
ejogja.ID | Yogyakarta — Pendidikan tidak selalu berlangsung di ruang kelas dengan papan tulis dan bangku berderet rapi. Pagi itu, mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An Nur Yogyakarta justru menemukan makna belajar di ruang sunyi: makam Ki Hajar Dewantara di Taman Wijaya Brata, Yogyakarta, Senin (19/1/2026).
Jangan Lewati: Lapang Dada
Kegiatan ziarah edukatif yang dimulai pukul 08.30 WIB ini merupakan bagian dari agenda pembelajaran bertema “Pengenalan Tokoh dan Literatur Pendidikan”, yang dipandu oleh Maghfur MR, dosen pengampu mata kuliah Sosiantropologi Pendidikan. Melalui pembelajaran luar kelas, mahasiswa diajak menyelami langsung jejak sejarah dan pemikiran tokoh penggerak pendidikan nasional.
Di kompleks makam Taman Wijaya Brata, mahasiswa mendapatkan penjelasan langsung dari Sarimin, juru kunci makam Ki Hajar Dewantara. Dengan bahasa sederhana namun sarat makna, ia menuturkan pandangan Ki Hajar tentang kemerdekaan dalam pendidikan.
“Ki Hajar Dewantara sangat menghargai kemerdekaan. Jangan manusia, burung pun beliau tidak mau memelihara karena kasihan kalau dikurung. Karena itu, beliau memilih konsep ngemong, bukan sekadar ngajari. Dulu, belum ada istilah guru; yang ada adalah pamong,” ungkap Sarimin.
Jangan Lewati: Kuota Tergadai
Penjelasan tersebut memperkaya pemahaman mahasiswa tentang gagasan pendidikan Ki Hajar Dewantara yang menempatkan pendidik sebagai pendamping tumbuh kembang peserta didik. Prinsip ngemong sejalan dengan semboyan pendidikan nasional ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani, yang menekankan keteladanan, pemberdayaan, dan pendampingan.
Mahasiswa tampak khidmat mengikuti kegiatan dengan duduk membentuk setengah lingkaran di depan makam pahlawan nasional bidang pendidikan tersebut. Di sisi makam Ki Hajar Dewantara terdapat makam sang istri, sementara di bagian belakang terdapat makam anak pertama dan anak terakhir.
“Itu sudah menjadi wasiat beliau sebelum wafat. Istilah Jawanya ben dipangku,” tambah Sarimin, disimak dengan penuh perhatian oleh para mahasiswa.
Jangan Lewati: Menautkan Iman, Pangan, dan Bumi: Nyai Nissa Wargadipura di IIQ An Nur Yogyakarta
Maghfur MR menjelaskan bahwa kunjungan ini bertujuan menumbuhkan kesadaran historis sekaligus refleksi kritis mahasiswa terhadap perjuangan pendidikan nasional.
“Ki Hajar Dewantara adalah Menteri Pendidikan pertama—saat itu disebut Menteri Pengajaran—pada masa Presiden Soekarno. Perjuangannya tidak mudah. Di tengah penjajahan Belanda dan keterbatasan akses pengetahuan, beliau tetap turun langsung mencerdaskan rakyat, meskipun berasal dari keluarga ningrat, cucu Pakualam III Yogyakarta,” tegasnya.
Usai dari makam Taman Wijaya Brata, rombongan melanjutkan kegiatan dengan penelusuran literatur pendidikan di Graha Pustaka Yogyakarta. Mahasiswa membaca dan mendiskusikan berbagai karya yang relevan dengan pemikiran pendidikan.
“Saya membaca karya Sujiwo Tejo berjudul Lupa Endonesa,” ungkap salah satu mahasiswi Fakultas Tarbiyah.
Jangan Lewati: Pekerjaan Utama
Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa Prodi PAI Fakultas Tarbiyah IIQ An Nur Yogyakarta tidak hanya mengenal Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh sejarah, tetapi juga merefleksikan relevansi pemikirannya dalam menghadapi tantangan pendidikan masa kini. Ziarah dan literasi menjadi ruang belajar kontekstual yang menghubungkan sejarah, gagasan, dan nilai-nilai dasar pendidikan nasional. [maf]
Mau ngiklan di ejogja.ID? Klik: Pasang Iklan















