanan sistemik.

Jalan Waras

Namun justru di sinilah nilai eling lan waspada menemukan artikulasinya yang baru. Bagi Gen Z, eling dapat dimaknai sebagai kesadaran kritis agar tidak larut dalam sinisme total, sementara waspada berarti literasi: kemampuan memilah informasi, membaca kepentingan di balik wacana, dan menolak normalisasi ketidakadilan. Sikap ini bukan apatisme. Bukan. Tetapi, sebuah perlawanan sunyi yang menjaga integritas diri.

Zaman edan berfungsi sebagai cermin etis. Ia mengingatkan bahwa krisis terdalam bukan semata runtuhnya institusi, melainkan tumpulnya kepekaan nurani (Simuh, 1988). Selama manusia masih merasa risih terhadap ketidakadilan, kemungkinan pembaruan tetap ada. Namun ketika kegilaan dianggap wajar dan kritik dipandang ancaman, maka zaman benar-benar kehilangan tujuan.

Ranggawarsita tidak menjanjikan kemenangan bagi orang bijak. Ia justru mengakui kemungkinan mereka kalah dan tersisih. Namun kebijaksanaan memiliki nilai intrinsik: menjaga manusia tetap utuh sebagai manusia. Menjadi waras di zaman edan mungkin tidak menguntungkan secara material, tetapi ia menyelamatkan makna hidup.

Zaman edan bukan konsep pesimistis, melainkan lensa reflektif lintas zaman. Ia menantang untuk terus bertanya: sejauh mana kita ikut edan demi bertahan, dan sejauh mana kita berani tetap waras meski harus menanggung risiko?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *