Menemukan Empati di Antara Dua Buku: Kisah Ryan dan Tafsir Keragaman

Esai, Literasi652 Dilihat
Menemukan Empati di Antara Dua Buku Kisah Ryan dan Tafsir Keragaman
Foto: Istimewa

Mukaromatul Munawaroh

Novel-novel Brian Khrisna selalu berhasil membuka perspektif baru bagi saya. Ia menyuguhkan dunia yang selama ini dianggap tabu—dunia yang sering dipandang sebelah mata dan dilekatkan dengan stigma sebagai “dunia para pendosa”: pencurian, pelacuran, narkoba, judi online, klub malam, dan seks bebas. Kita biasanya menghakimi para pelakunya sebagai orang yang hanya mengejar kesenangan duniawi tanpa memedulikan nilai agama. Namun, satu hal yang sering luput: kita jarang melihat lika-liku hidup mereka. Kita sibuk menilai tampilan luar tanpa mau memahami pergulatan batin yang mereka jalani.

Jangan Lewati: Era Ketergesaan

Dari sekian banyak novel Brian, This Is Why I Need You adalah salah satu yang paling membekas. Novel ini berkisah tentang Ryan Priandra Putra, anak seorang tentara yang mengalami gender dysphoria—kondisi ketika identitas gender tidak selaras dengan jenis kelamin biologis. Sejak remaja Ryan merasa jiwanya adalah perempuan, meski terlahir sebagai laki-laki. Ketika ia mengaku kepada ibunya, sang ibu menerimanya dalam tangis, sedangkan ayahnya menolak mentah-mentah dan bahkan mengusirnya. Setelah itu, Ryan harus menghadapi penolakan, cemoohan, dan kekerasan dari banyak pihak. Ia berusaha “menyembuhkan” diri, tetapi tidak menemukan ketenangan, sampai akhirnya ia bertemu seorang perempuan yang menerimanya apa adanya. Ini membuat dirinya tidak sembuh total, tetapi berubah “berpuluh persen” ke arah yang lebih baik.

Membaca kisah Ryan membuat saya mengubah cara pandang terhadap gender dysphoria. Jika sebelumnya saya menganggap transgender sebagai sesuatu yang “aneh” atau menyimpang. Perlahan tumbuh kesadaran bahwa kondisi ini mungkin adalah bawaan sejak lahir. Sebuah ketetapan Tuhan yang tidak dipilih oleh manusia. Namun di sinilah muncul pertanyaan besar: jika gender dysphoria merupakan sesuatu yang melekat sejak lahir, bagaimana Islam sebagai agama rahmatan lil alamin memandangnya?

Jangan Lewati: IIQ An Nur Yogyakarta Sambut Asesmen Lapangan Akreditasi LAMDIK untuk Prodi PGMI

Pertanyaan itu menemukan jawaban awal ketika saya membaca Queer Menafsir karya Amar Alfikar, seorang transpria berlatar pesantren. Amar mengkritik pandangan yang memaksa transgender kembali ke “fitrah biologis”. Baginya, tuntutan semacam itu justru mendorong mereka untuk membohongi diri sendiri. Jika kondisi itu adalah pemberian Tuhan, mengapa manusia harus menolaknya? Dalam bukunya, Amar mengutip penafsiran sebagian mufassir terhadap QS. Al-Hujurat:13 bahwa “laki-laki dan perempuan” merujuk pada Adam dan Hawa sebagai nenek moyang manusia, bukan sebagai batasan bahwa Allah hanya menciptakan dua bentuk gender yang kaku. Ayat itu justru menekankan prinsip ta’aruf—agar manusia saling mengenal dan menghargai keragaman ciptaan Tuhan, termasuk keragaman identitas gender.

Amar juga merujuk pada kajian Khoirul Anwar mengenai keberadaan transpuan pada masa Nabi. Mereka diperlakukan setara dengan perempuan dan boleh masuk ke ruang domestik perempuan. Larangan muncul bukan pada identitasnya, tetapi pada perilaku tertentu yang tidak pantas. Artinya, masalahnya di tindakan bukan keberadaan identitas gender itu sendiri.

Jangan Lewati: Guru Seni Metro Belajar Musik Tradisi Lampung

Realitas sosial hari ini menunjukkan betapa pengidap gender dysphoria masih sering mendapat hinaan dan tuduhan ahli neraka. Padahal penelitian menunjukkan gender dysphoria merupakan kondisi multifaktor yang melibatkan aspek genetika, neurobiologi, hormonal, dan psikologis, meski hubungannya belum sepenuhnya dipahami (Perrotta, 2021). Stigma justru memperparah kondisi mereka: membuat mereka membenci diri sendiri, depresi, bahkan ada yang menjauh dari agama karena merasa Tuhan tidak pernah menerima mereka.

Fenomena ini ironis bagi agama yang rahmatan lil alamin. Jika penolakan membuat hidup seseorang penuh luka, bukankah itu bertentangan dengan nilai kasih dan keselamatan yang ada dalam Islam? Amar mengingatkan bahwa menutup pintu tafsir justru berisiko mereduksi kemahakuasaan Allah sebagai Pencipta segala keragaman.

Jangan Lewati: Lagi Penat?

Setelah membaca Queer Menafsir, saya semakin memahami bahwa transgender adalah manusia yang juga membutuhkan ruang untuk hidup dengan martabat. Mereka layak dihargai tanpa stigma. Namun, ketika saya berhadapan dengan seorang teman yang tampaknya mengalami gender dysphoria, saya kembali ragu. Apakah ia benar demikian sejak lahir? Atau hanya dipengaruhi lingkungan? Dari kebingungan ini, saya belajar bahwa menerima keberagaman bukan hal mudah. Lingkungan yang heteronormatif membentuk cara pikir kita, kadang tanpa kita sadari.

Saya kembali pada pesan inti dari karya-karya Brian Khrisna: kita tidak pernah tahu pergolakan batin seseorang. Entah transgender itu fitrah atau bukan, tugas kita bukan menghakimi, melainkan menghargai. Menghakimi hanya menambah luka; menghargai membuka jalan menuju empati. Dan barangkali, empati itulah yang membuat kita lebih manusiawi. 

Mukaromatul Munawaroh, Mahasiswa IIQ An Nur Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *