Belajar Kembali pada Buku

Esai, Literasi801 Dilihat
Belajar Kembali pada Buku
Foto: Istimewa

Rudiana Ade Ginanjar

KETIKA HIRUK PIKUK pembicaraan buku-buku sastra kembali memasuki, atau diperhatikan, sekolah-sekolah tingkat menengah hingga dasar, saya cenderung berpikir sebagai titik cerah. Persoalan pendidikan harus juga merupakan persoalan seorang pengarang atau sastrawan. Ketika beragam alat pendidikan, teori-teori dan penatarannya, belum cukup untuk membentuk kemajuan nalar warga negara, maka di sinilah sisi lain dari peran para penulis muncul. 

Jangan Lewati: Sumpah Bergerak

Jamak dikemukakan bahwa persoalan pendanaan yang menjadi pokok dari kemandekan pendidikan. Seorang pelajar tidak lagi mampu bertahan untuk menimba ilmu karena ketiadaan dana, program-program pemerintah di bidang tersebut tidak bergerak maju juga karena terhambatnya aliran dana. Persoalan klasik. Selagi kita meneruskan bicara soal bea, kita kembali harus merenungkan pengalaman sejumlah pribadi yang patut diteladani. Baik mereka yang masyhur ataupun yang dibicarakan di seputar keluarga dan tetangga.

Tokoh-tokoh terbaik pelopor pendidikan kita tidak kurang banyak dan mengilhami. Dari kegigihan RA Kartini (1879-1904) hingga Ki Hajar Dewantara (1889-1959). Kisah mereka adalah teladan. Berikut pemikiran yang mereka wariskan untuk generasi masa depan. Kini kita dihinggapi perasaan malu dan takut tersebab persoalan klasik itu. Seakan kita serta-merta terhenti untuk mencari ketika bekal habis. Ketika tidak ada lagi sesuatu untuk memenuhi kebutuhan kita akan pengetahuan alih-alih sejumlah rencana yang terbengkalai. Apakah bahan untuk meraih keberhasilan pendidikan kita? Apakah cara berpikir kita lebih lambat, lebih kurang bersinar daripada kehidupan yang terus bergulir dan meminta jawaban ini? Di sini wanti-wanti yang dikatakan sang presiden pertama kita, Ir. Soekarno (1901-1970), benarlah adanya: lebih sulit mengisi kemerdekaan ketimbang meraihnya. Kesulitan yang juga dialami oleh tokoh utamanya V.S. Naipaul (1932-2018) dalam Mystic Masseur (Tabib Sakti, 2017).

Jangan Lewati: Senator Gus Hilmy Desak Presiden Ambil Peran Nyata di Krisis Kemanusiaan Sudan

Sesuatu yang juga dikeluhkan oleh sebagian besar kita hari ini untuk memilih antara ketiadaan pekerjaan di dalam negeri atau merantau ke mancanegara demi upah yang memadai. Upaya tiap manusia untuk bertahan hidup tentu benar. Sebenarnya pula, telah terjadi gerak penyeimbang dari pemerintah terhadap keberadaan pendidikan di Indonesia. Pola yang tidak lagi memusat pada satu tempat baik untuk politik atau perdagangan telah membagi sejumlah peluang termasuk pendidikan. Pemberitaan kini tidak lagi tertuju pada satu dua tempat. Keunggulan di bidang-bidang tertentu kini semakin merata. Kita mendapati seorang pelari kelas internasional dari kepulaun Nusa Tenggara, kemampuan ilmiah kini tidak lagi didominasi oleh salah satu suku tapi juga sekelompok muslim nusantara hingga turut membawa rasa bangga bagi kemajuan negeri. Menjadi Indonesia berarti melepas rasa kesukuan dan mewujud dalam diri pribadi yang mengatasi perbedaan-perbedaan alami. Sebagaimana novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk (1982) telah berangkat dari sekadar wacana lokal menjadi sejumlah isu nasional.  

Ilham Fiksi

Selalu timbul pertanyaan dalam benak: apakah buku-buku (fiksi) sekarang ini telah cukup mampu memikul persoalan pendidikan kita? Atau lebih jelas lagi: apakah sesuatu yang bersifat karangan itu hanya akan bisa berada dalam wilayah fantasinya semata? Kerja dari kepengarangan memiliki bagian akan tanggung jawab terhadap masyarakat. Ketika kitab suci meminta kita untuk mengajarkan meski hanya sebagian kecil yang kita tahu, setiap umat muslim berkewajiban untuk menyampaikan kebenaran. Meski sedikit. Dan buku-buku sastra memiliki pesan “tiruan” ini.

Setiap pengarang memiliki visi. Keinginan mereka akan tampak lebih jelas di zaman Balai Pustaka, ketika generasi mula-mula sastra Indonesia dibatasi dengan aturan ketat dan pragmatis. Seiring berjalannya waktu, zaman terus berubah, dan wajah pendidikan kita menanggung persoalan baru. Dari belenggu kuasa penjajah hingga menuju hegemoni lebih kompleks di masa nirkabel. Kitalah, Indonesia, yang menjadi sejenis suaka ketika gelombang pandemi penyakit menular melanda sepanjang separuh dekade silam.

Jangan Lewati: Dispusarda Lampung Timur Dorong Budaya Literasi Lewat Kelas Menulis Kreatif 2025

Negeri-negeri hijau menjadi jalan penyembuh sejumlah rencana internasional untuk meneruskan agenda mereka. Dan buku-buku sastra muncul silih berganti. Dari wujudnya yang religius hingga psikologis. Mengisi ruang-ruang pembacaan umum dengan judul-judul yang ekspresif, imbas wabah. Beberapa dari karya-karya sastra sekarang ini adalah suara jiwa yang cukup jujur. Mereka masih setia dan bertahan untuk tetap menjadi saksi dari sejarah kontemporer. Bertarung dengan sejumlah suara yang memuja masa silam dan suara-suara dari negeri seberang. 

Judul-judul yang mencatat peristiwa terkini telah menjadi pilihan bagi sejumlah sayembara puisi untuk diunggulkan dibanding pesaing lainnya. Sekali waktu, kritik bermunculan. Wacana terhadap kejadian yang berimbas pada keberlangsungan banyak pihak kini semakin riuh. Hanya kita yang masih mengingat pentingnya watak bangsa yang mampu menjaga keutuhan. Para penulis telah berusaha dengan kata-kata mereka, pengalaman mereka. Menyarikan segenap keluh kesah dan menawarkan sejumlah peluang.

Jangan Lewati: TBM Mekar Utama Tutup Festival Literasi Anak 2025 dengan Gelar Karya dan Peluncuran Buku

Buku-buku berbicara, mengajak, merayu atau bahkan mendesak kita untuk bangkit dari situasi sulit. Buku-buku itu tidak berpangku tangan. Dari bentuk didaktis sederhana hingga kebajikan yang luhur, di dalam diri mereka akan kita temukan jawaban. Setidaknya celah. Para pengarang membawa tujuan-tujuan mereka melalui kisah yang romantis, jenaka, tragis atau mengerikan. Sebagian kita mengerti hikmahnya, merenung-renungkan keindahan yang ada atau meraih satu semangat baru tatkala merampungkan keseluruhan dongeng. Lihatlah, yang dulu diajarkan pada kita sebelum terlelap, kini bisa kita lakukan sendiri pada diri kita. Untuk mewariskannya kelak pada keturunan. Dengan pemahaman yang benar, buku-buku cerita mendidik kita tidak kalah seru.

Rudiana Ade Ginanjar, lahir di Cilacap, 21 Maret 1985. Beberapa karyanya terhimpun dalam surat kabar, buku antologi bersama, dan media daring; antara lain: Horison, Seputar Indonesia, Suara Merdeka, Radar Banyumas, Harian Rakyat Sumbar, Solopos, Kedaulatan Rakyat, Jawa Pos, dan Koran Tempo.

Mau ngiklan di ejogja.ID? Klik: Pasang Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan