
Abdulloh Mulya Agung
Di balik suara bariton yang jarang berucap manis, ada cinta yang tidak pernah padam. Di balik wajah yang tampak dingin dan kaku, ada lelah yang sengaja disembunyikan. Sosok itu adalah ayah. Bagi sebagian orang, ayah mungkin tampak sebagai pribadi yang keras, tegas, bertanggung jawab, dan seolah tak mengenal lelah. Ia jarang mengeluh, memilih diam ketika hidup terasa berat, dan tetap melangkah meski perlahan.
Ayah bukanlah sosok yang mudah memeluk atau menunjukkan kasih sayang secara terang-terangan, namun dari sikapnya yang sederhana, kita belajar bahwa cinta sejati tidak selalu terucap lewat kata-kata, melainkan ia hadir dalam tanggung jawab, kehadiran dan keteguhan yang tak tergoyahkan.
Jangan Lewati: Agama Masa Depan: Blueprint Islam Kosmopolitan
Ayah mencintai dalam diam, ia menjaga, memikirkan, dan mengorbankan banyak hal tanpa pernah mengharapkan imbalan, sayangnya, cinta yang sunyi ini kerap tak terlihat hingga saat kita dewasa pun tekadang masih lalai soal letaknya kasih sayang dari sosok ayah.
Saya tumbuh besar bersama seorang ayah yang juga merupakan tokoh agama di kampung. Ia selalu menanamkan nilai-nilai islam dan memberikan motivasi kepada orang-orang di sekitarnya. Di mata masyarakat, ia adalah sosok yang bijak dan terhormat. Namun, bagi anak-anaknya, ia adalah figur yang sangat tegas, hampir semua saudara saya pernah merasakan hukuman darinya. Saya diperbolehkan memilih jalan hidup setalah lulus SMA.
Jangan Lewati: Ini Lebaran Anak Yatim
Saat kecil, saya sering merasa iri kepada temen-temen yang hidupnya tampak lebih santai. Saya sendiri sangat menyukai bermain playstation (PS). Uang jajan yang seharusnya untuk keperluan sekolah saya tabung, lalu saya gunakan untuk menyewa PS di tempat rental deket rumah saya. Bahkan, saya pernah berpura-pura berangkat mengaji padahal sebenarnya pergi bermain. Ketika ketahuan, saya dimarahi bahkan dipukul menggunakan tali pinggang ayah saya. Saat itu saya merasa tidak dimengerti bahkan menganggap ayah terlalu keras.
Namun, seiringnya waktu, saya mulai memahami maksud dari semua itu, di balik ketegasannya, ayah menyimpan harapan besar terhadap anak-anaknya, ia ingin kami tumbuh bukan hanya sebagai anak yang cerdas, tetapi juga berakhlak, tidak sekadar lulus sekolah tapi juga memahami nilai-nilai agama, dan meski caranya terlihat keras, sesungguhnya hatinya sedang merawat dan melindungin kami untuk jangka panjang.
Jangan Lewati: Daftar! SPMB SMK Depok DI Yogyakarta 2025-2026
Dalam Teori Psikologi, terutama pendekatan Attachment Theory John Bowlby, hubungan antara anak dan orang tua tidak hanya dalam bentuk pelukan dan kata-kata manis, tetapi juga oleh kehadiran yang konsisten dan batasan yang jelas. Sosok ayah yang tegas justru sering memberikan rasa aman jangka panjang. Anak tahu bahwa ada seseorang yang siap membimbing saat mereka tersesat.
Saat ini, saya bersyukur mendapat pengalama hidup yang penuh dengan ketegasan, bahkan melalui hukuman yang dulu terasa menyakitkan. Dari sanalah, saya belajar tentang tanggung jawab, kejujuran, dan pentingnya disiplin, saya sadar bahwa cinta tidak selalu datang dalam kata-kata manis, kadang cinta hadir dalam bentuk aturan, teguran, dan diam yang penuh makna.
Ayah bukanlah sosok yang tak punya hati, ia hanya menyimpan begitu dalam, dan menampilkannya dengan cara yang tidak selalu mudah untuk dipahami, tapi kini saya tahu, cintanya tak pernah hilang ia hanya menunggu untuk dikenali.
Jangan Lewati: Paket Komplit: Cantik, Pintar, Berprestasi Lagi
Sosok ayah sering kali tampak seperti batu: keras di luar, diam, dan sulit diterka. Namun di balik ketegasan dan kesunyiannya, tersembunyi lautan cinta yang tidak pernah habis. Cinta itu hadir dalam bentuk pengorbanan, aturan, bahkan hukuman, bukan untuk menyakiti melainkan untuk menuntun kejalan yang benar.
Pengalaman pribadi saya mengajarkan, bahwa kasih sayang ayah tidak selalu mudah untuk dikenali di awal. Terasa hangat dan bermakna, ketika kita mampu memaknainya dengan kedewasaan.
Kini saya percaya. Menjadi sosok ayah bukan hanya soal memberi nafkah, tapi juga tentang kehadiran, menjaga dan membentuk karakter. Sosok ayah adalah pilar yang mungkin jarang terlihat, tapi selalu ada kokoh, menopang tanpa suara. Ketika cukup peka untuk memahaminya, barulah kita tahu ayah tidak pernah tidak mencintai, ia hanya mencintai dengan cara yang berbeda.
Jangan Lewati: Skripsi Presiden Abal-abal
Sudah saatnya, kita menata ulang cara pandang tentang ayah. Ia bukan sosok keras yang jauh dari kasih sayang, ia adalah hati yang tidak selalu terlihat, tapi sudah ada. Sosok yang tidak banyak bicara, tetapi selalu diam-diam menjaga. Seagai anak, punya tugas: untuk tidak lagi melihat ayah dari suara yang tegas atau wajah yang lelah. Lihatlah dari mata yang tidak pernah berpaling dari keluarganya.
Abdulloh Mulya Agung, Mahasiswa PGMI Institut Ilmu al Qur’an An-Nur Yogyakarta.















