Menautkan Iman, Pangan, dan Bumi: Nyai Nissa Wargadipura di IIQ An Nur Yogyakarta

Bantul, Kabar769 Dilihat
Menautkan Iman, Pangan, dan Bumi: Nyai Nissa Wargadipura di IIQ An Nur Yogyakarta
Foto: Ibu Nyai Nissa Wargadipura (tengah) saat penyerah sertifikat kuliah umum: Ekopesantren.

ejogja.ID | Siang itu, auditorium IIQ An Nur Yogyakarta terasa hangat. Mahasiswa memenuhi deretan kursi bukan semata untuk mengikuti kuliah umum, melainkan untuk menyimak pengalaman hidup seorang nyai pesantren yang menautkan iman, pangan, dan keberpihakan pada bumi. Pada Selasa (15/12/2025), kampus IIQ An Nur Yogyakarta menghadirkan Nyai Nissa Wargadipura, pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Ekologi Ath Thariq Garut, dalam kuliah umum bertajuk “Gerakan Ekopesantren dalam Pelestarian Alam”.

Jangan Lewati: Zaman Edan

Nyai Nissa bukan sosok asing dalam percakapan global tentang krisis pangan dan lingkungan. Pada 2024, Badan PBB Urusan Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) menganugerahkan kepadanya penghargaan FAO Heroes (Pahlawan Pangan Dunia) di Roma, Italia. Setahun kemudian, Bisnis Indonesia Group kembali memberikan Women in Sustainable Development (SDGs) Action Award 2025 untuk kategori SDG 15 – Ekosistem Daratan, dalam rangkaian peringatan HUT ke-40 Bisnis Indonesia Group di Jakarta. Berbagai penghargaan tersebut mengakui konsistensinya mengembangkan pertanian ekologi berbasis pesantren dan kearifan lokal.

Kampus, Pesantren, dan Tanggung Jawab Ekologis

Ratusan mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan IIQ An Nur Yogyakarta mengikuti kuliah umum yang berlangsung di auditorium kampus itu. Dalam sambutannya, Wakil Rektor I Bidang Akademik, Dr. H. Munjahid, M.Ag., menilai kehadiran Nyai Nissa sebagai momentum reflektif bagi sivitas akademika untuk menempatkan isu ekologi dalam bingkai tanggung jawab intelektual dan moral.

Munjahid menegaskan bahwa masyarakat tidak bisa menyelesaikan krisis lingkungan hanya melalui wacana. Menurutnya, perubahan cara hidup menjadi kunci utama. Ia pun mengajak mahasiswa menyimak gagasan Nyai Nissa dengan sungguh-sungguh. Karena, pilihan generasi muda hari ini akan menentukan masa depan bumi.

Jangan Lewati: Mobil MBG Tabrak Puluhan Siswa dan Guru di SDN 01 Kalibaru, Sopir Ditetapkan Tersangka

Dosen Fakultas Tarbiyah IIQ An Nur Yogyakarta, Maghfur M. Ramin, memoderatori kuliah umum tersebut. Ia mempersilakan para pemateri yang konsisten memperjuangkan isu ekologi untuk menyampaikan gagasan dan pengalaman mereka secara terbuka.

Sebagai keynote speaker, Dr. Ahmad Sihabul Millah, M.A., menjelaskan bahwa Pesantren Ath Thariq telah lama menjadi rujukan penting dalam pemikiran dan risetnya. Ia mengakui bahwa praktik ekopesantren yang dikembangkan Nyai Nissa menginspirasi penulisan bukunya Green Islam serta memperkuat kajian ekoteologi dan ekofeminisme Islam yang ia tekuni.

Ekopesantren: Iman yang Dihidupkan dalam Praktik

Sebagai pemateri, Nyai Nissa mengajak peserta menelusuri pengalaman konkret Pesantren Ath Thariq. Ia menjelaskan bahwa pesantren tersebut tidak hanya mengajarkan ilmu keagamaan, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis melalui praktik hidup sehari-hari. Para santri mempelajari pertanian ekologi berbasis kearifan lokal Sunda melalui sistem leuweung. Pola pengelolaan alam yang menjaga keseimbangan ekosistem tanpa bahan kimia.

Jangan Lewati: Mahasiswa IIQ An Nur Yogyakarta Mulai Jalani KKN di Semin: Penguatan Sosial-Keagamaan Jadi Fokus Pengabdian

Di atas lahan seluas sekitar 7.500 meter persegi, para santri menanam sendiri kebutuhan pangan mereka. Pesantren memanfaatkan hasil panen untuk memenuhi kebutuhan internal sekaligus menopang perekonomian melalui penjualan hasil pertanian dan pengolahan produk bernilai tambah. Selain itu, Pesantren Ath Thariq mengembangkan tanaman obat dan membangun perpustakaan benih sebagai ruang belajar bersama.

Nyai Nissa menegaskan bahwa kesadaran pangan menjadi pintu masuk penting dalam perjuangan ekologis. Ia mengkritik budaya konsumsi modern dan ketergantungan pada makanan ultra-proses yang, menurutnya, melemahkan ketahanan fisik dan mental generasi muda. Ia menilai krisis iklim tidak terpisahkan dari pola hidup yang dijalani masyarakat sehari-hari.

Jangan Lewati: Figur Sepuh

Menutup kuliah umum, Nyai Nissa mengajak peserta memulai perubahan dari langkah-langkah sederhana dan personal. Ini bisa memilih konsumsi yang sehat, mengurangi sampah, menerapkan prinsip zero waste, menekan penggunaan energi, serta membatasi kendaraan bermotor dan gawai.

“Untuk menyelesaikan bencana global,” ujarnya, “selesaikan dulu di tubuh kalian.” [MAF/NM]

Mau ngiklan di ejogja.ID? Klik: Pasang Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *