Menginterupsi Sekulerisme
Sekulerisme menegaskan bahwa semakin maju peradaban, maka agama tidak akan dibutuhkan. Antitesa atas hal ini, penulis tegaskan semakin maju peradaban, maka waktu akan menyeleksi agama mana yang layak bertahan sampai akhir zaman. Agama dalam lintasan sejarah memang menorehkan catatan kelam; perang, penindasan, perbudakan dan lain seterusnya. Hanya saja, belum dikaji lebih dalam tentang variabel apa yang paling menentukan tragedi-tragedi tersebut; agama atau politik atau pula politik yang bertopeng agama? Dahulu dan sekarang sama-sama terjadi perang, namun mengapa agama yang dikambing-hitamkan? Tidakkah kontinuitas perang apalagi belakangan ini sempat dihebohkan dengan Perang Dunia III menunjukkan ada variabel lain yang luput dari perhatian. Apa dalang utama konflik dan peperangan? Agama atau the will to power?
Paragraf di atas tidak akan penulis lanjutkan sebab semata pemantik renungan mengenai agama dan manusia. Kembali pada persoalan agama, agama identik dengan doktrin dan mitos. Beberapa doktrin dan terutama mitos-mitosnya pelan tapi pasti digerogoti oleh rasio modern; ilmu eksakta dan ilmu humaniora. Akibatnya, beberapa pihak yang terkerangkeng pemahaman mitologis atas agama menilai agama tidak lagi relevan. Adapun doktrin agama mendapat tantangan keras dari zeitgeist (semangat zaman) sekarang yaitu kehendak bebas. Manusia terlahir merdeka, maka mereka berhak menentukan siapa dirinya bukan disuruh-suruh oleh agama. Jadi, ada tiga problem yang menjangkiti agama; fase kelam kekerasan, unsur mitologis dan kekangan doktrinal. Ketiganya praktis merupakan pukulan telak kepada agama. Tetapi, penulis menemukan kemungkinan lain bahwa tiga problema di muka bukan pukulan telak kepada agama tapi pengelupasan elemen tradisional agama untuk menemukan elemen barunya yang segar-bugar.
Jangan Lewati: Ini Lebaran Anak Yatim
Pada poin ini, penting dihayati jantung agama akan tetap amerta yaitu spiritualitas dan statusnya secara filosofis. Spiritualitas adalah kedewasaan dan kedamaian batin, sedangkan status filosofis agama adalah acuan paten. Manusia senantiasa mendamba kedamaian batin yang di situ agama sangat berperan. Di sisi lain, sekulerisme–yang menciutkan peran agama ke ranah privat–tanpa disadari menjadi agama baru; agama yang fokus pada kini dan di sini dan melalui pertautannya dengan kapitalisme, inovasi dan kreasi menjadi ibadah baru manusia sekarang. Artinya apa? Agama tidak akan pernah sirna sebab manusia senantiasa mencari acuan, pedoman dan kerangka yang paling ideal sepanjang trajektori peradaban. Yang terjadi sebenarnya kontestasi antaragama dalam pengertiannya yang filosofis bukan konvensional (secara resmi disebut agama; Islam, Kristen, Budha dll). Nah, tepat di titik ini, penulis hendak mengemukakan cetak biru Islam kosmopolitan.
Krisis Paradigmatis Islam dan Modernitas
Kosmopolitan berasal dari dua kosakata Yunani, cosmos yakni dunia dan polites yaitu kota; kota dunia. Kosmopolitan dengan demikian adalah pandangan yang menempatkan manusia itu sama tanpa dibatasi oleh sekat negara, bangsa dan budaya. Hanya saja, kosmopolitan tidak sama dengan plin-plan karena kosmopolitan tetap menghormati jati diri setiap individu, tradisi, budaya dan lain seterusnya. Titik tekan kosmopolitan bukan menyeragamkan semua yang berbeda tapi liyaning liyan (membiarkan yang lain tetap pada ke-lain-annya, keunikannya) sekaligus memberi mereka kebebasan untuk saling belajar satu sama lain.
Jangan Lewati: Daftar! SPMB SMK Depok DI Yogyakarta 2025-2026
Dalam kaitannya dengan Islam, kosmopolitan sehembus dengan predikat Islam sebagai rahmatan li al-alamin, namun masih pada level wejangan belum kerangka keilmuan. Target tulisan ini adalah mengapungkan postulat “akidah” bagi Islam kosmopolitan. Untuk itu, penting disadari terlebih dahulu paradigma yang mengerangka-cum-mengerangkeng Islam selama 14 abad. Paradigma dominan keislaman kita ialah teosentrisme-eskatologis; berpusat kepada Tuhan dan akhirat. Manifestasinya adalah membludaknya ritual (amalan untuk kaya, untuk dapat jodoh dll) dan pola pikir fiqih-sentris (apa hukumnya) di masyarakat. Resikonya, jantung ibadah dalam Islam yaitu intelektual (keilmuan), sosial (dampak positifnya bagi manusia bukan dampak prestise yaitu keren apa tidak) dan spiritual (pembersihan hati nurani dari sifat-sifat tercela) terbengkalai. Semuanya masih menjadi wejangan yang mengawang-awang di langit padahal manusia wa bi al-khusush umat Islam hidup di bumi.
Sementara itu, modernitas dengan sekian kaki-tangannya meliputi sekulerisme, rasionalitas, kapitalisme dll mengapungkan paradigma kebalikannya; antroposentrisme yaitu berpusat ke manusia. Manifestasinya ialah merayakan kebebasan, menyemarakkan kompetisi antarindividu dan mengeramatkan kreasi dan inovasi. Resikonya adalah sakralisasi laba dengan memperalat kreatifitas dan inovasi, memunculkan term sakral baru seperti disiplin dll untuk kemudian mendesakralisasi manusia dan lingkungan. Atas nama kemajuan maka tanpa disadari manusia diperas untuk melayani sistem dan lingkungan dieksploitasi demi mencapai utopia (kemajuan surgawi yang entahlah apa benar-benar dicapai suatu saat nanti). Yang terjadi justru distopia atau bahkan kakotopia; masa depan yang serba suram dan buram.
Jangan Lewati: Gaji Hakim Naik Bukan Solusi Tepat
Pangkal persoalan dua paradigma di atas ialah krisis keseimbangan antara Tuhan, manusia dan alam. Krisis itu coba penulis telaah terlebih dahulu dari sikap Islam menghadapi kenyataan. Dalam menyikapi kenyataan, Islam memunculkan doktrin dakwah yang secara umum terbagi tiga; bil al-aqwal (kata-kata baik lisan maupun tulisan), bi al-af’al (aksi nyata) dan bi al-ahwal (keteladanan). Sayangnya, tiga metode dakwah ini sering sebatas retorika karena modernitas memunculkan versi “dakwah” baru yang lebih menghujam bernama rekayasa social (social engineering). Berbeda dengan dakwah yang surplus wejangan, defisit penalaran, rekayasa sosial berkiblat pada penelitian multi-interdisipliner. Gampangnya, apa yang manusia mau? Manusia butuh gengsi dan reputasi, maka dibuatlah kemudian produk-produk yang penuh sensasi di hampir semua lini; transportasi, telekomunikasi dan lain sebagainya. Jika dulu perempuan didoktrin untuk menutup diri, maka modernitas membius mereka dengan semangat kehendak bebas untuk memamerkan dirinya sebab sudah diketahui secara psikologis bahwa perempuan itu narsis.
Cetak Biru (Blueprint) Islam Kosmopolitan
Persoalannya bukan menolak semangat zaman lalu kembali ke masa silam karena itu mustahil. Persoalannya adalah bagaimana menginterupsi zaman supaya tidak bablas dalam memperlakukan manusia, Tuhan dan lingkungan. Untuk itu, cetak biru Islam kosmopolitan kini dimulai. Pertama, di ranah pemikiran-cum-keyakinan, Islam terbagi kepada dua; akidah dan syariah. Akidah berisi sistem pemikiran yang diindoktrinasi sebagai rumusan yang benar bahkan paling benar tentang Tuhan. Sementara itu, syariah berisi ritual (ibadah langsung ke Tuhan) dan tatakrama kepada manusia dan lingkungan. Dua rumpun ini diperlakukan secara doktrinal sehingga sering beresiko kekerasan baik wacana maupun raga. Karena itu, postulat pertama Islam kosmpolitan ialah merestorasi akidah bahwa akidah bukan sistem pemikiran paling benar tentang Tuhan melainkan cinta kepada Tuhan. Sebab jika akidah hanya dipahami sebagai sistem pemikiran, maka resikonya ialah penjajahan nalar; Sunni menyesatkan Syiah, Muktazilah atau sebaliknya dengan menjadikan politik sebagai ujung tombaknya. Itulah yang menimpa umat Islam salaf.
Jangan Lewati: Meningkatkan Ketahanan Pangan, DPD RI DIY Gerakkan Petani Gunung Kidul
Sebaliknya, jika akidah dimaknai sebagai cinta kepada Tuhan, maka duduk perkaranya bukan lagi mana sistem pemikiran paling benar melainkan bagaimana menerjemahkan Islam sebagai pesan yang rahmatan. Jadi, logika dalam akidah tidak lagi hierarkis melainkan egalitarian; memunculkan dialog damai, sehat dan progresif antarsekian argument tentang akidah. Manifestasi akidah ini adalah menjalankan spirit iqra’; membaca alias mendalami sekian banyak ilmu tanpa diteror oleh embel-embel identitas, misal ini dari Barat, maka dari itu sesat. Itu karena ilmu sejatinya netral. Yang tidak netral ialah demi tujuan apa ilmu itu nanti digunakan?
Kedua, memasuki dimensi syariah, keislaman masa kini hanya fokus ke mengkonservasi warisan masa silam. Ilmu-imu keislaman masa kini semuanya berasal dari fase salaf; ushul fiqih, tafsir, fiqih, ilmu hadits dll. Semua itu bagaimana pun berharga, tetapi arus zaman akan selalu berbeda sehingga jika Islam tidak punya agenda progresif, maka mereka hanya akan menjadi konsumen; konsumen era salaf dan konsumen peradaban Barat. Lalu kapan Islam akan menjadi produsen? Syariah selama ini berurusan dengan tata laku kepada Tuhan (ibadah), interaksi antarmanusia (muamalah) yang nantinya juga meliputi tata cara warisan (fara’idl), pernikahan (munakahah), kriminalitas (jinayah) dan politik (siyasah). Semua tema ini masih berpusat pada das sollen (yang seharusnya). Adapun analisa atas das sein (yang senyatanya) disediakan ilmu humaniora; sosiologi, antropologi, psikologi, ekonomi dll yang semuanya dari Barat.
Jangan Lewati: Banyak Doktor, Banyak Predator
Untuk kawasan ini, penulis tidak bermaksud mengajukan ilmu versi Islam misal sains Islam karena yang demikian beresiko cocoklogi atau pemaksaan argumentasi. Postulat kedua Islam kosmopolitan setidaknya sudah disediakan oleh epistemologi pengilmuan Islam Kuntowijoyo dalam ranah ilmu humaniora. Fokus pengilmuan Islam bukan menafsirkan Islam dengan kerangka sains dan ilmu numaniora, tapi mencari inspirasi dari khazanah keislaman untuk memunculkan inovasi. Inovasinya menghamba pada asas keseimbangan antara Tuhan, manusia dan alam. Asas inovasi sekarang ialah memudahkan manusia sehingga beresiko seperti kata Karl Marx, the production of too many useful things results in too many useless people; memproduksi terlalu banyak barang berguna akan menghasilkan terlalu banyak rakyat yang tidak berguna. Contoh nyatanya AI yang akan menggerus kecerdasan dan pekerjaan.
Ketiga, dalam Islam terdapat perintah dan larangan. Kekeliruan pola pikir rerata umat Islam dalam hal perintah (amr ma’ruf) adalah terlalu melangit sampai manusia hidup di bumi. Atas nama idealitas Islam, maka sekian banyak hal-hal positif dikesampingkan. Sementara itu, menyikapi larangan, sikap umat Islam semi-radikal dan belum menemukan pijakan paradigmatis yang senafas dengan fitrah manusia. Poin penting postulat terakhir ini adalah pemetaan susila, su-sosial dan sosial dalam membaca perilaku manusia dalam kaitannya dengan ajaran Islam. Susila berkaitan dengan pantas/tidak, seperti tata cara busana. Su-sosial (susila yang perlahan berdampak pada sosial) berkaitan dengan sikap pantas/tidak tapi lambat laun akan berdampak pada sosial, seperti pantas-tidak orang main game seharian? Pantas karena itu hak dia. Tetapi, persoalannya, jika dia kecanduan game, maka dia akan a-sosial bahkan dapat terkena penyakit mental. Terakhir, sosial yaitu berdampak/tidak ke manusia baik individual maupun sosial.
Jangan Lewati: Andaikan Saja Tidak Cukup
Islam kosmopolitan fokus pada perbaikan dan pemenuhan sisi sosial manusia; pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, kedamaian dll, sementara terhadap hal-hal yang dapat merusak nilai-nilai ini, Islam kosmopolitan mengizinkan ketegasan bahkan dalam batas tertentu kekerasan. Jika bersinggungan dengan susila-cum-su-sosial, Islam kosmopolitan menggunakan senjata gagasan dan gerakan tandingan. Misal, pantas/tidak perempuan berlomba-lomba dalam kecantikan dan memamerkannya secara digital? Islam kosmopolitan tidak mencela mereka, tapi mengajukan gagasan dan gerakan tandingan yang lebih memartabatkan perempuan. Jadi, terhadap prostitusi misalkan, Islam kosmopolitan tidak mengizinkan kekerasan dalam menanggulanginya tapi dengan pendekatan emosional-spiritual seperti yang diteladankan K.H. Hamim Ilyas (Gus Miek). Demikian sekilas cetak biru Islam kosmpolitan dan yang pasti tulisan ini masih satu langkah dari terminal pemberangkatan menuju destinasi Ilahi Islam kosmopolitan; bahwa siapa pun yang hendak masuk surga, mari kita bersama-sama ciptakan surga di dunia! Wallahu A’lam.
Aldi Hidayat, Ketua Komunitas Kutub Yogyakarta 2022-2024.




















