
ejogja.ID | Pagi itu, 5 Desember 2025, halaman SMA Negeri 11 Yogyakarta terasa berbeda. Hawa sejuk setelah hujan semalam masih menggantung, namun para siswa telah berkumpul lebih awal dari biasanya. Di tengah mereka, sebuah kotak donasi sederhana—tak lebih dari kardus yang dilapisi kertas putih—menjadi pusat perhatian. Dari kotak kecil itulah, gelombang kepedulian lahir: Rp8.300.000, hasil uluran tangan para pelajar untuk korban banjir di Sumatra.
Jangan Lewati: Banjir Serakah
Donasi itu secara simbolis diserahkan kepada BAZNAS Kota Yogyakarta, lembaga yang sejak awal pekan membuka penggalangan bantuan untuk warga terdampak banjir besar di Aceh dan sejumlah wilayah Sumatra. Hujan ekstrem yang turun berturut-turut telah membuat ribuan rumah terendam, akses jalan tertutup lumpur, dan banyak keluarga mesti meninggalkan rumah dalam keadaan terburu-buru.
Namun di Yogyakarta, ribuan kilometer jauhnya dari lokasi bencana, kepedihan itu menemukan gema di ruang-ruang kelas SMA Negeri 11.
Kepedulian yang Tumbuh dari Kelas-Kelas Biasa
“Awalnya cuma ajakan kecil di grup kelas,” kata salah satu anggota OSIS yang terlibat dalam penggalangan dana. Ajakan itu kemudian menyebar ke setiap sudut sekolah: dari bangku-bangku kelas, kantin, hingga halaman tempat para siswa biasa bercengkerama saat istirahat.
Hari demi hari, angka yang terkumpul perlahan naik. Ada yang menyisihkan uang jajan, ada yang menabung lebih cepat, dan ada pula yang mengajak teman-temannya untuk ikut serta. Tidak ada paksaan, hanya semangat saling membantu.
Jangan Lewati: Mendengar Bumi: Kurikulum Ekoteologi dan Wahabi Lingkungan
Ketika donasi selesai dihitung, guru-guru tak menyangka jumlahnya mencapai lebih dari delapan juta rupiah. “Besarnya bukan hanya pada angka, tetapi pada keikhlasan,” ujar kepala sekolah dalam sambutannya saat penyerahan.
BAZNAS: Jembatan dari Yogya ke Sumatra
Perwakilan BAZNAS Kota Yogyakarta yang datang menerima donasi tampak terharu. Mereka menjelaskan bagaimana meneruskan bantuan tersebut kepada para penyintas banjir. Keluarga yang kehilangan rumah, anak-anak yang sekolahnya terendam, dan warga yang kini bergantung pada dapur umum serta bantuan logistik.
BAZNAS sendiri sejak awal telah menurunkan tim untuk membantu evakuasi, menyiapkan makanan siap saji, mendirikan pos layanan kesehatan, dan menangani kebutuhan utama para pengungsi. Donasi dari siswa SMA Negeri 11 akan memperkuat rantai bantuan itu—menjadi jembatan empati dari Yogyakarta menuju Sumatra.
Pelajaran yang Tak Ada di Buku Teks
Di akhir acara, suasana sekolah kembali normal. Bel masuk berbunyi, siswa bergegas menuju kelas masing-masing. Namun pagi itu meninggalkan sesuatu yang berbeda. Ini sebuah pelajaran yang tak tertulis dalam kurikulum mana pun: bahwa sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang tumbuhnya kepedulian sosial.
Jangan Lewati: PKBM dan Masa Depan Belajar: Ketika Budi Pekerti Menjadi Kompas di Tengah Derasnya Zaman
Para siswa pulang dengan perasaan ringan, seolah mereka telah melakukan sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. “Semoga bantuan ini sampai kepada yang membutuhkan,” ujar salah satu siswa sebelum kembali ke kelas.
Dan begitulah, dari sebuah kotak donasi di sudut sekolah, tumbuhlah sebuah cerita tentang solidaritas, tentang anak-anak muda yang memilih tidak tinggal diam ketika saudara sebangsanya sedang berduka.
Di tengah bencana yang terjadi di Sumatra, mereka menunjukkan bahwa kebaikan tetap punya cara untuk menemukan jalannya.
Mau ngiklan di ejogja.ID? Klik: Pasang Iklan



















