
ejogja.ID | Kulon Progo – Suasana menjelang tahun ajaran baru biasanya identik dengan ramainya aktivitas pendaftaran peserta didik. Namun, pemandangan berbeda muncul di SMP Negeri 4 Pengasih, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih, Kabupaten Kulon Progo. Hingga Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026/2027 berakhir, sekolah ini hanya menerima lima calon murid baru.
Jangan Lewati: Cabul Intelektual
Dari lima pendaftar tersebut, baru tiga siswa yang melakukan daftar ulang dan memastikan diri bergabung dengan keluarga besar SMPN 4 Pengasih. Jumlah itu menjadi yang terendah dalam beberapa tahun terakhir sekaligus menambah daftar sekolah negeri di wilayah pinggiran yang menghadapi krisis peserta didik.
Dilansir dari tribunjogja, kepala SMPN 4 Pengasih, Rahmi Atiningrum, mengaku prihatin melihat kondisi tersebut. Menurutnya, jumlah murid baru tahun ini turun sangat drastis dibandingkan tahun sebelumnya.
“Menurut hasil SPMB dari semua jalur hanya ada lima pendaftar, sedangkan yang melakukan daftar ulang baru tiga pelajar,” ujar Rahmi, Jumat (3/7/2026).
Sistem Rayon dan Kondisi Geografis Memengaruhi Minat Siswa
Jumlah murid baru tahun ini berbanding terbalik dengan kondisi beberapa tahun terakhir. Saat ini, sebanyak 22 siswa menempati kelas VIII dalam satu rombongan belajar, sedangkan 29 siswa belajar di kelas IX. Pada tahun ajaran ini, SMPN 4 Pengasih juga meluluskan 48 siswa yang terbagi ke dalam dua rombongan belajar.
Rahmi menilai mekanisme rayon dalam SPMB menjadi salah satu penyebab utama merosotnya jumlah pendaftar karena sistem tersebut membatasi pilihan sekolah berdasarkan jarak dan wilayah administratif.
Di Kalurahan Sidomulyo terdapat dua sekolah negeri, yakni SMPN 3 Pengasih dan SMPN 4 Pengasih. Mayoritas calon siswa lebih memilih SMPN 3 Pengasih karena lokasinya lebih mudah dijangkau dan berada di pusat aktivitas masyarakat.
Jangan Lewati: Guru Gunungkidul “Naik Kelas” Lewat Bimtek Literasi, Numerasi, dan Sains
Sebaliknya, SMPN 4 Pengasih berada di kawasan dengan medan yang lebih sulit dan relatif jauh dari pusat keramaian. Kondisi geografis itu membuat banyak calon siswa tidak menjadikan sekolah tersebut sebagai pilihan utama meskipun masih berada dalam wilayah yang sama.
“Bagi sekolah di wilayah yang sulit seperti kami, mekanisme rayon menjadi kurang menguntungkan karena calon murid tidak menjadikan sekolah kami sebagai pilihan utama,” jelas Rahmi.
Penurunan Lulusan SD Menambah Tantangan
Selain faktor rayon, jumlah lulusan sekolah dasar di sekitar SMPN 4 Pengasih juga terus menurun. Tahun ini, hanya sekitar 60 hingga 70 siswa SD yang lulus di wilayah sekitar sekolah sehingga jumlah calon peserta didik semakin terbatas.
Pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya untuk menarik minat masyarakat, mulai dari menyosialisasikan SPMB ke sejumlah sekolah dasar hingga mendatangi rumah-rumah warga. Namun, berbagai langkah tersebut belum berhasil meningkatkan jumlah pendaftar secara signifikan.
Rahmi memperkirakan tantangan pada tahun ajaran mendatang akan semakin berat. Berdasarkan proyeksi sekolah, jumlah lulusan SD di wilayah sekitar akan kembali menurun. Sehingga, kondisi tersebut berpotensi semakin menekan jumlah penerimaan murid baru di jenjang SMP.
Jangan Lewati: Sleman Lelang Empat Jabatan Kepala Dinas, Libatkan Akademisi Demi Transparansi
Bagi SMPN 4 Pengasih, kondisi ini bukan sekadar persoalan sedikitnya peserta didik baru. Fenomena tersebut mencerminkan tantangan besar yang harus dihadapi sekolah-sekolah negeri di kawasan pinggiran. Mereka tidak hanya bersaing dengan sekolah lain, tetapi juga menghadapi kendala geografis serta perubahan demografi yang terus berlangsung. [nw]




















