Ini Lebaran Anak Yatim

Literasi, Opini910 Dilihat

Ini Lebaran Anak Yatim

Jamilludin, S.Sos.I., M.A

Setiap tanggal 10 Muharram, umat Islam mengenalnya sebagai Hari Asyuro. Hari ini bukan hanya istimewa karena sejarahnya yang sarat peristiwa spiritual dan kenabian, tetapi juga karena dalam tradisi masyarakat Muslim Indonesia, 10 Muharram menjadi hari kepedulian terhadap anak yatim. Peringatan ini telah lama menjadi bagian dari budaya keagamaan yang inklusif, menyatukan ibadah dan kemanusiaan dalam satu napas.

Jangan Lewati: Majelis Ta’lim wal Mujahadah Padang Jagad Gelar Peringatan Asyuro di Ponpes Al-Munawwir Krapyak

Dalam khazanah keislaman Nusantara, ulama besar seperti KH Sholeh Darat—guru dari Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari dan RA Kartini—menjelaskan dalam karyanya Lathaifut Thaharah wa Asrarus Shalah, bahwa 10 Muharram adalah hari untuk bergembira dengan sedekah, terutama kepada anak yatim dan fakir miskin. Ini menjadi pengingat bahwa keberagamaan kita tidak hanya diukur dari banyaknya ibadah pribadi, tetapi juga dari kepedulian sosial yang kita tunaikan.

Al-Qur’an pun secara eksplisit menyebutkan pentingnya memperhatikan anak yatim. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 220, Allah berfirman: Tentang dunia dan akhirat. Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang anak-anak yatim. Katakanlah, memperbaiki keadaan mereka adalah baik. Jika kamu mempergauli mereka, mereka adalah saudara-saudaramu.”

Jangan Lewati: Senator DPD RI Asal DIY: Kecam Serangan Amerika ke Iran, Dorong PBB Lakukan Investigasi

Ayat ini tidak hanya mengatur hubungan administratif terhadap harta anak yatim, tetapi juga menegaskan nilai persaudaraan dan tanggung jawab sosial yang melekat pada umat Islam terhadap mereka.

Salah satu kisah menyentuh dari ulama klasik adalah dari kitab Durratun Nashihin karya Syekh Utsman bin Hasan al-Khuwairy. Pada suatu hari raya, Rasulullah ﷺ melihat seorang anak kecil berpakaian lusuh. Ia menangis di tepi jalan sementara anak-anak lain bermain dengan gembira. Setelah diajak berbicara, anak itu mengaku bahwa ia telah kehilangan ayahnya dalam peperangan bersama Rasulullah, ibunya menikah lagi dan ia pun terusir dari rumah.

Rasulullah merasa sangat iba. Dengan penuh kasih sayang, beliau mengajukan tawaran luar biasa, “Maukah kamu jika aku menjadi ayahmu, Aisyah menjadi ibumu, Hasan dan Husein menjadi saudara laki-lakimu, dan Fatimah menjadi saudara perempuanmu?” Anak yatim itu pun menerima dengan bahagia. Rasulullah membawanya pulang, memandikannya, memberinya pakaian baru, makanan lezat, bahkan parfum yang harum.

Jangan Lewati: Game Online menusuk Kualitas dan Kreativitas Santri

Keesokan harinya, anak itu bermain dengan wajah ceria. Ketika teman-temannya bertanya, “Bukankah kamu yang kemarin menangis? Mengapa sekarang tampak bahagia?” Ia menjawab dengan bangga, “Dulu aku lapar, kini kenyang. Dulu aku yatim, kini Rasulullah adalah ayahku.” Anak-anak lain sampai berkata, “Seandainya ayah kami gugur di jalan Allah, mungkin kami bisa seberuntung kamu.”

Kisah ini tak hanya menunjukkan sisi empatik Rasulullah, tetapi juga mengajarkan kita bahwa merawat anak yatim adalah ibadah yang penuh kemuliaan. Rasulullah sendiri bersabda, “Aku dan orang yang menanggung anak yatim (kedudukannya) di surga seperti ini,” sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah yang berdampingan (HR. Bukhari).

Sayangnya, di tengah masyarakat modern, kepedulian semacam ini justru kerap tergantikan oleh kesibukan dan keindividualan. Padahal, Al-Qur’an mengingatkan dengan sangat tegas dalam surat Al-Ma’un: “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim.” (QS. Al-Ma’un: 1-2).

Jangan Lewati: Pendidikan adalah Tindakan Politik

Dalam konteks hari Asyuro, menyantuni anak yatim bukan sekadar menjalankan tradisi, tetapi juga menyambung jejak kenabian. Ini wujud bentuk kasih sayang dan keberpihakan pada yang lemah. Ini adalah bentuk nyata dari ibadah sosial yang sangat dianjurkan: berbagi makanan, perhatian, dan pelukan kehangatan kepada mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Jamilludin, S.Sos.I., M.A, Penyuluh Agama Islam KUA Sedayu Bantul DIY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *