Ketika Ilmu, Iman, dan AI Bertemu: Wajah Baru Pendidikan Islam di Era Digital

Kabar, Sleman790 Dilihat
Ketika Ilmu, Iman, dan AI Bertemu Wajah Baru Pendidikan Islam di Era Digital
Foto: Seminar Transformasi Pendidikan Islam di Era Digital: Membangun Karakter, Spiritualitas, dan Keberlanjutan Global di UII

ejogja.ID | Di sebuah aula di Yogyakarta, Sabtu (29/11/2025), ratusan akademisi dari berbagai kampus di Nusantara berkumpul. Mereka tidak berkumpul untuk debat politik, melainkan untuk mendiskusikan sebuah tantangan zaman: bagaimana dunia pendidikan Islam beradaptasi di tengah derasnya gelombang kecerdasan buatan (AI). Seminar itu mengusung tema “Transformasi Pendidikan Islam di Era Digital: Membangun Karakter, Spiritualitas, dan Keberlanjutan Global.”

Jangan Lewati: Ritual Administratif

Perjumpaan ini terasa unik, karena menghadirkan kolaborasi antara pakar pendidikan Islam dan pakar teknologi AI. Di satu sisi ada mereka yang membawa tradisi dan nilai-nilai; di sisi lain, mereka yang membawa algoritma dan premis teknologi. Seperti dikatakan oleh Dzulkifli Hadi Imawan — Ketua Program Studi Ilmu Agama Islam Magister FIAI di Universitas Islam Indonesia — seminar itu penting untuk membuka ruang dialog antara dua dunia yang kadang dianggap bertolak belakang. “Karena isu ini sangat masif ya di tengah perkembangan teknologi,” ujarnya saat acara berlangsung.

AI, Pendidikan Islam, dan Tantangan Moral

Selama diskusi, muncul keprihatinan bahwa AI — meskipun membawa banyak kemudahan — tidak boleh begitu saja menggantikan proses berpikir, analisis, dan spiritualitas yang selama ini menjadi inti pendidikan Islam. Menurut pakar AI yang hadir, Dhomas Hatta Fudholi, penggunaan AI seharusnya tidak menjadi jalan pintas untuk sekadar “copy-paste”. Output dari AI tetap harus disunting, dikontekstualisasi, dan disesuaikan dengan nilai, kondisi, serta kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian, AI dilihat sebagai alat bantu — bukan sebagai pengganti manusia dalam proses pendidikan. Kepekaan terhadap etika, spiritualitas, dan karakter menjadi poin penting agar Islam dan teknologi bisa berjalan beriringan.

Wadah Literasi dan Publikasi Akademik

Seminar itu tak hanya dihadiri akademisi dari Yogyakarta, tetapi juga dari luar — seperti Cirebon dan Malang — dari kalangan sarjana dan magister. Mereka tidak hanya berdiskusi, tetapi juga menyiapkan kontribusi ilmiah: artikel-artikel yang kemudian direview dan diterbitkan di jurnal di UII serta kampus-kampus lain.

Dengan cara ini, pendidikan Islam bisa memperkaya wacana akademik dan ilmiah di era digital — bukan hanya melulu ritual atau tradisi, tetapi juga berpijak pada penelitian, etika, dan respon nyata terhadap perubahan zaman.

Jangan Lewati: Menemukan Empati di Antara Dua Buku: Kisah Ryan dan Tafsir Keragaman

Apa yang terjadi di seminar itu seperti memberi harapan baru. Pendidikan Islam tidak harus statis atau tersisih di tengah perkembangan teknologi. Dengan integrasi yang bijak — AI sebagai alat bantu, manusia sebagai penggerak — bisa lahir model pembelajaran Islam. Model yang relevan, adaptif, dan tetap humanis.

Bagi mereka yang hadir — mahasiswa, dosen, peneliti — semangatnya sama: menjawab tantangan zaman tanpa meninggalkan akar nilai. Bagi seluruh masyarakat, ini bisa jadi tonggak bahwa pendidikan Islam mampu ikut berkembang, bukan tertinggal.

Mau ngiklan di ejogja.ID? Klik: Pasang Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *