PKBM dan Masa Depan Belajar: Ketika Budi Pekerti Menjadi Kompas di Tengah Derasnya Zaman

Jogja, Kabar895 Dilihat
PKBM dan Masa Depan Belajar: Ketika Budi Pekerti Menjadi Kompas di Tengah Derasnya Zaman
Foto: Pelaksanaan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Reksonegaran pada Jumat, 28/11/2025.

ejogja.ID | Yogyakarta – Di sebuah ruang sederhana di PKBM Reksonegaran, Jumat, 28/11/2025, beberapa peserta didik tampak khusyuk memandangi layar laptop. Ada yang baru belajar mengetik sepuluh jari, ada yang memoles presentasi, ada pula yang sibuk mempersiapkan tugas kewirausahaan. Usia mereka beragam—remaja, pekerja muda, hingga ibu rumah tangga. Tidak ada seragam. Tidak ada bel masuk. Yang ada hanyalah semangat untuk belajar.

Jangan Lewati: Ritual Administratif

Di tengah suasana cair dan egaliter itu, Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, datang berkunjung. Ia tidak datang sebagai pejabat yang harus disambut formal, melainkan seperti tamu yang ingin merasakan denyut pendidikan nonformal yang kini kian mendapat tempat di masyarakat. Wawan berjalan pelan, menyapa satu per satu, bertanya apa yang sedang mereka pelajari, dan sesekali tersenyum ketika melihat antusiasme warga belajar.

“Pendidikan itu tidak lagi mengenal sekat. Kita bisa belajar di mana saja, kapan saja, sesuai kebutuhan kita,” ujarnya kemudian dalam sesi dialog singkat.

Ungkapan itu bukan sekadar kalimat manis. PKBM Reksonegaran adalah salah satu bukti bagaimana pendidikan berbasis kebutuhan (need-based learning) tumbuh subur di Yogyakarta. Di tempat ini, siapa pun bisa mengambil program Paket A, B, atau C sebagai jalur pendidikan kesetaraan. Namun lebih dari itu, mereka mendapat bekal keterampilan hidup: komputer dasar, seni, public speaking, olahraga, hingga kelas-kelas yang tumbuh dari minat warganya sendiri.

Jangan Lewati: Menemukan Empati di Antara Dua Buku: Kisah Ryan dan Tafsir Keragaman

Fleksibilitas menjadi keunggulan utama PKBM—sesuatu yang tidak selalu bisa ditawarkan sekolah formal. Para peserta didik yang bekerja, berdagang, atau mengurus anak tetap bisa belajar tanpa terikat jam.

Namun bagi Wawan, ada hal lain yang lebih penting dari itu semua.

“Prestasi itu penting. Tapi budi pekerti dan unggah-ungguh jauh lebih penting. Itu yang membuat kita tetap menjadi manusia Yogyakarta,” tegasnya.

Nada suaranya mengandung kekhawatiran. Ia melihat fenomena bahwa kecakapan teknologi tidak selalu diikuti kecakapan moral. “Jangan sampai kita hebat main gawai, tetapi tidak bisa menghormati orang tua,” ujarnya, disambut anggukan para tutor.

Di ruang PKBM yang hangat itu, nilai-nilai ini tidak diajarkan sebagai teori. Ia hidup dalam praktik: cara tutor berbicara lembut, cara peserta didik berbeda usia saling membantu, cara pengelola PKBM memperlakukan semua orang dengan hormat. Pendidikan karakter menjelma menjadi budaya belajar, bukan materi kurikulum.

Jangan Lewati: IIQ An Nur Yogyakarta Sambut Asesmen Lapangan Akreditasi LAMDIK untuk Prodi PGMI

Dalam kunjungannya, Wawan menilai PKBM sebagai salah satu model pendidikan masa depan—lebih lentur, lebih manusiawi, dan lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Di tengah derasnya arus teknologi dan kecerdasan buatan, PKBM hadir sebagai jangkar yang menjaga manusia tetap terhubung dengan nilai-nilai luhur.

Saat rombongan bersiap meninggalkan lokasi, beberapa peserta didik melanjutkan kegiatan mereka. Seorang remaja kembali mengetik tugasnya. Seorang ibu mempraktikkan presentasi kecil. Mereka tidak menunggu bel pulang—karena belajar di sini bukan kewajiban, melainkan pilihan. Dan dari pilihan-pilihan seperti inilah, harapan baru tentang wajah pendidikan Indonesia perlahan tumbuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *