
ejogja.ID | Komunitas Suku Sastra Yogyakarta menggelar Lokakarya Penulisan bagi Keluarga Muda dengan Anak Penyandang Disabilitas. Komunitas tersebut menggelar kegiatan di kantor Dewan Perwakilan Daerah (DPD) D.I. Yogyakarta.
Jangan Lewati: Nama Muhammad
Anggota DPD RI dari D.I. Yogyakarta, Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A., memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut. Menurut Gus Hilmy, kegiatan itu menunjukkan sinergi luar biasa dari berbagai pihak.
“Acara yang luar biasa, acara yang super-super hebat, saya memberikan apresiasi luar biasa pada apa yang Bapak Ibu semuanya lakukan pada pagi hari.
Dan acara ini mempertemukan banyak pihak dan banyak hal demi kemaslahatan masyarakat dan bangsa Indonesia,” kata Gus Hilmy. Gus Hilmy menyampaikan pandangannya saat membuka rangkaian lokakarya di kantor DPD RI DIY, Rabu (02/09/2026).
Gus Hilmy mengawali arahannya dengan mengutip firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat al-Isra’ Ayat 70. Ia menegaskan bahwa manusia harus memuliakan sesamanya dengan menempatkan setiap orang secara setara.
Manusia juga harus menghormati hak asasi dan menghindari segala bentuk kesewenangan serta tindakan aniaya. “Jadi, ayat itu kalau kita cermati, dimulai dengan penguat. Ada laqod yang artinya ‘sungguh benar-benar’. Karramna, kami memuliakan Bani Adam. Allah memuliakan seluruh anak manusia. Allah menciptakan manusia dalam kondisi fi ahsani taqwim, dalam penciptaan yang sempurna dan paling baik. Kondisi tersebut mengarahkan seluruh makhluk untuk memandang manusia sebagai ciptaan yang mulia,” papar Gus Hilmy.
Jangan Lewati: Jelang Muktamar Jombang, Katib Syuriyah PBNU Ajak Jaga Kemandirian, Tolak Intervensi
Kepada para orang tua, Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta itu berpesan agar menerima takdir dengan jiwa besar. Ia memaknai takdir sebagai pengetahuan mendalam mengenai ilmu, kehendak, dan penciptaan Allah Ta’ala. “Kalau kemudian ada di antara kita diberikan putra atau turunan yang dalam keadaan difabel, maka itu semua adalah ujian. Di sisi lain, kondisi tersebut juga merupakan anugerah. Tugas kita adalah menerima takdir itu. Sebagaimana ungkapan penyair, ‘Bila Anda rela dengan ketentuan Allah, Anda akan merasa nyaman menjalani hidup. Sebaliknya, bila Anda tidak rela dengan pembagian Allah, Anda justru merasa hidup dalam kesusahan,’” kata Gus Hilmy.
Wakil Ketua Komisi Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) DIY itu juga menekankan pentingnya memahami takdir kepada anak. Ia meminta orang tua mengajarkan anak menghadapi perundungan dari teman-temannya. “Orang tua juga penting untuk memahamkan takdir tersebut kepada anak, bagaimana menyikapi ini. Di antaranya dengan menyalurkan apa yang dirasakan secara positif tanpa membandingkan kondisi anak dengan anak lainnya,” tutur Gus Hilmy.
Gus Hilmy juga menekankan pentingnya mendokumentasikan dan menuliskan pengalaman nyata keluarga. Menurutnya, tulisan tersebut dapat membantu mengikis stigma negatif masyarakat terhadap penyandang disabilitas.
Jangan Lewati: Pendidikan Khas kejogjaan, Gus Hilmy: Duta Budaya dari Kalangan Pelajar
Ia menilai literasi masyarakat mengenai disabilitas masih sangat kurang. Catatan dan kisah pengalaman keluarga dapat membantu masyarakat memahami perlakuan manusiawi terhadap penyandang disabilitas. “Dengan membaca tulisan Bapak Ibu semua, masyarakat akan paham, ‘Oh, caranya begini. Pengalaman Bapak Ibu begini.’
Mungkin tulisan tersebut menjadi salah satu alternatif cara memperlakukan anak disabilitas. Melalui pengalaman nyata orang tua, masyarakat dapat memahami penanganan, perlakuan, dan empati yang tepat. Dengan begitu, masyarakat dapat mengikis stigma terhadap penyandang disabilitas secara bertahap. Stigma negatif tersebut muncul karena literasi masyarakat mengenai disabilitas masih kurang,” ungkap Gus Hilmy.
Sementara itu, Ketua Suku Sastra, Fairuzul Mumtaz, menjelaskan bahwa lokakarya berlangsung selama satu bulan. Para peserta mengikuti kegiatan tersebut di gedung DPD RI DIY. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendukung program tersebut melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Program itu berjalan melalui Program Fasilitasi dan Apresiasi bagi Komunitas Sastra. Suku Sastra juga bekerja sama dengan Komunitas Bawayang dalam menyelenggarakan program tersebut. “Selama satu bulan, kami mendampingi para orang tua menulis karya sastra dan kemudian membukukannya. Kegiatan ini penting untuk memperkuat literasi masyarakat mengenai disabilitas. Selain itu, kegiatan tersebut menyumbangkan narasi baru bagi khazanah karya sastra Indonesia,” kata Fairuz. [jml]


















