Benci Berjodoh

Serat443 Dilihat
benci berjodoh
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin

Orang Jawa punya cara yang menarik untuk menertawakan kebencian. Ketika seseorang terlalu membenci orang lain, ia diingatkan: jangan-jangan nanti malah berjodoh. Tentu ini bukan ramalan tentang pasangan. Di balik kelakar itu, ada algoritma yang cukup lucu. Kita sering terikat pada sesuatu yang paling ingin dijauhi.

Lihat bagaimana kebencian bekerja di zaman media sosial.

Seseorang tidak menyukai seorang tokoh. Ia mengikuti setiap unggahannya hanya untuk mencari kesalahan. Ia membaca komentarnya, menonton videonya, memeriksa berita tentangnya, lalu menulis kritik. Katanya, ia membenci. Tetapi bukankah seluruh perhatian itu menunjukkan keterikatan?

Ternyata, ini memperoleh sesuatu yang mahal: waktu, perhatian, energi, dan ruang mental. Kebencian adalah bentuk perhatian yang menyamar sebagai penolakan.

Warisan nilai jawa, ojo genthing, mundhak nyanding terasa menyala bagi generasi yang hidup dalam ekonomi perhatian. Algoritma tidak terlalu peduli apakah kita menyukai atau membenci sesuatu. Terpenting, kita berhenti, menonton, membaca, mengomentari, dan kembali lagi. Kemarahan bahkan sering lebih menguntungkan daripada ketenangan.

Nikmati juga: Alienasi Digital

Kita merasa sedang melakukan perlawanan, padahal bisa jadi sedang menjadi pengguna paling loyal dari objek yang kita benci.

Persoalannya bukan bahwa kita tidak boleh marah. Marah terhadap ketidakadilan adalah wajar. Kritik terhadap kekuasaan diperlukan. Menolak diskriminasi, kekerasan, manipulasi, atau kebohongan bukan kebencian; itu bagian dari tanggung jawab moral. Masyarakat tanpa kemampuan untuk mengatakan “tidak” akan mudah berubah menjadi masyarakat yang tunduk buta.

Tetapi ada perbedaan antara melawan sesuatu dan membiarkannya menguasai batin kita. Kritik masih membutuhkan jarak. Kebencian sering menghapus jarak itu.

Ketika membenci seseorang, kita mulai memikirkan orang tersebut secara berlebihan. Mengingat kesalahannya. Menunggu kesalahannya berikutnya. Membicarakannya kepada orang lain. Bahkan mencari pembenaran agar kebencian terasa sah.

Orang yang dibenci bisa jadi sedang menjalani hidupnya dengan tenang, sementara kita sibuk menyediakan ruang di kepala untuknya.

Kebencian berubah menjadi semacam penjara tanpa jeruji.

Kita memang tidak dipaksa berada di dalamnya. Kita sendiri yang membawa kuncinya, tetapi gedebak-gedebuk menyalahkan tahanan lain.

Sebab itulah, merdeka dari kebencian bukan berarti menjadi manusia yang lembek. Bukan pula ajakan untuk berdamai dengan semua orang atau memaafkan semua kesalahan secara naif.

Ada yang memang perlu kita jauhi. Ada perilaku yang harus kita lawan. Kekuasaan yang serong harus dikritik. Ketidakadilan yang tidak boleh didiamkan.

Tetapi kita dapat melakukan semua itu tanpa menjadikan kebencian sebagai bahan bakar utama kehidupan. Sebab kebencian memiliki satu risiko yang jarang kita sadari. Ia bisa membentuk kita serupa objek yang kita benci.

Nikmati Juga: Sebelum Fakta

Kita membenci orang yang suka merendahkan, lalu mulai merendahkan orang lain. Mengecam fanatisme, lalu menjadi fanatik terhadap kelompok sendiri. Menolak kekerasan verbal, tetapi merasa sah melakukan cyberbullying karena korbannya dianggap layak.

Kita bahkan bisa membenci kebencian sambil memproduksi kebencian baru. Ini paradoks yang patut direnungkan.

Kita hidup dalam zaman ketika identitas sering dibangun melalui oposisi: aku bukan mereka. Bukan kelompok itu. Tidak seperti orang-orang itu. Tidak berpikir seperti mereka.

Identitas lalu membutuhkan musuh agar terasa utuh.

Media sosial memperkuat pola tersebut. Kita berkumpul dengan orang-orang yang berpikir sama, memperkuat keyakinan yang sama, lalu bersama-sama menciptakan kelompok yang harus dibenci. Perbedaan pendapat tidak lagi dibaca sebagai perbedaan perspektif, melainkan sebagai bukti keburukan karakter.

Ruang publik menjadi arena pengadilan moral yang kunjung selesai. Setiap orang menjadi hakim. Kesalahan menjadi bukti. Perbedaan menjadi alasan untuk membatalkan kemanusiaan seseorang.

Kita tidak harus menyukai semua orang. Kita juga tidak wajib berdamai dengan semua gagasan. Kemampuan untuk tetap menjadi diri sendiri ketika berhadapan dengan sesuatu yang kita tolak haru kita rawat.

Kebebasan bukan hanya kemampuan mengatakan: Aku membencinya. Kebebasan yang lebih sulit adalah kemampuan mengatakan: Aku menolak apa yang ia lakukan, tetapi aku tidak akan membiarkan kebencian terhadapnya mengendalikan hidupku.

Kita masih bisa bersuara, tetapi tidak kehilangan akal sehat. Masih bisa marah, tetapi tidak kemudian memusnahkan kemanusiaan. Masih bisa melawan, tetapi tidak perlu menjadi seperti musuh yang dilawan.

Berjodoh dengan yang dibenci tidak terlalu bahaya. Karena yang lebih ngeri adalah ketika begitu lama membencinya hingga tanpa sadar mewarisi cara berpikir, cara berbicara, bahkan cara menyakiti yang dulu dikutuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *