Kisah Lahirnya Kekuasaan dan Keyakinan: Agama Elite dan Agama Sipil

Esai, Literasi935 Dilihat
Kisah Lahirnya Kekuasaan dan Keyakinan: Agama Elite dan Agama Sipil
Foto: Ilustrasi Kisah Lahirnya Kekuasaan dan Keyakinan: Agama Elite dan Agama Sipil

Imam Nawawi bin ‘Athwi bin Jali

Pada tahun 2750 SM, ada seorang raja bernama Enmebaragasi. Namanya itu terdiri dari beberapa suku kata: “En” berarti kota suci Inanna; “Me” berarti mahkota atau orang suci; “Me” berarti raja; dan “Si” berarti memenuhi. Enmebaragesi berarti orang suci yang memenuhi tahta atau raja yang menyandang mahkota di kota Inanna. Sedangkan Inanna adalah nama lain Ishtar, seorang Dewi yang disembah. Dia diasosiasikan dengan politik kekuasaan, hukum ilahi, sensualitas, kecantikan, dan reproduksi.

Jangan Lewati: Ibu Ekologi

Lima abad kemudian pasca Enmebaragasi, tepatnya pada tahun 2334-2279 SM, muncul seseorang bernama Sargon. Ia datang dari Akkadia, sebuah wilayah di utara yang berjarak kisaran 240-320 km dari kota Inanna di selatan. Sargon memperkenalkan dewa sesembahan yang baru; Ilaba atau Zababa atau Marduk. Ilaba berarti Dewa Perang. Setelah memperkenalkan “agama” baru, didukung oleh keberhasilannya dalam banyak peperangan, Sargon mereformasi struktur kekuasaan dan politik. Sargon mengganti “kerajaan” (kingdom) dengan “kekaisaran” (empire). Politik dan kekuasaan yang semula feminis mulai mengenal yang maskulin.

Sejak era Sargon, politeisme mendapat legitimasi kekuasaan baik secara kultural maupun politik.  Penyembahan pada dewa-dewi ini mengkristal pada masa Raja-raja Neo-Assyiria, dimulai dari raja pertamanya Adad-nirari II tahun 911-891 SM. Raja-raja Neo-Assyiria ini menjadi semakin populer di tangan penguasa keduanya, yang bernama Ashurnasirpal II tahun 883-859 SM. Di bawah kepemimpinannya, Assyiria menjadi penguasa dominan kedua kalinya setelah keruntuhan Dinasti Sargon. Ashurnasirpal II dikenal brutal dan kejam dengan memperbudak orang-orang Kalhu dalam proses pembangunan ibukotanya di Kalhu, kemudian memberinya nama Nimrud. Raja Nimrud atau Ashurnasirpal II juga politeistik, hanya saja menambahkan satu dewa utama bernama Assur.

Jangan Lewati: Filsafat Tahun Baru: Sebuah Refleksi Atas Pertanyaan Apa yang Baru di Tahun Baru?

Agama politeistik telah mencapai puncaknya, setelah dipromosikan oleh kekuasaan dan politik. Namun, sebagaimana dalam dialektika Hegelian, gerak sejarah belum berakhir. Tuhan yang feminim digantikan oleh Tuhan yang maskulin, kemudian disentesakan menjadi agama baru politeisme. Keyakinan politeistik merupakan sistesa, yang nantinya akan menjadi tesa baru. Hanya saja, upaya anti-tesis terhadap politeisme tidak disertai oleh kampanye dan promosi kekaisaran. Oleh karenanya, gagasan-gagasan monoteis berakhir pada sebatas karya sastra.

Alkitab sebagai karya sastra adalah satu-satunya bukti historis upaya perlawanan agama monoteis terhadap keyakinan politeis. Mazmur 86:9 berbunyi: “segala bangsa yang Kaujadikan akan datang sujud menyembah dihadapan-Mu, ya Tuhan, dan akan memuliakan nama-Mu.” Teks ini menjelaskan agama monoteis yang dikampanyekan oleh Raja Daud. Namun, perlawanan monoteisme terhadap politeisme ini menghadapi banyak kendala, seperti digambarkan oleh Alkitab 1 Raja-raja 11:4 yang berbunyi: “sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada Tuhan, seperti Daud ayahnya.” Dalam Kitab 1 Raja-raja Bab 11 ayat 33 Perjanjian Lama dikatakan: “aku akan melakukan hal itu karena Salomo telah meninggalkan Aku dan menyembah dewa-dewa, yaitu Asytoret, dewi Bangsa Sidon; Kamos, dewa bangsa Moab; dan Milkom, dewa bangsa Amon.” 

Jangan Lewati: Dr. Ahmad Sihabul Millah Kembali Dilantik sebagai Rektor IIQ An Nur Yogyakarta Periode 2026–2029

Sebelum Jesus putra Maria datang, monoteisme masih merupakan keyakinan warga sipil dan politeisme sebagai keyakinan elite penguasa. Sebenarnya, Jesus an sich juga gagal menjadikan monoteisme sebagai agama kekuasaan. Para pengikut Jesus seperti Petrus dan Paulus juga gagal. Satu-satunya pengikut Jesus yang berhasil mengubah monoteisme menjadi agama penguasa adalah Kaisar ke-57 Kekaisaran Romawi Konstantinus Agung (306-337 M). 

Pada zaman Konstantinus Agung inilah dilaksanakan Konsili Nikea I tahun 325 M, yang patut diapresiasi karena memberikan kontribusi baru pada dialektika historis yang begitu panjang dan tak berujung. Konsili Nikea I melahirkan sebuah kredo yang berbunyi: “Jesus (Putra Allah – Sabda Allah) sehakikat dengan Allah Bapa.” Kredo ini menolak ajaran seorang imam paroki dari Baukalis, Alexandria, Mesir, Arius yang mengatakan bahwa Jesus bukan Allah tetapi makhluk ciptaan. 

Kontribusi Konstantinus Agung dan Konsili Nikea I sangat besar. Mereka tidak mengajarkan monoteisme versi King David atau Moses atau Jesus, tetai juga tidak mengajarkan politeisme seperti Raja-raja Neo-Assyiria dan King Solomo.  Saya akan menyebutnya Kekristenan Romawi sebagai agama “Mono-politeistik”. Konsep kekristenan Kekaisaran Romawi semacam ini adalah sintesis dari politeisme dan monoteisme. Dengan kata lain, Kekaisaran Romawi berhasil mempertahankan dan melestarikan kebudayaan religius lama (politeisme) yang sudah eksis sejak era Sargon dan mengambil kebudayaan religi baru (monoteisme) yang dipopulerkan King David. Kombinasi ala Kekaisaran Romawi belum pernah ada dalam panggung sejarah sebelumnya.

Jangan Lewati: Zaman Edan

Hukum sejarah atau dialektika Hegelian masih berlaku. Ketika Kekhilafahan Islam muncul pada abad ke-7 M, ia tampil sebagai anti-tesa baru bagi mono-politeisme. Sejak era Madinah Munawwarah, Khulafaurrasyidin, Daulah Umayah dan Daulah Abbasiyah, politik dan kekuasaan Islam memperkenalkan monoteisme klasik, seperti yang dikampanyekan oleh King David bukan seperti kampanye Konstantinus Agung. Dalam struktur dan sistem politik Islam, monoteisme klasik menjadi agama elite. Sementara mono-politeisme menjadi agama sipil. Monopoliteisme naik daun dan menjadi agama penguasa terjadi pada abad 10 M, ketika Abu Ali al-Manshur, seorang Khalifah ke-6 dari Dinasti Fatimiyah, mengaku dirinya sebagai Penjelmaan Tuhan. Jika orang-orang di Kekaisaran Romawi meyakini Jesus sehakikat dengan Allah Bapa maka orang-orang di Dinasti Fatimiyah meyakini Abu Ali al-Manshur adalah wujud nyata Tuhan di muka bumi.  (Bersambung)

Imam Nawawi bin ‘Athwi bin Jali, Dosen Sejarah Universitas Syeikh Nawawi Banten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 komentar