Jejak Baru Perguruan Tinggi dalam Menjawab Gizi Bangsa

Kabar, Nasional544 Dilihat
Jejak Baru Perguruan Tinggi dalam Menjawab Gizi Bangsa
Foto: Kepala BGN Dadan Hindayana saat menghadiri U25 Leader Forum di Universitas Hasanuddin, Makassar, Selasa (28/4/2026). Dok. Nurul Hidayah.

ejogja.ID | Yogyakarta – Aroma masakan hangat belum sepenuhnya menguar dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Namun, gagasan besar sudah lebih dulu terasa: kampus tak lagi sekadar ruang belajar, melainkan juga ruang produksi, bahkan hingga ke urusan pangan.

Jangan Lewati: Makan Racun

Di tengah dorongan program Makan Bergizi Gratis (MBG), perguruan tinggi kini diajak melangkah lebih jauh. Bukan hanya mendidik, tetapi juga memberi makan. Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, melihat peluang besar yang selama ini mungkin luput disadari banyak kampus.

“Saya kira kampus perlu memahami ini, karena ini peluang besar. Minimal punya satu SPPG dulu, dan kalau bisa pasokannya berasal dari civitas akademika sendiri,” ujarnya.

Pernyataan itu bukan sekadar imbauan. Ia adalah undangan untuk membangun ekosistem baru. Ruang kelas terhubung langsung dengan ladang, kandang, hingga dapur produksi.

Kampus yang Mulai Bergerak

Langkah itu bukan tanpa contoh. Beberapa perguruan tinggi telah lebih dulu memulai. Universitas Hasanuddin, misalnya, baru saja meresmikan SPPG, menjadi pelopor di kawasan Indonesia Timur. Sebelumnya, IPB University dan sejumlah kampus swasta telah lebih dulu menjalankan model serupa.

Jangan Lewati: Lailatul Qadr

“Di IPB sudah ada, di beberapa perguruan tinggi swasta sudah ada, tapi yang pertama di PTN di Indonesia Timur, Unhas selalu leading dalam hal tersebut,” kata Dadan.

Di balik peresmian itu, ada kerja panjang yang tidak sederhana. SPPG bukan hanya dapur besar, melainkan simpul dari rantai produksi pangan yang kompleks.

Dari Lahan hingga Telur di Piring

Untuk menghadirkan satu SPPG yang mandiri, dibutuhkan lebih dari sekadar bangunan dan tenaga kerja. Ada hitungan yang konkret, bahkan terkesan ambisius.

Bayangkan, satu unit SPPG memerlukan sekitar delapan hektare lahan untuk produksi beras. Jagung untuk pakan ternak membutuhkan hampir dua puluh hektare. Belum lagi ribuan ayam petelur yang harus dipelihara.

“Kalau ingin telurnya dipasok sendiri, maka harus ada sekitar 3.700 sampai 4.000 ayam petelur untuk satu SPPG,” jelas Dadan.

Angka-angka itu menggambarkan satu hal: kemandirian pangan di kampus bukan proyek kecil. Ia adalah sistem yang harus dibangun dari hulu ke hilir.

Praktik Nyata

Di sinilah peran mahasiswa menemukan bentuk barunya. Mereka tak lagi hanya mempelajari teori di ruang kuliah, tetapi juga bisa terlibat langsung dalam praktik nyata: menanam, memelihara, mengelola distribusi, hingga melakukan riset pangan.

SPPG menjadi semacam laboratorium hidup. Tempat di mana ilmu pertanian, peternakan, teknologi pangan, hingga manajemen bertemu dalam satu alur kerja yang nyata.

Jangan Lewati: Berpikir Jernih

“Karena teknologi, SDM dan inovasi-inovasi yang dimiliki perguruan tinggi saya kira akan banyak manfaatnya untuk program makan bergizi…” ujar Dadan.

Belajar tidak lagi berhenti pada ujian tertulis. Ia hadir dalam proses yang bisa disentuh, dilihat, dan dirasakan dampaknya.

Lebih dari Sekadar Memberi Makan

Namun, SPPG tidak berhenti pada fungsi pemenuhan gizi. Ia membuka ruang kolaborasi yang lebih luas. Petani lokal, peternak, hingga pelaku UMKM bisa menjadi bagian dari ekosistem ini.

Kampus, dalam konteks ini, berubah menjadi “offtaker”, penyerap utama produk lokal yang sebelumnya mungkin kesulitan mendapatkan pasar yang stabil.

“SPPG ini menjadi offtaker terdepan bagi produk-produk lokal. Jadi, bukan hanya soal memberi makan, melainkan juga menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan,” ujarnya. Dikutip dari detik.com.

Di titik ini, SPPG bukan sekadar program. Ia adalah jembatan antara pendidikan dan kehidupan nyata, antara teori dan kebutuhan dasar manusia.

Jangan Lewati: Mobil Putih

Apa yang dimulai dari dapur kampus ini perlahan membentuk arah baru bagi pendidikan tinggi. Bahwa kampus tidak harus selalu berada di menara gading. Ia bisa turun, menyentuh persoalan paling mendasar: pangan, gizi, dan keberlanjutan hidup. Dan mungkin, di sanalah letak makna baru pendidikan, tetapi juga memberi makan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *