
Imam Nawawi bin ‘Athwi bin Jali
Pernahkah anda bertanya, mengapa monoteisme diperlukan, dan apa pula fungsi politeisme?
Agama yang diperkenalkan oleh manusia itu memiliki fungsi sosial-politis. Dan latar kehidupan sosial menentukan karakteristik sebuah agama.
Masyarakat yang jauh dari pusat kekuasaan rata-rata terbelakang, baik dari segi ekonomi, pendidikan, maupun prestasi kreatifitasnya.
Monoteisme adalah keyakinan yang tumbuh dan berakar dari masyarakat pinggiran yang jauh dari pusat kekuasaan. Monoteisme menjadi oase bagi masyarakat pinggiran ini.
Jangan Lewati: Kisah Lahirnya Kekuasaan dan Keyakinan: Kepentingan dan Imajinasi
Musuh bebuyutan monoteisme adalah politeisme, keyakinan yang dianut oleh masyarakat perkotaan yang lebih maju. Politeisme adalah agama para penguasa.
Mari kita mulai dari agama Abrahamik (Yahudi, Kristen dan Islam). Ketiganya adalah agama monoteistik, yang lahir dari tangan-tangan warga sipil.
Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa dan Nabi Muhammad adalah warga biasa, yang tidak punya kuasa, bahkan terusir dan tersingkir dari lingkaran para elite.
Berbeda dari agama monoteistik, politeisme adalah agama para bangsawan istana, diperkenalkan oleh orang-orang yang tumbuh berkembang di lingkungan penguasa.
Kita punya beberapa nama, di antaranya: Lao Tzu (pendiri Taoisme), yang konon disebut sebagai keturunan Dinasti Zhou, kadang juga diklaim sebagai leluhur Dinasti Tang.
Jangan Lewati: Kisah Lahirnya Kekuasaan dan Keyakinan: Agama Elite dan Agama Sipil
Di India, ada Rsi Wiyasa, leluhur Raja-raja Hastinapura; di Yunani ada Alexander The Great; di Mesir ada Sneferu; dan banyak penguasa-penguasa lain di berbagai peradaban yang mempraktikkan paganisme atau politeisme.
Politeisme dan monoteisme sebagai sebuah keyakinan mengalami evolusi, yang membuat keduanya bercampur baur dan sulit dipisahkan. Evolusi ini melahirkan bentuk baru, yaitu: “mono-politeisme”.
Misalnya, Raja Mesir bernama Akhenaten (1350 SM) mendeklarasikan dirinya sebagai satu-satunya tuhan, bukan salah satu tuhan. Ada juga Naram-Sin, Raja Akkadia (2250 SM).
Monopoliteisme ini seiring waktu mengalami “penghalusan”, menjadi lebih sopan. Raja diturunkan statusnya dari sebagai “Satu-satunya Tuhan” menjadi “Satu-satunya Bayangan Tuhan.”
Ada beberapa nama yang mengaku diri mereka sebagai bayangan Tuhan, di antaranya: Kaisar Romawi Augustus, Raja Inggris Henry VIII, dan Raja Perancis Louis VIII. Evolusi paling mutakhir dari monopoliteisme adalah Khalifatullah, seperti yang disandang Sultan HB I (namun segera dibatalkan pada masa HB X).
Jangan Lewati: 58,26 Persen, Mayoritas Guru PAI SD Belum Fasih Membaca Al-Qur’an
Perkembangan politeisme menjadi monopoliteisme di lingkungan penguasa, ternyata menarik minat orang-orang sipil. Mereka yang tidak memiliki kekuasaan ingin mengangkat derajat dirinya sendiri.
Ada beberapa nama, di antaranya: Alan John Miller yang mengaku reinkarnasi Yesus; Hong Xiuquan yang mengaku saudara Yesus Kristus dan memiliki pemberontakan; Apollo Quiboloy, David Owuori, Paul Sayangore, dan lainnya. Mereka dengan berani menyampaikan keyakinannya.
Ada juga yang malu-malu kucing seperti Lia Eden, Mustopa, Abdul Muhjib, Gus Jari bin Supardi, Mangapin Sibuea, Zikrullah, Ahmad Musaddeq, Sutarmin, Rochmad, Parmin, Dedi Mulyana, Ashriyanti Samuda, dan Sri Hartatik. Mereka warga sipil yang tidak memiliki kekuasaan politik apapun.
SOCIAL MONO-POLYTHEISM
Mengapa politeisme masih menarik bagi sebagian penganut monoteisme? Jawabannya karena monopoliteisme memberi harapan dan menumbuhkan semangat bagi jiwa-jiwa yang kalah. Orang-orang terpinggirkan ingin mendapatkan sedikit kesempatan untuk berkuasa.
Monopoliteisme memang memberikan legitimasi politis bagi pemeluknya. Ia bisa menggunakan otoritas ilahiahnya untuk menjaring pengikut, membuka kran ekonomi baru, memobilisir massa, bahkan memimpin gerakan pemberontakan. Salah satunya dicontohkan oleh Hong Xiuquan yang memimpin pemberontakan Taiping dari tahun 1850 sampai 1864.
Di era klasik, dimensi pemberontakan monopoliteisme ini dicontohkan oleh orang-orang sipil yang mengaku diri mereka sebagai nabi, seperti Musailamah, Sajah binti Harits, Aswad al-Ansi, dan Tulaihah al-Asadi. Mereka warga sipil yang memberontak pada penguasa.
POLITICAL MONO-POLYTHEISM
Monopoliteisme di tangan penguasa menjadi berbeda dari apa yang di tangan warga sipil. Penguasa menjadikannya sebagai instrumen transaksi. Orang-orang Makkah pada abad ke-7 M mengubah Ka’bah menjadi situs suci bagi dewa-dewa. Terdapat sekitar 360 berhala yang ditempatkan di sekeliling Ka’bah.
Namun, orang-orang bukan penganut politeisme, melainkan monopoliteisme. Itu diabadikan dalam al-Quran yang mengutip pandangan keimanan orang-orang Makkah: “Kami tidak menyembah mereka (360 berhala) melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya,” (Qs.Az Zumar:3).
Orang-orang Arab berkepentingan dengan dewa-dewa yang banyak itu. Mereka ingin menjaga muka di hadapan para peziarah yang datang dari segala penjuru, yang kemudian menitipkan tuhan-tuhan sesembahan mereka di Ka’bah. Orang-orang yang menguasai Ka’bah kala itu menjadikan monopoliteisme sebagai media transaksi politis yang bernilai ekonomis.
Jangan Lewati: Kisah Lahirnya Kekuasaan dan Keyakinan: Kepentingan dan Imajinasi
Di India, konsep Trimurti (Brahma, Wisnu, Siwa) juga menjadi konsep yang mempertemukan kepentingan bangsa Dravida dan bangsa Arya. Bangsa Arya sebagai pendatang lebih menyembah Brahma dan Wisnu, sementara bangsa Dravida sebagai penduduk pribumi menyembah Siwa. (Bersambung)
Imam Nawawi bin ‘Athwi bin Jali, Dosen Sejarah Universitas Syeikh Nawawi Banten.
















