Menjadi “Ateis” Islami: Teologi Negatif Ibn ‘Arabī sebagai Sintesa Ateisme dan Tauhid Sunni (Bagian 3)

Esai, Literasi636 Dilihat
Menjadi Ateis” Islami Teologi Negatif Ibn 'Arabī sebagai Sintesa Ateisme dan Tauhid Sunni Bagian III
Foto: Istimewa

Aldi Hidayat

Sintesa Teologi Negatif Ibn ‘Arabī, Ateisme dan Tauhid Sunni

            Sebelum menggabungkan tiga hal ini, penulis akan mengemukakan terlebih dahulu apa itu ateisme dan apa itu tauhid Sunni. Ini sebagai modal konstruksi, sehingga saat melakukan rekonsiliasi, bekal-bekalnya sudah memadai.

1. Ateisme

Ateisme berarti kepercayaan bahwa Tuhan itu tidak ada atau tiadanya kepercayaan akan adanya Tuhan (Martin, 2007, p. 1). Tidak percaya akan adanya Tuhan sama saja dengan mengatakan percaya bahwa Tuhan itu tidak ada. Demikian memang ateisme. Akan tetapi, di sini perlu diperjelas, apa saja ragam ateisme?

Menurut John Gray, ada 7 tipe ateisme (Bonk, 2019; Gray, 2018; Walker, 2019). Pertama, ateisme abad 19 yaitu tidak memerlukan Tuhan, karena sains sudah cukup bagi umat manusia. Kedua, humanisme sekuler yaitu hidup itu cukup fokus pada kemanusiaan tanpa perlu memedulikan urusan Tuhan. Ketiga, God-Haters (para pembenci Tuhan) yaitu ateisme yang menitikberatkan pada adanya ketidaknyamanan di dunia (siksa, sedih, duka, lara dan lain seumpamanya) yang kemudian berujung pada pengingkaran akan adanya Tuhan. Keempat, agama sains yaitu kelanjutan dari ateisme abad 19. Agama sains biasa disebut saintisme, di mana sains benar-benar diyakini sebagai Tuhan lalu benar-benar diberdayakan untuk membuktikan klaim demikian.

Jangan Lewati: Menjadi “Ateis” Islami: Teologi Negatif Ibn ‘Arabī sebagai Sintesa Ateisme dan Tauhid Sunni (Bagian 2)

Kelima, agama politik modern yaitu menitikberatkan pada penghilangan Tuhan dan embel-embelnya dari ranah politik. Dengan kata lain, ini merupakan sekularisasi politik. Keenam, ateisme tanpa progres yaitu anggapan bahwa semua terjadi secara mekanis (tak ubahnya mesin), termasuk agama, sehingga agama hanya salah satu bagian dari cara kerja alam, bukan sesuatu yang harus diyakini. Ketujuh, ateisme diam yaitu menolak apa pun tentang Tuhan. Artinya, semua tentang Tuhan itu semu dan palsu.

2. Tauhid Sunni

Kata Sunni sebenarnya singkatan dari Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Aswaja). Golongan ini diyakini sebagai perwakilan Islam yang sesungguhnya. Artinya, golongan ini mendapat predikat sebagai yang paling benar, bahkan satu-satunya yang benar. Meski demikian, siapa yang berhak menyandang golongan ini masih diperdebatkan. Tidak hanya itu, status Aswaja sebagai yang paling benar masih diperselisihkan. Terlepas dari perselisihan itu, yang pasti kebanyakan muslim menilai inilah golongan yang selamat.

Dalam konteks teologi, golongan yang masuk dalam kategori Aswaja adalah Asy’ariyah (aliran teologi Islam yang didirikan oleh Abū al-Ḥasan al-Asy’arī) dan Māturīdiyyah (aliran teologi Islam yang didirikan oleh Abu Manṣūr al-Māturīdī). Ada dua kata kunci dalam memahami tauhid Sunni, yaitu Żāt dan Ṣifāt. Tuhan punya Dzat sekaligus sifat. Meski demikian, sifat-Nya tidak seperti sifat makhluk lainnya, meskipun namanya sama.

Jangan Lewati: Menjadi “Ateis” Islami: Teologi Negatif Ibn ‘Arabī sebagai Sintesa Ateisme dan Tauhid Sunni

Itu dibuktikan oleh pernyataan Sayyid Muḥammad ibn ‘Alawī al-Mālikī, ulama besar Sunni abad 20. Dia menyatakan:

اَلْحَمْدُ لِلّهِ وَحْدَهُ، لِأَنَّ كَمَالَهُ سُبْحَانَهُ هُوَ الْكَمَالُ الذَّاتِيُّ الْمُنَزَّهُ عَنِ الْحُدُوْدِ الْمُطْلَقِ عَنِ الْقُيُوْدِ وَكُلِّ مَا اتَّصَفَ بِهِ سِوَاهُ مِنْ عِلْمٍ وَحَيَاةٍ وَسَمْعٍ وَبَصَرٍ وَكَلَامٍ وَغَيْرِ ذلِكَ مِنْ صِفَاتٍ حَتَّى الْوُجُوْدِ.

Segala puji hanya bagi Allah Swt, karena kesempurnaan-Nya adalah kesempurnaan substansial yang suci dari batas serta bebas dari kekangan dan sifat-sifat selain-Nya, seperti mengetahui, hidup, mendengar, melihat, berbicara dan lain sebagainya, termasuk sifat ada (Mālikī, n.d., p. 5) (Maliki, 2022, p. 17).

3. Ateis Islami

Bagaimana mungkin mengislamkan ateisme? Barangkali inilah pertanyaan yang terbesit di benak pembaca. Guna menjawabnya, penting kita telusuri sejarah ateisme. Ini dalam rangka memperjelas apakah ateisme benar-benar ingkar Tuhan atau ingkar sesuatu yang terlanjur diyakini sama persis dengan Tuhan.

Ateisme lahir di Barat, khususnya Eropa. Ada tiga problem yang mengantarkan Eropa menjadi seperti sekarang ini (Hasan, 2014, pp. 48–49; Husaini, 2015, pp. 30–57). Pertama, problem ketuhanan, yaitu trinitas. Sederhananya, bagaimana mungkin Yesus yang jelas-jelas manusia didapuk sebagai Tuhan. Kedua, problem kitab suci, yakni Bibel. Ada banyak sekali versi Bibel, hingga susah ditemukan yang asli. Ketiga, inquisisi yaitu pembantaian bagi siapa saja yang berbeda pandangan dengan gereja.

Dari situlah, Barat menjadi sekular (memisah agama dan negara), material (yang ada hanya yang bisa diindera) dan liberal (hidup sebebas-bebasnya tanpa terikat pada agama). Termasuk dampak dari 3 problem tadi ialah ateisme. Jadi, di balik ateisme ada psikologi trauma akan sisi kelam sejarah. Sisi kelam sejarah itu ialah 3 problem di atas. Itu sebenarnya inti dari ateisme.

Jangan Lewati: Zaman Edan

Lebih lanjut, ateisme bergandengan tangan dengan teologi negatif bahwa Tuhan itu tidak ada. Hanya saja, berbeda dengan ateisme yang terlanjur memukul rata ketiadaan Tuhan, teologi negatif “meniadakan” Tuhan karena Dia melampaui seluruh kategori ada alias supra-ada. Ke-supra-an-Nya menjadikan Tuhan taksa bagi ateis antara di luar jangkauan ada atau benar-benar tidak ada. Lebih tegasnya, ateis masih terperangkap la ilāha (sama sekali tidak ada Tuhan) namun belum melangkah ke illā Allāh (kecuali Allah). Berbeda dengan tauhid Sunni yang masih mempertahankan perspektif positif atas Tuhan, teologi negatif melangkah lebih jauh. Dengan kata lain, teologi negatif bergerak melampaui, yaitu dengan terus mencari dan mengingkari temuan tentang Tuhan. Lebih padatnya, mengingkari Tuhan dalam rangka beriman. Di sinilah, teologi negatif berjumpa dengan pernyataan Jacques Derrida, Je ne sais pas. Il faut croire: Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya beriman (Fayyadl, 2005, p. 186).

Senarai Pustaka
  • ’Arabī, I. (n.d.-a). Al-Futūḥāt al-Makkiyyah (Vol. 6). Dār al-Kutub al-’Ilmiyyah.
  • ’Arabī, I. (n.d.-b). Fuṣūṣ al-Ḥikam (Vol. 1). Dār al-Kitāb al-’Arabī.
  • ’Arabī, I. (2001). Rasā’il Ibn ’Arabī. Dār al-Kutub al-’Ilmiyyah.
  • Bonk, J. (2019). Review Book: Seven Types of Atheism by John Gray. Journal of Sociology and Christianity, 9(1).
  • Fayyadl, M. A.-. (2005). Derrida. LKiS.
  • Fayyadl, M. A.-. (2009). Teologi Negatif Ibn ’Arabi: Sebuah Kritik atas Metafisika Ketuhanan [Skripsi]. Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga.
  • Gray, J. (2018). Seven Types of Atheism. Farrar, Straus and Giroux.
  • Hasan, M. A. (2014). Liberal Pesantren: Kontestasi Rivalitas Melawan Kemapanan. Muara, XXXVI.
  • Husaini, A. (2015). Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal. Gema Insani Press.
  • Maliki, S. M. bin A. al-. (2022). Dialah Allah Swt yang Kita Sembah: Pedoman Akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Diva Press.
  • Mālikī, S. M. ibn ’Alawī al-. (n.d.). Huwa Allāh.
  • Martin, M. (2007). General Introduction. In The Cambridge Companion to Atheism. Cambridge University Press.
  • Murnita, T. (2020). Diskursus Transenden dan Imanen Tuhan Menurut Ibn ’Arabi (1165-1240 M) [Skripsi]. Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Syarif Kasim.
  • Walker, A. (2019). Seven Atheism: Exploring the Varieties of Atheism in John Gray’s Book Seven Types of Atheism. Christian Evidence Society.

Aldi Hidayat, Dosen Fakultas Ushuluddin Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) An-Nur Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *