
ejogja.ID | 20 April 2026, udara di Kelurahan Giricahyo, Kapanewon Purwosari, Gunungkidul, terasa hidup. Di tengah lanskap karst yang khas, warga berkumpul dalam sebuah pelatihan yang tak sekadar bicara soal lingkungan, tetapi juga masa depan ekonomi desa. Dari perangkat kelurahan, tokoh agama, pamong, hingga para pelajar, semua hadir dalam satu tujuan: memahami bagaimana bumi yang mereka pijak bisa menjadi sumber penghidupan berkelanjutan.
Jangan Lewati: Puasa Purba
Tema yang diusung terdengar ambisius: Lokomotif Ekonomi Sirkular Karbon Terpadu, Hub Edu-Wisata Internasional DIY, dan Resiliensi Rahim Bumi. Namun, di balik istilah besar itu, tersimpan gagasan sederhana: merawat alam, menanam pohon, dan menghubungkannya dengan peluang global.
Dari Filosofi Jawa ke Ekonomi Karbon
Farsijana Adeney-Rsiakotta membuka sesi dengan refleksi yang membumi. Ia mengingatkan bahwa dalam filsafat Jawa, perubahan tidak pernah dipaksakan. “Perkembangan itu mengikuti kehendak alam, tidak perlu terburu-buru,” ujarnya.
Gagasan ini bukan hal baru di Giricahyo. Sepuluh tahun lalu, gerakan Griya Jati Rasa mulai dirintis. Perlahan, ia tumbuh, berakar di masyarakat, dan kini mulai menampakkan buahnya. Bersama UKDW dan IIQ An Nur Yogyakarta, gerakan ini mengembangkan penanaman pohon nyamplung. Tanaman pesisir yang kini dilihat sebagai “aset karbon”.
Jangan Lewati: Kuota Tergadai
Yang menarik, setiap pohon dirancang memiliki identitas digital melalui barcode, memungkinkan jejak karbonnya ditelusuri. Di masa depan, bahkan direncanakan kios khusus di Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) untuk transaksi karbon. Ini sebuah jembatan antara petani desa dan pasar global.
Kenapa Giricahyo? Sebab potensi karst dan hutan rakyat menjadikan wilayah ini sebagai penyerap karbon alami. Di sisi lain, hadirnya Jalur Lintas Selatan (JLS) membuka akses ekonomi yang lebih luas. Di sinilah paradoks muncul: antara keterbatasan ekonomi petani dan peluang besar pasar karbon dunia.
Menanam sebagai Ibadah
Perspektif berbeda datang dari Dr. Ahmad Sihabul Millah, M.A, Rektor IIQ An Nur Yogyakarta. Ia membawa diskusi ke ranah spiritual melalui konsep fiqh biah (fikih lingkungan).
“Iklim memang benar-benar berubah,” katanya tegas.
Ia mengingatkan bahwa dalam tradisi Islam, menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban. Pada masa Nabi Muhammad SAW, pohon tidak boleh ditebang sembarangan. Bahkan, konsep hima (kawasan lindung) sudah dikenal sebagai bentuk konservasi.
“Menanam itu ibadah sekaligus sedekah,” ujarnya. “Buahnya sedekah, oksigennya juga sedekah.”
Dalam pandangannya, menolak menanam berarti menggantungkan hidup pada orang lain yang menjaga alam. Sebaliknya, setiap pohon yang ditanam menjadi amal jariyah yang terus mengalir selama memberi manfaat.
Ekowisata dan Mimpi Desa
Dimensi ekonomi lain muncul dari paparan Kisworo dari UKDW. Ia mengaitkan gerakan karbon dengan tren wisata global yang terus berubah. Wisatawan kini tak lagi sekadar mencari pemandangan, tetapi pengalaman.
Data yang ia paparkan menunjukkan:
- 58,97% wisatawan menginginkan pengalaman budaya yang mendalam
- 56,41% tertarik pada wisata kesehatan dan kebugaran
- 46,15% memilih wisata ramah lingkungan dan berkelanjutan
Giricahyo, dengan segala potensinya, berada di titik temu ketiga tren itu. Dari sinilah lahir mimpi tentang Desa Wisata Argokencono. Ruang di mana alam, budaya, dan keberlanjutan bertemu. Di desa ini, pohon bukan sekadar tanaman. Ia menjadi simbol ekonomi, budaya, sekaligus spiritualitas.
Dari Bibit ke Harapan
Harapan itu dimulai dari hal kecil. Bibit. Haris Kusnadi dari PT Pandu menjelaskan teknik pembibitan nyamplung dengan rinci. Bibit unggul, katanya, bisa berbuah dalam 2–3 tahun, jauh lebih cepat dibandingkan varietas lokal yang membutuhkan 5–7 tahun.
Dalam 21 hari, tunas mulai muncul. Setelah 3–4 bulan, bibit sudah cukup kuat untuk ditanam di lahan terbuka. Perawatan pun relatif sederhana, termasuk penyemprotan pestisida untuk mengantisipasi hama.
Jangan Lewati: IIQ An Nur Jogja dan Yayasan Griya Jati Rasa Gelar Deklarasi dan Penanaman 500 Pohon di Hari Bumi
Di balik penjelasan teknis itu, terselip optimisme: bahwa setiap bibit yang ditanam hari ini adalah investasi jangka panjang, baik bagi petani, bagi desa, maupun bagi bumi.
Pelatihan di Giricahyo bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah upaya merangkai masa depan: menghubungkan filosofi lokal, ajaran agama, inovasi teknologi, dan peluang ekonomi global.
Di tengah ancaman krisis iklim, desa kecil ini menawarkan narasi berbeda. Bahwa solusi tidak selalu datang dari kota besar atau forum internasional. Kadang, ia tumbuh dari tangan-tangan petani, dari akar pohon yang ditanam dengan sabar, dan dari keyakinan bahwa merawat bumi adalah bagian dari merawat kehidupan itu sendiri.
Giricahyo sedang bergerak pelan, seperti filosofi Jawa yang diyakininya, namun pasti. Dari karst yang kering, ia menumbuhkan harapan hijau yang menjangkau dunia. [nw]
















