Disebut “Gus Taek”, Ini Jejak Gus Elham Yahya

Kabar, Nasional2047 Dilihat
Disebut “Gus Taek”, Ini Jejak Gus Elham Yahya
Foto: Istimewa

ejogja.ID | Di halaman sebuah pesantren di Kediri, sekelompok santri tengah membersihkan halaman sambil sesekali melirik ke arah seorang pemuda bersarung yang menyalami para tamu. Suaranya lembut, tutur katanya ringan, senyumnya ramah. Ia bukan kiai sepuh, tapi gaya berbicaranya penuh wibawa. Dialah Muhammad Elham Yahya Luqman, yang lebih dikenal sebagai Gus Elham Yahya. Ia sosok muda yang kini ramai diperbincangkan di ruang publik Indonesia.

Jangan Lewati: Jadi Santri

Lahir pada 8 Juli 2001 di Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri, Gus Elham adalah anak dari pasangan KH Luqman Arifin Dhofir dan Hj. Ernisa Zulfa Al Hafidz. Ayahnya adalah pengasuh Pondok Pesantren Al Ikhlas 1 Kediri, sementara sang kakek, KH Mudhofir Ilyas, dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Al Ikhlas Kaliboto. Dalam keluarga besar ini, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tapi rumah kehidupan, ruang identitas, sekaligus napas peradaban.

Gelar “Gus” yang melekat di depannya bukan sekadar simbol status sosial di kalangan pesantren, tapi juga harapan: agar Elham mampu meneruskan tradisi keilmuan, dakwah, dan pengabdian yang telah dirintis para leluhurnya.

Jejak Pesantren dan Gairah Dakwah Muda

Dari kecil, Elham tumbuh di tengah kehidupan santri. Ia belajar kitab kuning, ikut tahlilan, dan mencatat nasihat kiai. Pendidikan formalnya ditempuh di lingkungan pesantren besar, termasuk Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, yang dikenal luas sebagai kampusnya para kiai.
Namun, setelah menamatkan pendidikannya, Gus Elham memilih jalur yang agak berbeda dari kebanyakan “gus” seusianya. Ia tidak sibuk kuliah di universitas luar kota, melainkan tetap tinggal di Kediri untuk berdakwah dan membangun ruang pembelajaran baru bagi anak muda.

Jangan Lewati: Soeharto: Dari Sekolah Desa ke Panggung Sejarah

Pada 2023, ia mendirikan Majelis Taklim Ibadallah (MT Ibadallah). Ia wadah pengajian dan pembinaan rohani yang digerakkan bersama komunitas muda pesantren. Di sana, Gus Elham mulai dikenal sebagai sosok dengan pendekatan dakwah yang ringan dan akrab.
Ia tidak berbicara dengan bahasa kitab semata, melainkan dengan bahasa sehari-hari yang dekat dengan dunia digital dan keresahan anak muda zaman ini. Ia hadir di Instagram dan TikTok, berbicara soal makna hidup, cinta, dan spiritualitas. Dakwahnya dikemas dalam potongan video ceramah berdurasi satu menit. “Dakwah itu bukan cuma ceramah. Kadang, cukup dengan hadir dan mendengarkan orang lain,” ujarnya dalam salah satu pengajian di Kediri (Antara News, 2023).

Dakwah di Era Algoritma

Keberanian Gus Elham tampil di media sosial membuatnya cepat dikenal publik. Video-videonya banyak dibagikan ulang, dan banyak santri muda menjadikannya referensi dakwah yang lebih segar.
Namun, di era algoritma, popularitas selalu datang bersama konsekuensi.

Pada November ini, jagat maya Indonesia diguncang oleh sebuah video viral yang memperlihatkan Gus Elham mencium pipi seorang anak perempuan dalam sebuah acara. Dalam sekejap, video itu memicu kemarahan publik. Di X, Facebook, Instagram, dan TikTok, muncul serangkaian komentar tajam, bahkan ejekan yang melabelinya sebagai “Gus Taek”.

Jangan Lewati: Lagi Penat?

Sebagian publik menilai tindakannya sebagai bentuk pelanggaran etika, bahkan tak sedikit yang menyebutnya sebagai pelecehan terhadap anak di bawah umur. Gus Elham kemudian mengklarifikasi bahwa tindakan itu dilakukan tanpa niat buruk dan dalam pengawasan orang tua sang anak, namun klarifikasi itu tak serta merta meredakan gelombang kritik.

Bagi sebagian pihak, kasus ini membuka diskusi yang lebih luas: bagaimana tokoh agama berinteraksi di ruang digital yang serba terbuka? Di masa lalu, sikap kiai mungkin hanya disaksikan oleh jamaah masjid. Kini, setiap detik gerak tubuh mereka bisa direkam, dipotong, dan viral dalam hitungan menit. Dakwah digital menuntut kesadaran baru. Setiap gestur bukan lagi pribadi, tapi publik.

Antara Pesantren dan Dunia Maya

Bagi Gus Elham, pesantren adalah akar, tapi dunia digital adalah ladang baru. Ia mencoba menyeimbangkan keduanya. Ia menjadi jembatan antara generasi santri dan generasi “scrolling”. Ia kerap menolak undangan dakwah ke luar kota demi tetap mengajar di kampung halamannya, membimbing santri, dan memperkuat Majelis Ibadallah.

Para pendukungnya melihatnya sebagai simbol regenerasi ulama muda. Ia seseorang yang berani hadir di platform anak muda tanpa kehilangan akar pesantren. Namun bagi pengkritiknya, kehadirannya di media sosial membawa risiko terlalu cair dalam batas moralitas publik.

Jangan Lewati: Zohran Mamdani: Kisah Anak Imigran yang Mengubah Wajah New York

Kedua pandangan itu mungkin benar adanya. Sebab Gus Elham hidup di masa ketika dakwah tak lagi berlangsung di langgar atau surau, tapi juga di layar ponsel — tempat yang sama dengan hiburan, gosip, dan perdebatan politik.

Di usia yang baru 24 tahun, Gus Elham berada di titik persimpangan. Antara warisan pesantren dan tantangan digital, antara sorban dan algoritma, antara kharisma dan sorotan publik.
Perjalanan hidupnya masih panjang, tapi satu hal pasti: kisahnya merefleksikan wajah baru dakwah Indonesia. Kiai muda tidak hanya berbicara dari atas mimbar, melainkan juga dari balik kamera depan smartphone.

Dan seperti halnya banyak tokoh muda lainnya, Gus Elham masih menulis bab-bab berikutnya dari perjalanannya sendiri — di antara sorot kamera, pesantren yang teduh, dan dunia digital yang tak pernah tidur. [Nawa]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *