Ibu Ekologi

Kabar, Serat1563 Dilihat
ibu ekologi - serat maghfur mr
Foto: Istimewa

Maghfur M. Ramin

Ibu Ekologi tidak lahir dari kebutuhan untuk menobatkan seorang tokoh, melainkan dari kegelisahan yang lebih mendasar. Bagaimana manusia modern memahami relasinya dengan bumi. Di tengah krisis iklim, kerusakan lingkungan, dan ketimpangan pangan, bahasa teknokratis sering kali gagal menangkap dimensi etis dari persoalan ekologis. Ia sibuk mengukur, mengelola, dan mengendalikan, tetapi kerap lupa merawat.

Metafora “ibu” lahir sebagai cara membaca ulang hubungan manusia dengan alam. Bukan sebagai romantisasi, melainkan sebagai simbol etis tentang perawatan, keberlanjutan, dan relasi sosial. Ibu Ekologi menjadi penanda langkah hidup ekologis yang menempatkan kehidupan —manusia dan nonmanusia— sebagai sesuatu yang dijaga, bukan dieksploitasi.

Etika Perawatan

Peran keibuan dalam istilah Ibu Ekologi bersifat etis, bukan biologis. Ibu di sini tidak merujuk pada jenis kelamin atau fungsi reproduktif, melainkan pada cara merawat kehidupan. Keibuan dimaknai sebagai praksis menjaga keberlangsungan. Ia merawat tanah agar tetap subur, menjaga benih agar lestari, memelihara air agar tetap bersih, dan memastikan manusia hidup dalam relasi yang adil dengan lingkungannya.

Prinsip ini menolak logika eksploitatif dan menggantinya dengan ethics of care. Melalui In a Different Voice (1982), Carol Gilligan menunjukkan bahwa penalaran moral tidak selalu berangkat dari prinsip dominasi dan abstraksi universal, melainkan dari relasi, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap keberlanjutan kehidupan. Dalam pembacaan ekologis, etika ini sebagai penempatan relasi di atas dominasi, keberlangsungan hidup di atas akumulasi. Salah satu contoh praksisnya tampak pada kerja-kerja ekologis yang dijalani Nissa Wargadipura, pengasuh Pesantren Ekologi Ath-Thariq di Garut, Jawa Barat. Melalui keterlibatannya dalam pertanian berkelanjutan dan pendidikan komunitas, ia menghidupi apa yang dapat disebut sebagai maternal ethics of care terhadap bumi—sebuah etika yang memandang alam sebagai subjek kehidupan yang harus dirawat dan dibela, bukan sekadar objek produksi. Ngemong.

Ngemong terhadap bumi, sebagaimana ditegaskan Vandana Shiva, berlangsung melalui keberagaman. Seperti, keanekaragaman hayati dan keanekaragaman budaya. Monokultur, bagi Shiva, merupakan akar dari kerentanan ekologis dan sosial. Alam yang dipaksa seragam akan rapuh. Masyarakat yang dipaksa mengikuti satu model pembangunan akan tercerabut dari akarnya.

Dalam al-Futahat al-Makkiyyah (1999), Ibn ‘Arabi membingkai relasi Tuhan dengan alam sebagai relasi pemeliharaan dan pengasuhan berkelanjutan, bukan dominasi sepihak. Alam berada dalam jangkauan rahmah ilahi sebagaimana janin berada dalam rahim ibu. Dalam kerangka ini, manusia sebagai khalifah tidak dipahami sebagai penakluk ciptaan, melainkan sebagai pelaku ri‘ayah (perawatan) atas kehidupan yang diamanahkan kepadanya. Etika ini bersifat relasional dan kontekstual: tanggung jawab moral menguat dari keterhubungan eksistensial antara manusia, alam, dan Tuhan.

Praksis Membumi

Praksis ekologis dalam kerangka Ibu Ekologi bersifat membumi dan tidak berhenti pada wacana abstrak. Ia hadir dalam tindakan konkret sehari-hari. Dalam simbolisasi yang diwakili oleh Nissa Wargadipura, kita melihat praktik yang tidak memisahkan iman dari pangan, tidak memisahkan ibadah dari tanah, dan tidak memisahkan pendidikan dari keadilan ekologis.

Pesantren ekologi, pertanian keluarga, dan agroekologi bukan sekadar program, melainkan ruang di mana pengetahuan spiritual dan ekologis saling bertemu. Dalam ruang ini, doa tidak berdiri di luar kerja mencangkul tanah. Ibadah tidak berjarak dari proses menanam dan memanen. Pendidikan tidak tercerabut dari realitas petani dan desa. Praksis semacam ini mengkal dikotomi modern antara yang sakral dan yang profan, antara agama dan lingkungan, antara pengetahuan dan kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai religius tumbuh subur di lingkungan pesantren.

Ekopesantren menjadi penting karena ia merawat apa yang oleh Vandana Shiva disebut sebagai living knowledge. Pengetahuan tumbuh dari relasi langsung dengan alam, diwariskan melalui praktik, dan dijaga oleh komunitas. Pengetahuan semacam ini tidak selalu tertulis, tetapi hidup dalam laku harian.

Cara pandang tersebut sejalan dengan gagasan ekofeminisme Vandana Shiva tentang Mother Earth. Dalam Staying Alive: Women, Ecology and Development (1988), Shiva mengkritik logika patriarkal-kapitalistik yang memandang alam sebagai sumber daya mati yang sah untuk dieksploitasi. Sebaliknya, ia menawarkan cara pandang relasional yang menempatkan bumi sebagai entitas hidup yang memberi, sementara manusia sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang saling bergantung.

Shiva bahkan menyebut krisis ekologis sebagai bentuk violence. Kekerasan tersebut bekerja secara sistemik dan sering kali tak terlihat. Seperti, eksploitasi tanah, air, benih, dan hutan. Bukan hanya alam hancur lebur, tapi juga pengetahuan lokal dan cara hidup komunitas babak belur. Pertanian industrial, misalnya, tidak sekadar mengganti benih lokal dengan benih korporasi, tetapi juga menyingkirkan kearifan petani, ritme alam, dan relasi spiritual manusia dengan tanah.

Relasi Hidup

Ibu Ekologi sebagai relasi sosial kehidupan. Ia tidak berhenti pada isu lingkungan dalam arti sempit, seperti hutan, sungai, atau tanah. Tetapi, ia selalu terkait dengan relasi kuasa: antara petani dan negara, antara komunitas desa dan pasar global, antara pengetahuan lokal dan kebijakan pembangunan.

Praksis ekologi menyentuh soal kedaulatan pangan dan martabat komunitas desa. Tanah bukan sekadar lahan produksi, melainkan ruang hidup. Benih bukan sekadar input pertanian, melainkan warisan kultural. Pangan bukan sekadar komoditas, melainkan hak dasar. Dengan demikian, Ibu Ekologi hadir sebagai penjaga kehidupan dari dalam komunitas. Karenanya, tanggung jawab ekologis tidak dapat berjarak dari tanggung jawab sosial dan politik.

Ibu Ekologi harus tetap terbuka. Ia dapat dihidupi oleh siapa pun. Bisa perempuan dan/atau laki-laki, petani dan/atau pendidik, juga santri dan/atau warga. Dengan syarat, mereka menjalankan etika perawatan terhadap bumi dan sesama. Prinsip Ibu Ekologi mengajak kita mengajukan pertanyaan paling mendasar: bagaimana cara kita hidup di bumi ini? Apakah sebagai penakluk yang rakus, atau sebagai perawat kehidupan yang bertanggung jawab? Di tengah dunia yang kian terfragmentasi oleh kepentingan ekonomi dan politik, Ibu Ekologi merawat kesadaran bahwa masa depan bumi bergantung pada kita sebagai khalifah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *