Apresiasi yang Menjadi Ancaman Bagi Mada Depan Generasi Muda

Literasi, Opini848 Dilihat
Apresiasi yang Menjadi Ancaman Bagi Mada Depan Generasi Muda
Foto: Istimewa

Hafiz Reyfansyah

Pernah suatu hari saya melihat teman yang mendapatkan apresiasi atas lomba yang ia menangkan. Jujur saya senang mendengar teman saya di apresiasi, tapi di sisi lain saya merasa sistem apresiasi seperti ini kadang tidak adil. 

Buktinya pernah saya rasakan sendiri saat saya kecil. Saya pernah melihat teman saya yang baru bisa naik sepeda dan ia mendapatkan apresiasi walaupun kecil. Tapi saat saya yang bisa naik sepeda, saya malah direndahkan bahkan ditantang untuk naik sepeda dengan lepas tangan. 

Jangan Lewati: Era Ketergesaan

Kasus yang saya ceritakan ini hanya contoh kecil dari sekian banyaknya kasus apresiasi yang tidak merata. Sudah banyak media yang berbicara tentang apresiasi yang tidak merata. Dari sini saja kita sudah bisa menduga kalau kasus ini nyata adanya.

Jika masih meragukan, maka sebagai salah satu bukti saya akan membagikan informasi dari sebuah artikel yang diterbitkan pada 12 Desember 2024. Dimana seorang murid tidak mendapat pengakuan saat menjuarai sebuah lomba. 

Tahukah kalian bahwa bagi seorang anak kecil atau remaja sekalipun apresiasi adalah hal yang luar biasa hebat jika ditujukan kepada diri mereka sendiri. Apresiasi juga dapat menjadi pondasi bagi mereka yang masih dalam tahap pembelajaran. Namun apa jadinya jika apresiasi tidak ditunjukkan karena konflik atau perasaan pribadi. 

Jangan Lewati: Disebut “Gus Taek”, Ini Jejak Gus Elham Yahya

Sama halnya saat saya belajar naik sepeda dulu, yang saya pikirkan hanyalah pengakuan bahwa saya bisa. Hal itu membuat saya yang dulu menerima tantangan melepas tangan saat naik sepeda. Dan hasilnya, saya terjatuh dan menangis, setelah itu tidak ada lagi main sepeda selama hampir satu pekan penuh karena rasa frustasi yang timbul. 

Dalam dunia pendidikan juga sama, kebanyakan murid berprestasi selalu mendapatkan apresiasi, tapi terkadang sistem apresiasi tidak berlaku bagi murid yang namanya sudah masuk ke dalam daftar hitam di mata guru. Hal seperti inilah yang bisa menyebabkan murid berhenti untuk melakukan hal yang bahkan tidak mendapatkan pengakuan meskipun hal tersebut berupa prestasi. 

Apa akibatnya jika semua ini berlangsung terus menerus? Sekilas masalah ini hanyalah masalah sepele, tapi sebenarnya masalah ini memiliki dampak negatif yang tidak bisa dibilang remeh. 

Jangan Lewati: Soeharto: Dari Sekolah Desa ke Panggung Sejarah

Salah satu dampaknya yaitu terbentuknya budaya toxic. Ketika apresiasi tidak merata dibiarkan terjadi, maka lingkungan berubah perlahan menjadi tempat dimana orang-orang belajar mencari muka untuk mendapat apresiasi, sedangkan usaha yang mereka tekuni tak memberikan satupun motivasi, dan pada akhirnya pertemanan, persaudaraan, dan kebersamaan selalu diiringi rasa iri dan dengki. 

Bukan hanya budaya toxic, tapi kualitas lembaga juga perlahan turun. Ketika sebuah organisasi memberikan apresiasi dengan tidak merata, maka mereka yang memiliki kemampuan akan pindah ke tempat yang lebih adil. 

Menurut saya pribadi, hal seperti ini dapat merugikan satu sama lain. Banyak siswa lebih berharap pada apresiasi bukannya prestasi, jika tak ada yang memberi apresiasi maka pencapaian besar pun terasa tak berarti. Akibatnya banyak siswa lebih hobi mencari muka, sedangkan mereka merasa hal terbodoh adalah usaha. Ibaratkan “sudah bodoh, dibodohi pula”.

Hal seperti ini tentu saja ada cara memperbaikinya, tapi sedia kah masyarakat untuk menanamkan keadilan dalam diri masing-masing? Karena keadilan itu sendiri adalah kunci untuk melawan apresiasi yang tidak merata dalam kehidupan. 

Jangan Lewati: Zohran Mamdani: Kisah Anak Imigran yang Mengubah Wajah New York

Kalau ada kesediaan menanamkan rasa keadilan, maka langkah awal yang dapat dilakukan adalah membangun kesadaran bahwa apresiasi tidak harus diberikan berdasarkan kedekatan atau rasa suka tetapi berdasarkan proses dan pencapaian yang objektif. Guru, orang tua, dan pihak sekolah perlu memiliki standar yang jelas tentang kapan dan untuk apa apresiasi diberikan. Ketika standar itu diterapkan secara konsisten, siswa tidak akan lagi bertanya-tanya siapa yang “disukai” dan siapa yang “dipinggirkan”. Mereka dapat melihat bahwa pengakuan datang dari usaha, bukan dari relasi.

Apresiasi tidak merata secara tidak langsung dapat mendorong kemunduran dalam generasi muda. Lebih parahnya lagi, masalah ini sering kali dianggap sepele sehingga dampak negatifnya semakin samar terasa.

Jangan Lewati: Sumpah Bergerak

Jika kondisi seperti ini tidak diperbaiki, generasi yang tumbuh di dalamnya akan belajar bahwa usaha tidak penting, keadilan itu relatif, dan pengakuan hanya milik mereka yang “dipilih”. Pada titik itu, kita bukan lagi berbicara tentang satu dua kasus kecil, tetapi tentang budaya yang rusak dari akar.

Hafiz Reyfansyah, Pelajar SMA Cirebon.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *