Suara Pelajar, Ruang Debat: Ketika Ide Menjadi Getaran di UAJY

Jogja, Kabar1120 Dilihat
Suara Pelajar, Ruang Debat Ketika Ide Menjadi Getaran di UAJY
Foto: Pembukaan Lomba Debat Indonesia 2025 di UAJY, Senin (25/11/2025).

ejogja.ID | Yogyakarta – Di Aula Student Center Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Senin (25/11/2025), ratusan pelajar dari seluruh penjuru Nusantara bergerak. Mereka berjabat tangan sesaat sebelum upacara pembukaan Lomba Debat Indonesia 2025 dimulai. Dari Aceh sampai Papua, dari Sulawesi sampai Sumatra, mereka datang membawa suara. Bukan suara politik, tapi suara pemikiran — gagasan, argumen, semangat untuk didengar.

Jangan Lewati: Ritual Administratif

Bagi banyak dari mereka, LDI bukan sekadar kompetisi; ini adalah panggung. Panggung untuk menunjukkan kemampuan berpikir kritis dan menyuarakan gagasan dengan logika dan data. Lomba 2025 ini diikuti oleh 12.780 pendaftar dari 37 provinsi, bahkan termasuk perwakilan sekolah luar negeri dari Arab Saudi, Malaysia, dan Thailand — meningkat sekitar 11% dibanding tahun lalu.

Menuju Satu Forum Argumen

Seleksi ketat — dengan rasio sekitar 1:56 — memastikan hanya mereka yang benar-benar siap yang bisa masuk ke arena debat. Dalam ruangan yang megah namun hangat dan terbuka, setiap peserta mempunyai ruang yang sama: tidak ada yang lebih besar dari yang lain, tidak ada sekat status. Semua bersaing dalam satu landasan — kecerdasan, logika, dan keberanian berargumentasi.

Jangan Lewati: Menemukan Empati di Antara Dua Buku: Kisah Ryan dan Tafsir Keragaman

Sebanyak 46 juri nasional siap menilai: terdiri dari juri debat berbahasa Indonesia, debat berbahasa Inggris, dan juri pembina. Ada juga tim penyusun mosi, panel adjudikasi, serta tabulator independen — semua agar proses berlangsung fair, transparan, dan menjunjung sportivitas.

“Debat bukan sekadar menyampaikan pendapat,” ujar Kepala Pusat Prestasi Nasional, Maria Veronica Irene Herdjiono. “Tapi bagaimana menghormati lawan bicara, menyajikan gagasan dengan data, dan menjaga etika dalam berargumentasi.”

Pembinaan Literasi & Karakter

Menurut Maria Veronica, LDI bukan hanya tentang siapa paling pandai berargumen. Kompetisi ini bagian dari upaya memperkuat literasi dan karakter para pelajar. Di masa mudah akses informasi tetapi sering tak terkontrol, kemampuan memilah fakta, berpikir kritis, dan menyampaikan argumen dengan adab menjadi sangat penting.

Bagi pihak tuan rumah, UAJY, momen ini juga menjadi wujud komitmen terhadap nilai-nilai perguruan tinggi: unggul, inklusif, humanis, dan berintegritas. Nilai yang sama melalui LDI bagi generasi muda.

Harapan dan Suara

Saat malam menjelang, pelajar–pelajar dari latar belakang berbeda mulai berbincang di koridor kampus. Berbagi cerita dari kota asal, dan membentuk aliansi untuk debat esok hari. Ada rasa bangga, ada grogi, ada semangat — tapi di atas semua itu, ada harapan: bahwa dari debat ini tumbuh generasi muda yang berani berpikir, kritis, dan siap jadi bagian dari peradaban berpikir Indonesia. “Semoga kegiatan ini memberi pengalaman berharga, dan lahir talenta-talenta muda yang siap memberi kontribusi bagi masa depan bangsa,” harap salah satu penyelenggara.

Jangan Lewati: Apresiasi yang Menjadi Ancaman Bagi Mada Depan Generasi Muda

LDI 2025 bukan hanya tentang siapa yang menang. Tapi tentang siapa yang berhasil berdialog — membuka ruang pemikiran, menghormati keberagaman gagasan, dan membangun Indonesia dari kata. Kata yang sudah dipikirkan, diteliti, dan diutarakan dengan penuh tanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *