Jelang Muktamar Jombang, Katib Syuriyah PBNU Ajak Jaga Kemandirian, Tolak Intervensi

Jogja, Kabar343 Dilihat
Kader PDIP Ditarik Dari Retreat, Gus Hilmy Ini Menghambat Pembangunan Daerah
Foto: Dokumen ejogja.ID

ejogja.ID | Yogyakarta – Menjelang Muktamar Jombang pada 27–31 Agustus 2026, Katib Syuriyah PBNU Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. menyerukan kemandirian NU. Gus Hilmy mengajak seluruh pengurus, kader, dan peserta muktamar menjaga marwah serta kedaulatan organisasi. Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak itu meminta pengurus NU menolak berbagai bentuk intervensi.

Jangan Lewati: Pendidikan Khas kejogjaan, Gus Hilmy: Duta Budaya dari Kalangan Pelajar

Ia meminta pengurus tidak tunduk pada kepentingan politik maupun kelompok tertentu. “Siapa pun yang mencoba mendikte, menekan, atau mencampuri urusan internal organisasi harus kita sikapi sebagai musuh bersama. Mereka ingin merecoki keutuhan NU. Karena itu, kita harus melawan mereka bersama-sama. Langkah ini penting untuk menjaga marwah, kemandirian, dan kedaulatan organisasi,” tegas Gus Hilmy. Ia menyampaikan pernyataan tersebut melalui siaran tertulis kepada media, Rabu (26/8/2026).

Gus Hilmy menegaskan peserta muktamar merupakan kader pemikir dan pejuang NU. Mereka mewakili kepengurusan NU pada setiap tingkatan. Mereka juga memiliki kedaulatan penuh dalam menentukan pilihan. “Para peserta muktamar merupakan kader-kader yang merdeka. Karena itu, jadilah kader yang independen.

Gunakan hak suara dan nalar organisasi berdasarkan kemaslahatan umat. Pertimbangkan kepentingan warga di tingkat cabang maupun wilayah. Pertimbangkan pula kemaslahatan NU secara keseluruhan untuk masa depan. Jangan sampai kita berpartisipasi karena tekanan pihak luar.

Masa kita mau menuruti pihak yang ingin merecoki dan memanfaatkan organisasi kita?” ungkap Gus Hilmy. Anggota DPD RI itu kemudian mengajak warga NU mengingat kembali sejarah berdirinya organisasi. Ia secara khusus menyinggung penyerahan tongkat dan tasbih dari Syaikhona Kholil Bangkalan.

Syaikhona Kholil menyerahkan kedua simbol tersebut kepada KH. Hasyim Asy’ari melalui KH. As’ad Syamsul Arifin. “Kita perlu mengingat kembali pesan historis pendirian NU yang sarat makna filosofis dan spiritual. Tongkat dan tasbih Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asy’ari memiliki makna penting.

Jangan Lewawi: Tongkat Musa

Kita dapat memaknainya sebagai amanah kepemimpinan yang menuntut kehati-hatian, ketulusan, dan syaja’ah atau keberanian. Kedua benda tersebut menjadi simbol kepemimpinan kiai yang kokoh dan sakral. Kita tidak boleh menjadikannya mainan, bahan cengengesan, atau komoditas politik pragmatis. Kita juga tidak boleh menyerahkannya kepada pihak yang ingin mempermainkan masa depan NU. Apalagi jika mereka hanya mengejar kepentingan sesaat. Justru merekalah musuh kita bersama,” jelas Gus Hilmy.

Menurut Gus Hilmy, penyerahan kedua simbol itu juga membawa pesan al-‘asho liman ‘asho. Ia menjelaskan makna ungkapan tersebut berkaitan dengan kompetensi dan kapabilitas pemimpin NU. “Ungkapan al-‘asho liman ‘asho menunjukkan bahwa pemimpin NU harus mampu menghadapi berbagai persoalan.

Pemimpin juga harus mampu menemukan jalan menuju kemaslahatan NU. Dengan begitu, NU dapat berjalan sesuai tujuan dan mandatnya. Jangan bermain-main dengan tongkat karena benda itu menjadi simbol kepemimpinan. Orang yang bermain-main justru pantas kita tegur dan ingatkan.

Jangan Lewati: Call for Paper JIS: Journal ISLAMIC STUDIES

Kita perlu mengingatkan mereka karena khawatir tindakan tersebut membawa akibat buruk. Apalagi jika mereka menjerumuskan NU dengan mendekat kepada pihak luar. Pihak luar tersebut ingin mengintervensi organisasi kita,” pungkas Wakil Ketua Komisi Ukhuwah MUI DIY itu.

Gus Hilmy mengajak seluruh elemen Nahdliyin bersatu mengawal jalannya muktamar. Ia berharap peserta menjalankan muktamar secara khidmat, bermartabat, dan penuh kegembiraan. Menurutnya, suasana tersebut penting untuk menyambut babak baru NU pada abad kedua.

“Kita harus menjalani muktamar ini dengan khidmat, bermartabat, dan penuh kegembiraan. Kita menyambut lembaran baru abad kedua dengan semangat tema kita. ‘Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmah untuk Kemaslahatan Bangsa.’ Tema tersebut menegaskan sikap kita menolak segala bentuk intervensi. Kita ingin menjadikan NU sebagai organisasi yang berdaya dan bermartabat,” pungkas Gus Hilmy.[frz]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *