Menautkan Langit dan Bumi: Seruan Prof. Amin Abdullah untuk Dosen Muda Bangun Integrasi Keilmuan dan Keislaman

Kabar, Sleman2208 Dilihat
Menautkan Langit dan Bumi: Seruan Prof. Amin Abdullah untuk Dosen Muda Bangun Integrasi Keilmuan dan Keislaman
Foto: Prof. M. Amin Abdullah saat penyelenggaraan PKDP 2025

ejogja.ID | Yogyakarta – Ruang auditorium di University Hotel UIN Sunan Kalijaga itu dipenuhi wajah-wajah penuh harap dan antusias. Ratusan dosen muda, peserta Pelatihan Kompetensi Dosen Pemula (PKDP) yang hadir secara luring dan daring, duduk menyimak—sebagian dengan pensil yang terus menari di kertas catatan, sebagian lain merekam tiap kata dengan ponsel mereka. Suasana sore itu, Senin, 21 Juli 2025, bukan sekadar sesi pelatihan biasa. Di hadapan mereka berdiri seorang tokoh penting dalam dunia pemikiran Islam kontemporer: Prof. M. Amin Abdullah.

Jangan Lewati: PKDP 2025, Dosen Profesional: Membangun Peradaban dari Ruang Kelas

Dengan suara lantang dan pembawaan khas intelektual sejati, Prof. Amin membentangkan sebuah tema besar: Membangun Integrasi Keilmuan dan Keislaman. Sebuah ajakan yang bukan hanya retoris, tapi mendesak dan relevan, terutama bagi para dosen muda yang sedang menapaki awal karier akademik mereka.

Akar Integrasi: Memahami Relasi Agama dan Sains

Mengawali sesi, Prof. Amin langsung mengutip Holmes Rolston, seorang filsuf ekologi terkemuka: “The religion that is divorced from science today will leave no offspring tomorrow.”

Kutipan ini tersampaikan dengan nada yang membakar. Sejumlah peserta tampak mengangguk pelan, menangkap maksudnya: bahwa agama, termasuk Islam, tidak bisa lagi berjalan sendiri tanpa berdialog dengan ilmu pengetahuan.

“Tidak hanya single disiplin (Fikih; Kalam); tidak hanya antara disiplin ilmu yang serumpun agama (Fikih, Tafsir, Tasawuf), tetapi juga antarrumpun ilmu (Alam, Sosial, Humaniora),” tegas Prof. Amin.

Salah satu peserta, dosen muda dari IIQ An Nur Yogyakarta, menyisipkan bisikan pada rekannya, “Akhirnya ada yang ngomong langsung soal ini. Kita sering kali merasa terpisah.”

Jangan Lewati: Dari Warung Soto ke Gerbang UGM: Anyndha Taklukkan Batas dengan Tekad

Prof. Amin melanjutkan: “Ilmu-ilmu agama tidak terkecuali. Ia tidak dapat berdiri terpisah dari keilmuan lain—Biologi (DNA), Sosiologi, Antropologi.” Suasana forum semakin hidup. Ada yang mencatat cepat. Ada pula yang mengernyit, mencerna konsep lintas disiplin yang baru saja menghangatkan suasana. Integrasi dan interkoneksi semacam ini terus menggema. “..agar tidak punah”, kelekarnya yang disambut tepuk tangan tanda paham maksud ‘punah’.

Intelektual Muslim Kontemporer sebagai Inspirasi

Menggeser fokus ke dunia pemikiran kontemporer, Prof. Amin menyebut sejumlah nama penting: Ebrahim Moosa, Nidhal Guessoum, Ibrahim M. Abu-Rabi’, Abdul Karim Sorous, Jasser Auda, dan Muhammad al-Mistiry.

Ia tak sekadar menyebut, tapi menghidupkan pemikiran mereka. Ia memancing audiens dengan pertanyaan:

“Mengapa perlu pendekatan multi-, inter-, dan multidisiplin (integrasi-interkoneksi) keilmuan?”

Sebelum hadirin sempat menjawab, ia melanjutkan dengan kutipan dari Ebrahim Moosa:

“Having raised the question of international relations, politics, and economics, that does not mean that scholars of religion must become economists or political scientists. However, the study of religion will suffer if its insights do not take cognizance of how the discourses of politics, economics, and culture impact on the performance of religion and vice versa.”

Jangan Lewati: Belajar Tak Lagi Membosankan: Mahasiswa UAD Kembangkan Media Interaktif Berbasis Android

Para peserta—yang berasal dari rumpun studi keislaman, ekonomi syariah, hingga ilmu sosial—tampak saling berpandangan. Sebagian mulai membayangkan kemungkinan sinergi lintas jurusan, lintas tradisi akademik.

Pendekatan Baru dalam Pengajaran

Menutup sesi, Prof. Amin bicara tentang bagaimana mengajar—bukan dengan cara lama, tetapi dengan pendekatan baru yang penuh dengan semipermeable, intersubjective testability, dan creative imagination.

“Sains, sosial-humaniora, dan agama harus menjadi pendekatan yang terintegrasi,” ujarnya. Lebih khusus lagi, ketika dosen menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS).

Salah satu peserta dari Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga terlihat menyunggingkan senyum kecil. “Ini semacam validasi dari keresahan yang selama ini saya rasakan saat mengajar,” katanya stelah tarik nafas kecil.

Atmosfer forum saat itu tak lagi hanya satu arah. Sesi tanya jawab bergulir. Beberapa dosen pemula mengajukan pertanyaan kritis, sementara yang lain mengangkat pengalaman pribadi mereka mengajar di kelas yang makin kompleks.

Jangan Lewati: Berteman dengan Nilai, Bukan Sekadar Akrab

Dengan semangat yang tak biasa dan kutipan yang menggugah, Prof. M. Amin Abdullah tak hanya memberi ceramah. Ia menyalakan lentera pemikiran baru bagi generasi dosen muda—bahwa mengajar hari ini bukan lagi tentang mentransfer ilmu, tapi menjahit ulang seluruh lanskap keilmuan agar relevan, menyatu, dan bermakna.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *