
M. Taufiq Hidayah
Di sebuah desa terpencil di tepi kali, berdirilah sebuah musala tua yang jarang disentuh orang. Bangunannya sederhana, dindingnya mengelupas, namun selalu tampak seakan menunggu jiwa yang berani memasukinya. Warga desa percaya musala itu menyimpan misteri yang tak mampu mereka ceritakan. Mereka menyebutnya sebagai tempat yang “haus kesakralan”—seolah menanti dihidupkan kembali oleh doa-doa yang telah lama hilang.
Jangan Lewati: Banjir Serakah
Rumor tentang musala itu telah lama beredar. Setiap angin malam menggerayangi jalan kecil menuju tepian kali, terdengar bacaan tasbih, lantunan ayat suci, dan derap langkah tanpa wujud. Meski dihantui rasa penasaran, para warga lebih memilih menjauh. Musala itu menjadi ruang kosong yang dibiarkan merawat sunyi dan misteri.
Namun tidak semua percaya pada cerita-cerita itu.
Pada Minggu, 12 November 2025, seorang pemuda desa bernama Joko Tole memutuskan untuk masuk ke musala itu. Ia bosan hidup dalam bayang-bayang mitos. Baginya, tempat suci tidak pantas ditakuti. Ia ingin menyalakan kembali api ketenangan di dalam hatinya yang lama padam.
“Kesunyian bukan sesuatu yang menakutkan,” gumamnya ketika mendorong pintu musala.
Jangan Lewati: PKBM dan Masa Depan Belajar: Ketika Budi Pekerti Menjadi Kompas di Tengah Derasnya Zaman
Saat daun pintu bergerak, langit pagi seakan memudar seperti lukisan yang disapu hujan. Udara dingin membawa aroma lumpur dari kali yang tak pernah berkata-kata. Setiap langkah Joko seolah menembus lapisan ruang yang lain. Ketika ia mendekat, terdengar bisikan tasbih dari dalam—lirih namun teratur—meski tak ada seorang pun di sana. Angin menyapu wajahnya, membawa gema ayat-ayat yang entah dibaca oleh siapa. Hatinya bergetar di antara takut dan takjub.
Ia berwudu di tepi kali. Airnya dingin, seakan mengalir dari pegunungan jauh, menembus kulit dan menenangkan dadanya. Di dalam musala, ia mulai melantunkan ayat suci. Suaranya pelan, tapi setiap huruf terasa seperti cahaya yang menari di tengah kegelapan. Dari luar jendela, suara katak di pinggir kali menggema, ritmis dan anehnya seperti ikut berdzikir. Joko merasa alam sedang menyertainya.
Jangan Lewati: Ritual Administratif
Ketika ia hendak melangkah keluar, suara katak tiba-tiba menggelegar—lebih keras, lebih panjang, seolah seruan penjaga yang terbangun. Getarannya menggores udara dan membuat bibir Joko terasa digigit dingin. Warga desa sering berkata bahwa katak-katak itu adalah penjaga musala.
Lalu, angin berubah kencang. Pepohonan bergoyang, tanah bergetar halus. Seakan desa kecil itu kembali mengingat luka lama—masa ketika rumah-rumah pernah terbakar oleh api perpecahan dan keserakahan manusia. Api yang, kata orang tua, muncul karena tali kesucian terputus: tali persaudaraan, tali persahabatan, dan terutama tali hubungan dengan Sang Pencipta.
Sejarah itu terasa hidup kembali di hadapan Joko.
Saat ia melangkah keluar, jalan tanah menuju desa mendadak licin, dilapisi seperti minyak. Kabut tebal turun memeluk tanah. Air kali menggelap, berkilat seperti pedang terhunus. Di tengah kabut itu, Joko melihat beberapa sosok berdiri berbaris, memegang nyala kecil berwarna putih. Wajah-wajah mereka kabur, namun memancarkan ketenangan. Mereka berjalan mendekat sambil melantunkan selawat penuh wibawa. Joko tidak mengenal mereka, tetapi hatinya menyadari: itu adalah para pecinta Nabi, para hamba yang menjaga jalan menuju cahaya.
Jangan Lewati: Blueprint Dekolonialisasi Islam: Preskripsi Cara Kerja General
Ia teringat pesan gurunya: “Siapa yang mengandalkan kepandaian namun tidak memiliki sambungan kuat dengan Kanjeng Nabi dan para sholihin, maka ia bisa terputus di akhirat. Sebab manusia bicara dan berjalan sesuai sambungannya.”
Kata tali bergema di benaknya. Ia melihat manusia ibarat penyelam di lautan gelap: hanya tali yang menuntun agar tidak tersesat. Jika tali itu putus—oleh kesombongan, kelalaian, atau hawa nafsu—maka manusia akan tenggelam dalam kegelapan.
Air mata jatuh tanpa ia sadari.
“Apa selama ini tali itu telah kuputuskan?” batinnya.
Ia teringat waktu yang terbuang, hubungan persahabatan yang retak, keluarga yang jarang ia kunjungi, dan doa-doa yang semakin jarang ia panjatkan. Hatinya terasa kosong—kosong seperti musala tua itu, yang diam-diam menunggu diisi kembali oleh kesakralan.
Jangan lewati: Guru Seni Metro Belajar Musik Tradisi Lampung
Tiba-tiba sebuah suara bergema dalam batinnya, lembut namun kuat: “Bersyukurlah. Selalu ada jalan kembali.”
Cahaya di depan Joko semakin terang. Kabut perlahan menipis. Rombongan bercahaya itu berjalan menuju musala, kemudian hilang seperti asap tertiup angin. Namun panas hangat tetap bersarang di dadanya—seperti api kecil yang baru dinyalakan. Ia sadar: itu bukan api yang pernah membakar desa, melainkan api yang membakar kegelapan di dalam dirinya. Api yang menyambungkan kembali tali yang sempat putus.
Menjelang pagi, Joko kembali ke desa dengan langkah ringan. Musala itu kini tidak lagi tampak misterius, melainkan seperti mercusuar kecil yang menuntun jiwa-jiwa tersesat. Saat matahari terbit, Joko berbisik pelan: “Terima kasih… atas tali yang Kau pertemukan kembali padaku.”
Jangan Lewati: Lagi Penat?
Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, warga kembali mendatangi musala. Ada yang mendengar suara ayat suci menjelang fajar, ada pula yang melihat cahaya kecil menari di atas air kali. Mereka tidak lagi takut—seolah dipanggil untuk mengisi kesunyian musala dengan doa, dzikir, dan rasa syukur.
Di antara mereka, Joko berdiri paling depan. Ia membawa sebatang kayu kecil untuk menyalakan lampu minyak musala. Api yang menyala di sumbu itu terpantul di matanya—bukan api yang membakar, melainkan api yang membimbing.
Api yang menuntun jiwa menuju cahaya.
Api di tepi kali yang tak bernama.
M. Taufiq Hidayah adalah alumnus MA Nasy’atul Muta’allimin Gapura. Ia aktif sebagai penulis di PP. Kutub Hasyim Asy’ari Yogyakarta serta menempuh studi sebagai mahasiswa Program Studi Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Selain itu, ia terlibat dalam organisasi eksternal Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), khususnya di Rayon Pembebasan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam.
















