Masihkah Pendidikan Kita Gaya Bank?

Literasi, Opini422 Dilihat
Masihkah Pendidikan Kita Gaya Bank
Foto: Istimewa

Qorri Aina Nadra

Potret pendidikan yang sejatinya mengemban misi memanusiakan manusia—yakni membentuk peserta didik yang mampu melahirkan generasi berkualitas baik secara keilmuan maupun moral—hingga kini belum berhasil mewujudkan cita-cita tersebut. Berbagai persoalan justru menggantikannya, mulai dari maraknya tawuran antarpelajar dan antarmahasiswa, kekerasan di sekolah, rendahnya profesionalisme guru, hingga kasus mencontek massal. Banyak peserta didik mampu menjawab soal ujian dengan lancar, tetapi mereka gagap ketika harus mengemukakan pendapat atau mengkritisi realitas di sekitarnya. Ruang kelas sering kali sunyi bukan karena peserta didik sedang berpikir, melainkan karena mereka takut melakukan kesalahan. Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar: masihkah pendidikan kita berjalan dengan pola lama yang menempatkan peserta didik hanya sebagai penerima pengetahuan?

Saat ini, jika kita mencermati secara saksama, pendidikan di sekitar kita sedang mengalami pergeseran pola pembelajaran yang menempatkan murid sebagai pusat belajar (student oriented). Sebelumnya, dunia pendidikan lebih banyak menerapkan konsep mengajar bergaya lama yang menempatkan guru sebagai pusat belajar (teacher oriented). Dalam konsep ini, guru berperan sebagai penguasa selama proses pembelajaran berlangsung di kelas. Guru memegang kewenangan mutlak dan bebas melakukan berbagai tindakan tanpa memperhatikan kehendak peserta didik. Guru juga sering mengabaikan kritik yang disampaikan oleh peserta didik.

Paulo Freire, seorang pakar pendidikan ternama dari Brasil, menjelaskan konsep teacher oriented ini dalam bukunya Pendidikan Kaum Tertindas dengan istilah “pendidikan gaya bank”. Ia menggambarkan guru sebagai pihak yang menabungkan ilmu, sementara peserta didik berperan sebagai bank yang menerima simpanan tersebut. Guru mengajar, murid belajar; guru menerangkan, murid mendengarkan; guru bertanya, murid menjawab. Pola seperti ini menjadikan belajar bukan sebagai proses pembelajaran yang sejati, melainkan sekadar proses pengajaran karena guru hanya mentransfer ilmu pengetahuan. Dalam pendidikan gaya bank, guru membatasi ruang gerak murid hanya pada aktivitas menerima, mencatat, dan menyimpan. Akibatnya, pendidikan bersifat negatif karena guru memberikan informasi yang harus murid telan, ingat, dan hafalkan. Pendidikan gaya bank memandang pengetahuan sebagai hadiah yang guru berikan kepada murid.

Jangan Lewati: Pekerjaan Utama

Secara sederhana, Paulo Freire merumuskan antagonisme pendidikan gaya bank sebagai berikut: (1) guru mengajar, murid belajar; (2) guru mengetahui segalanya, murid tidak mengetahui apa pun; (3) guru berpikir, murid dipikirkan; (4) guru berbicara, murid mendengarkan; (5) guru mengatur, murid diatur; (6) guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menuruti; (7) guru bertindak, murid membayangkan tindakan gurunya; (8) guru memilih materi pelajaran, murid menyesuaikan diri; (9) guru mencampuradukkan wewenang ilmu pengetahuan dengan wewenang profesionalisme dan mempertentangkannya dengan kebebasan murid; serta (10) guru menjadi subjek proses belajar, sedangkan murid menjadi objeknya.

Pendidikan gaya bank memandang pengetahuan sebagai warisan yang guru berikan kepada murid yang dianggap tidak memiliki pengetahuan apa pun. Karena itu, konsep ini memposisikan manusia layaknya benda yang mudah diatur. Paradigma pengajaran seperti ini menimbulkan rasa takut dan kebingungan pada diri peserta didik terhadap guru. Model pengajaran yang otoriter menjadikan guru sebagai satu-satunya agent of information dan agent of knowledge. Akibatnya, murid mengalami hambatan dalam mengembangkan potensi dirinya karena guru membatasi kesempatan berbicara, berpendapat, dan mengekspresikan gagasan.

Jangan Lewati: Puisi-puisi Taufiq Hidayah

Untuk mengatasi persoalan tersebut, guru perlu membangun hubungan yang baik dengan murid selama proses pembelajaran. Hubungan ini menjadi faktor sekaligus solusi yang sangat menentukan. Materi yang baik dan metode yang hebat tidak akan menghasilkan pembelajaran yang optimal apabila guru dan murid tidak membangun interaksi yang sehat. Salah satu upaya yang dapat guru lakukan ialah mengubah pola komunikasi monologis menjadi komunikasi dialogis dalam pembelajaran. Guru dapat membuka ruang dialog apabila ia membangun interaksi berdasarkan prinsip kesetaraan. Dialog dapat berlangsung ketika guru melibatkan pemikiran kritis dan menghapus dikotomi antara guru dan murid. Hubungan yang setara akan melahirkan interaksi yang humanistik.

Interaksi humanistik merupakan pola hubungan antara guru dan murid yang menekankan nilai demokrasi, kesantunan, dan saling menghormati. Guru menciptakan suasana belajar yang demokratis dan transparan serta berupaya menghilangkan sikap otoriter, tertutup, dan angkuh. Konsep ini sejalan dengan gagasan Paulo Freire tentang pendidikan hadap masalah. Dalam konsep tersebut, Freire menuntut keterlibatan aktif semua pihak. Guru belajar dari murid dan murid belajar dari guru. Keduanya menjadi subjek pembelajaran yang dipersatukan oleh objek yang sama. Guru berperan sebagai rekan belajar yang menciptakan kondisi edukatif, melibatkan diri, memotivasi, dan merangsang daya pikir kritis murid. Guru dan murid bersama-sama mengembangkan kemampuan memahami dan memaknai realitas. Oleh karena itu, dialog menjadi unsur utama dalam pendidikan yang setara.

Jangan Lewati: Ujian Waktu

Pada dasarnya, pendidikan hadap masalah berupaya menjawab persoalan diskomunikasi antara guru dan murid dengan membangun suasana dialogis. Guru dan murid memecahkan masalah bersama dalam proses pembelajaran. Guru mendinamisasikan peserta didik melalui hubungan dialogis, sehingga ia tidak lagi sekadar mengajar, melainkan belajar bersama murid. Murid berperan sebagai subjek yang belajar, bertindak, berpikir, dan mengungkapkan hasil pemikiran serta tindakannya. Guru dan murid saling belajar dan saling memanusiakan. Dalam proses ini, guru mengajukan bahan pemikiran kepada murid, lalu menguji kembali pemikirannya sendiri melalui dialog dengan murid, dan sebaliknya.

Konsep pendidikan hadap masalah menekankan upaya membangun kreativitas peserta didik, memperkuat hubungan dialogis, serta mendorong sikap revolusioner untuk menatap masa depan. Konsep ini mengisyaratkan bahwa dunia pendidikan seharusnya membebaskan seluruh komponennya, baik peserta didik, guru, kurikulum, maupun lembaga pendidikan. Namun demikian, pendidikan hadap masalah secara khusus menuntut guru untuk membangun demokratisasi di dalam kelas dan menciptakan suasana dialogis.

Jangan Lewati: 58,26 Persen, Mayoritas Guru PAI SD Belum Fasih Membaca Al-Qur’an

Dengan demikian, guru perlu mengembangkan model pendidikan hadap masalah baik di tingkat pendidikan dasar maupun perguruan tinggi. Model ini mampu mendinamisasikan dan membelajarkan peserta didik secara aktif sehingga tujuan pendidikan untuk memanusiakan manusia dapat tercapai dan pendidikan benar-benar menjadi praktik pembebasan. Sebaliknya, guru sebaiknya meninggalkan model pengajaran gaya bank yang mematikan kreativitas, melumpuhkan daya pikir, dan gagal membelajarkan peserta didik. Model tersebut hanya melahirkan peserta didik yang jumud dan enggan berubah.

Qorri Aina Nadra, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IIQ An Nur Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *