Merawat Nalar

Serat552 Dilihat
merawat nalar
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin

Ada satu pemandangan yang belakangan terasa semakin langka: anak-anak muda tertawa ketika sedang belajar berpikir. Bukan karena mereka sedang menyaksikan pertunjukan komedi, melainkan karena mereka sedang menguji cara kerja nalarnya sendiri. Di aula MWCNU Imogiri Bantul dalam PKD PMII, saya menyadari bahwa tawa kadang menjadi pertanda sehatnya intelektualitas. Orang masih berani mempertanyakan dirinya sendiri.

Pemandangan seperti itu terasa kontras dengan zaman yang kita huni. Hari-hari ini dunia dipenuhi jawaban yang datang lebih cepat daripada pertanyaan. Mesin pencari, media sosial, hingga kecerdasan buatan berlomba menyodorkan solusi dalam hitungan detik. Namun, semakin mudah memperoleh jawaban, semakin sedikit orang yang melatih diri untuk bertanya dengan baik. Padahal, kemunduran sebuah masyarakat sering kali bukan dimulai ketika pengetahuan menghilang, melainkan ketika kuriositasunya mati.

Karena itu, berbicara tentang berpikir kritis menjadi relevan. Selama ini istilah itu kerap disalahpahami seolah identik dengan gemar menyanggah atau mencari kesalahan orang lain. Padahal, berpikir kritis jauh lebih sederhana sekaligus lebih sulit. Ia adalah kesediaan memeriksa bukti, mengenali asumsi, membedakan fakta dari opini, serta menyadari bahwa kesimpulan yang baik lahir dari proses penalaran yang jujur, bukan dari prasangka.

Menariknya, pelajaran itu justru lebih mudah dipahami melalui pengalaman sehari-hari daripada definisi filsafat yang rumit. Saya teringat analogi yang mengundang gelak tawa peserta: hubungan tanpa status. Dalam situasi seperti itu, seseorang sering kesulitan membedakan antara kenyataan, harapan, asumsi, dan perasaannya sendiri. Apa yang diyakini belum tentu benar; apa yang diharapkan belum tentu nyata. Bukankah kekeliruan seperti itu juga sering terjadi dalam cara kita membaca informasi?

Analogi itu mungkin terdengar ringan. Namun, justru di situlah letak kekuatannya. Berpikir kritis tidak selalu lahir dari ruang kuliah yang penuh istilah akademik. Ia tumbuh ketika seseorang berani mempertanyakan keyakinannya sendiri.

Nalar Sehat

Refleksi tersebut menjadi semakin penting ketika kecerdasan buatan hadir sebagai bagian dari kehidupan akademik. Hari ini presentasi dapat dibuat AI. Pertanyaan dapat disusun AI. Ringkasan buku, proposal penelitian, bahkan jawaban diskusi pun dapat dihasilkan AI hanya dalam beberapa detik. Ironisnya, semakin canggih teknologi membantu berpikir, semakin besar pula godaan untuk berhenti berpikir.

Teknologi tentu bukan musuh. AI adalah alat yang luar biasa. Persoalannya muncul ketika manusia menyerahkan seluruh proses intelektual kepada mesin. AI mampu mengolah data, menyusun pola, bahkan meniru gaya bahasa manusia. Tetapi ia tidak memiliki tanggung jawab moral, pengalaman batin, ataupun kebijaksanaan dalam mengambil keputusan. Di situlah batas yang tidak boleh dilupakan. Mesin dapat mempercepat pekerjaan, tetapi tidak dapat menggantikan nurani.

Lalu muncul pertanyaan yang sering mengundang senyum: apakah segala sesuatu bisa dijelaskan dengan logika? Jawabannya sederhana, tidak. Cinta, kehilangan, keyakinan, dan pengalaman spiritual tidak pernah sepenuhnya tunduk pada rumus-rumus rasional. Namun, justru karena manusia memiliki wilayah rasa, logika menjadi semakin penting. Ia bukan untuk menghapus emosi, melainkan agar emosi tidak mengambil alih seluruh keputusan.

Fahruddin Faiz dalam Ihwal Sesat Pikir dan Cacat Logika (2024) mengingatkan bahwa penalaran yang sehat setidaknya bertumpu pada tiga hal: konsistensi, kejelasan, dan komprehensivitas. Konsistensi menjaga agar argumen tidak saling bertentangan. Kejelasan memastikan hubungan antara premis dan kesimpulan dapat dipertanggungjawabkan. Sementara komprehensivitas mengingatkan bahwa realitas selalu lebih luas daripada sudut pandang kita sendiri. Tiga prinsip sederhana itu terasa begitu relevan ketika ruang digital dipenuhi hoaks, propaganda, serta berbagai bentuk sesat pikir yang menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasinya.

Selama ini kaderisasi sering dipahami sebagai proses mencetak orang yang pandai berbicara, cekatan mengelola organisasi, atau lihai memimpin forum. Padahal, ukuran yang lebih mendasar mungkin justru kemampuan menjaga kejernihan nalar. Sebab tantangan generasi sekarang bukan lagi kekurangan informasi, melainkan banjir informasi tanpa kemampuan untuk memilahnya.

Gelak tawa ternyata tidak mengurangi keseriusan berpikir. Sebaliknya, tawa menjadi penanda bahwa diskusi berlangsung tanpa rasa takut, tanpa beban untuk selalu benar. Bukankah nalar yang sehat memang lahir dari keberanian mempertanyakan asumsi sendiri, menerima kemungkinan keliru, lalu bersama-sama mencari kebenaran?

Di tengah zaman yang semakin ramai oleh suara mesin, barangkali kemampuan paling manusiawi yang masih perlu terus dirawat adalah keberanian untuk berpikir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *