Perempuan Harus Merdeka dari Jeratan Radikalis-Terorisme

Esai, Literasi1357 Dilihat
Perempuan Harus Merdeka dari Jeratan Radikalis-Terorisme
Foto: Ilustrasi Tolak Radikalisme dan Terorisme

Abdul Warits

Kemerdekaan perempuan bukan hanya soal terbebas dari diskriminasi sosial atau ekonomi, tetapi juga dari jeratan ideologi yang merampas kebebasan berpikir, bersikap, dan menentukan masa depan. Di era digital, radikalis-terorisme menjadi ancaman nyata yang menyasar perempuan dengan strategi halus namun sistematis.

Jangan Lewati: Genre dan Generasi Sastra

Perempuan sering dijadikan target karena perannya yang strategis di keluarga, emosionalitasnya yang tinggi, dan kapasitasnya dalam memengaruhi generasi berikutnya.

Sejarah mencatat bahwa dalam sejumlah aksi terorisme di Indonesia, perempuan bukan hanya menjadi korban, tetapi juga pelaku. Kasus suicide bombing oleh keluarga di Surabaya (2018) dan sejumlah perempuan yang bergabung dengan ISIS di Timur Tengah menunjukkan betapa kuatnya infiltrasi ideologi ekstrem ke ranah domestik.

Radikalisasi perempuan sering berawal dari pendekatan kaum Radikalis yang memanfaatkan hubungan keluarga atau pasangan untuk menanamkan ideologi. Kedua, Romantisasi Perjuangan – Propaganda yang menggambarkan jihad bersenjata sebagai bentuk cinta dan pengorbanan. Ketiga, eksploitasi Rasa Iba – memanfaatkan narasi penderitaan umat di wilayah konflik untuk memicu empati yang salah arah.

Jangan Lewati: Berteman dengan Nilai, Bukan Sekadar Akrab

Kerentanan perempuan terhadap radikalis-terorisme bukan karena kelemahan, tetapi karena posisi strategisnya Sebagai pendidik pertama anak. Ideologi yang tertanam pada ibu dapat diwariskan ke generasi berikutnya.

Perempuan sebagai pengelola rumah tangga: Akses perempuan terhadap jaringan sosial membuat mereka menjadi agen penyebar narasi ideologis. Sebagai simbol moralitas: Kelompok radikal sering menjadikan perempuan sebagai ikon “kesucian perjuangan” untuk merekrut anggota baru.

Merdeka: Melawan Jeratan Ideologi

Kemerdekaan perempuan dari radikalis-terorisme membutuhkan langkah konkret. Salah satunya melalui penguatan literasi ideologi. Perempuan perlu memahami perbedaan antara ajaran agama yang damai dan tafsir menyimpang yang memicu kekerasan.

Kedua, Pemberdayaan Ekonomi dan Pendidikan. Perempuan yang mandiri secara finansial dan intelektual lebih sulit dijerat dengan janji-janji palsu kelompok radikal. Ketiga, Penguatan Jaringan Sosial Positif
Membentuk komunitas perempuan moderat yang saling menguatkan dan menjadi filter terhadap propaganda ekstrem.

Jangan Lewati: 20 Persen APBN untuk Pendidikan, Tapi Guru-Dosen Masih ‘Gigit Jari’

Keempat, Peran Negara dan Lembaga Keagamaan. Program deradikalisasi harus menyasar perempuan dengan pendekatan yang humanis, melibatkan tokoh agama perempuan, dan memberi ruang dialog aman.

Kemerdekaan sejati bagi perempuan adalah terbebas dari segala bentuk perbudakan pikiran, termasuk jeratan radikalis-terorisme. Perempuan yang merdeka adalah garda terdepan melindungi keluarga dan bangsa dari virus ideologi kekerasan.

Saat perempuan kuat, moderat, dan kritis, radikalisme kehilangan salah satu jalur terpentingnya. Oleh karena itu, membebaskan perempuan dari jeratan radikal bukan hanya misi kemanusiaan, tetapi juga strategi keamanan nasional.

Abdul Warits, Sekretaris Duta Damai Santri Jatim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *