Era Ketergesaan

Literasi, Serat1709 Dilihat
era ketergesaan
Foto: Istimewa

Maghfur M. Ramin

Generasi kita tumbuh di dunia yang bergerak serba cepat. Informasi mengalir deras seperti sungai pascahujan. Notifikasi datang silih berganti. Tugas kuliah, kegiatan organisasi, kerja paruh waktu, dan urusan keluarga berdesakan meminta perhatian. Tidak heran jika ruang kuliah sering terasa seperti pit stop di arena balapan: datang, duduk, dengar, selesai. Kita bergerak, tetapi tidak selalu tahu ke mana arah langkah itu mengantar. Kita belajar, tetapi tidak selalu meninggalkan bekas dalam kesadaran. Pada titik tertentu, kita bertanya pelan-pelan: apa sebenarnya yang sedang kita kejar?

Serba Tampil

Kehidupan akademik hari ini memunculkan paradoks besar. Di brosur kampus dan sesi orientasi, pendidikan digambarkan sebagai ruang pertumbuhan, ruang menemukan diri, ruang mengasah potensi. Namun dalam kenyataan sehari-hari, pendidikan kerap bergeser menjadi arena transaksi nilai, performa akademik, dan tuntutan administrasi. Kita tampil sebagai mahasiswa rajin, produktif, cepat, dan mampu. Tetapi di balik itu, banyak yang berjalan dalam kondisi hampa, tertekan, bahkan kehilangan arah.

Fenomena ini, bisa kita lihat hasil riset-riset Indonesia. Di antaranya, Studi Eko Budi Utomo, Jun Surjanti, dan Luqman Hakim (2024), Analysis of the Role of Internal and External Factors in Determining Students’ Interest in Continuing Their Studies to Higher Education, menemukan bahwa keputusan belajar mahasiswa Indonesia sering lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal. Ini berbentuk tekanan keluarga, status sosial, harapan lingkungan, atau ketakutan tertinggal ketimbang keinginan intelektual yang lahir dari diri. Belajar menjadi tampilan, bukan pencarian; kewajiban yang harus diikuti, bukan perjalanan yang dijalani. 

Kelas perlahan berubah menjadi ritual. Kita hadir untuk menandai absen, bukan menandai kesadaran. Kita membaca untuk menjawab kuis, bukan memperluas cakrawala berpikir. Juga, kita berbicara demi memenuhi rubrik penilaian, bukan karena mendapat dorongan berpikir atau kegelisahan intelektual. Dalam suasana seperti ini, pendidikan kehilangan nuansa hidupnya.

Fenomena yang demikian tidak hanya terjadi di ruang akademik. Budaya digital yang kita hidupi mendorong manusia bergerak cepat, merespons cepat, dan tampil cepat. Tariq Ramadan dalam The Quest for Meaning (2010) menyebut kondisi ini sebagai bagian dari budaya ke-seketika-an. Ini sebuah ritme hidup modern yang menuntut respons instan dan nyaris tidak memberi ruang bagi refleksi. Dalam arus seperti ini, orientasi belajar mudah terdorong keluar dari diri. Akibat orientasi belajar yang lebih ditarik dari luar inilah, pengalaman kelas berubah drastis. Kita hadir secara fisik, tetapi tidak hadir secara batin. Kita bergerak cepat, tetapi kehilangan kedalaman untuk bertanya, memahami, dan merenungi apa yang sebenarnya sedang dipelajari.

Rutinitas Kosong

Ketika tujuan hidup yang tertinggi hilang, pendidikan berubah menjadi sekadar pengasahan keterampilan. Kalimat itu terasa sangat dekat dengan keadaan kita kini. Banyak mahasiswa menjalani pola belajar minimalis: yang penting lulus, yang penting cepat selesai, yang penting mendapatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi. Skill menjadi tujuan akhir, bukan sarana menuju perkembangan diri. Nilai menjadi ukuran utama, bukan bagian dari perjalanan intelektual.

Namun persoalannya bukan hanya terletak pada sistem. Kita pun hidup di dalam budaya serba instan. Kita membaca ringkasan buku alih-alih bukunya, menonton kelas sambil membuka pesan atau notifikasi, belajar sebentar lalu terdistraksi hal lain. Pola belajar kita fragmentaris. Penuh jeda, potongan, dan perpindahan fokus yang tiba-tiba. Dalam ritme seperti ini, kedalaman belajar nyaris tak mungkin tumbuh.

Riset Syata (2025), Dampak Platform Daring Terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa, menegaskan bahwa lingkungan belajar hanya efektif jika didukung motivasi internal. Teknologi dan fasilitas tidak cukup bila jiwa belajar kehilangan daya dongkrak. Distraksi digital menjadi penghambat terbesar fokus belajar. Kita adalah generasi yang memiliki sumber belajar paling banyak sepanjang sejarah, namun juga generasi yang paling mudah kehilangan fokus hanya dalam hitungan detik.

Gen Z Indonesia dikenal kritis, kreatif, dan cepat adaptif. Namun survei Katadata Insight Center (2024) menunjukkan bahwa lebih dari 58% Gen Z mengalami academic burnout dalam satu tahun terakhir, dan hampir 70% merasa tertekan oleh tuntutan tampil produktif. Data ini memperkuat paradoks besar generasi kita. Kompeten secara digital, tetapi rapuh secara mental. Cepat belajar, tetapi mudah kehilangan arah. Belajar memilih wajah performa: terlihat sibuk, terlihat produktif, terlihat waras, meski banyak yang di dalamnya sedang limbung.

Proses Diri

Meski demikian, ada hal yang sering terlupa: kampus tetap menyimpan peluang besar. Ia dapat menjadi ruang laboratorium kehidupan. Jika kita mau memperlakukannya demikian. Belajar bukan hanya soal memahami teori, tetapi juga memahami diri. Bukan hanya menguasai materi, tetapi mengasah cara kita memandang realitas.

Di sinilah, kita mulai menyadari bahwa menuntut ilmu memerlukan kesiapan jiwa, bukan sekadar kelengkapan catatan atau rutinitas kehadiran fisik. Jiwa yang siap akan membaca lebih dalam, mendengar lebih jernih, dan bertanya lebih jujur tentang apa yang sedang kita pelajari dan siapa kita di dalam proses itu.

Jack Mezirow melalui karyanya Transformative Dimensions of Adult Learning (1991) menjelaskan bahwa pembelajaran yang sejati terjadi ketika seseorang mengalami perspective transformation, yaitu keberanian untuk menginterogasi asumsi-asumsi dasar yang selama ini dianggap benar. Dalam proses inilah, belajar tidak hanya menambah apa yang kita tahu, tetapi mengubah cara kita memahami dunia dan diri sendiri. Motivasi belajar yang lahir dari dalam diri menjadi lebih kuat dan lebih tahan lama dibandingkan tekanan eksternal yang bersifat sementara.

Mungkin tantangan terbesar generasi kita bukan kurangnya fasilitas, bukan minimnya akses, dan bukan ketidakcukupan teknologi. Tantangan terbesar kita adalah menentukan arah. Kita memiliki jutaan sumber belajar, tetapi sering kehilangan tujuan belajar itu sendiri.

Ketika tujuan itu menjadi jelas. Misalnya, ingin bermanfaat, ingin memahami realitas, ingin memperbaiki diri, maka belajar berubah menjadi perjalanan yang pelan namun pasti. Kita mungkin tidak selalu produktif; mungkin tidak selalu tampil baik; mungkin nilai kita tidak selalu sempurna. Tetapi, kita tumbuh. Kita berubah. Kita menemukan diri yang lebih utuh. Tak usah tergesa-gesa, perlahan kita jawab: man ana?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *