
Maghfur M. Ramin
Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin banyak pula yang harus dibelinya. Setelah lulus sekolah, ia membeli bimbingan belajar untuk masuk perguruan tinggi. Saat menjadi mahasiswa, ia membeli pelatihan bahasa, sertifikasi, kursus perangkat lunak, kelas kepemimpinan, hingga lisensi profesi. Ketika bekerja, ia kembali membeli gelar baru, pelatihan baru, dan sertifikat baru agar tetap dianggap relevan. Aneh.
Belajar yang semestinya memiliki titik-titik jeda berubah menjadi transaksi yang nyaris tidak mengenal kata selesai.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan kita tidak lagi menjadi ruang pewarisan ilmu. Ia telah tumbuh menjadi sebuah pasar yang terus-menerus menciptakan kebutuhan baru. Begitu satu kebutuhan terpenuhi, lahir kebutuhan berikutnya. Begitu satu sertifikat diperoleh, muncul sertifikat lain yang dianggap lebih bernilai. Pendidikan bergerak mengikuti logika pasar: mempertahankan permintaan agar transaksi tidak pernah berhenti.
Tidak Cukup
Karl Marx mungkin akan mengatakan bahwa inilah salah satu wajah kapitalisme yang paling halus. Kapital tidak hanya menjual barang, tetapi menciptakan kondisi agar manusia terus merasa ada yang kurang pada dirinya. Kekurangan itu kemudian ditawarkan solusinya dalam bentuk komoditas. Pendidikan pun tidak luput dari mekanisme tersebut.
Bukan lagi tentang ruang kelas, buku, atau ijazah. Yang dipasarkan adalah rasa aman terhadap masa depan. Ketika dunia kerja semakin kompetitif, kecemasan menjadi komoditas yang sangat menguntungkan. Orang membeli kursus karena takut tertinggal. Mengambil sertifikasi karena takut tidak diterima bekerja. Mengejar gelar bukan semata-mata untuk memperdalam ilmu, melainkan agar tidak tersingkir dari persaingan. Semakin besar rasa takut itu, semakin subur pasar pendidikan berkembang.
Rasa takut itu tidak pernah benar-benar diselesaikan. Ia malah terus dipelihara. Setiap kali seseorang merasa telah cukup, pasar segera menciptakan standar baru yang membuatnya kembali merasa kurang. Maka lahirlah kursus berikutnya, sertifikasi berikutnya, lisensi berikutnya, dan gelar berikutnya. Pendidikan berubah menjadi industri yang hidup dari produksi rasa tidak pernah cukup.
Marx mengingatkan bahwa kapitalisme tidak hanya menguasai pabrik, tetapi juga membentuk kesadaran. Manusia perlahan menerima logika pasar sebagai sesuatu yang alamiah. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai hak untuk bertumbuh, melainkan sebagai investasi yang harus memberikan imbal hasil. Nilai sebuah program studi mulai dihitung berdasarkan prospek gajinya, sementara nilai sebuah kampus diukur dari daya saing lulusannya di pasar tenaga kerja. Bahasa ekonomi menggantikan bahasa kemanusiaan. Harapan akhirnya memiliki label harga.
Nilai Tukar
Dalam pemikiran Marx, setiap komoditas memiliki nilai guna (use value) dan nilai tukar (exchange value). Nilai guna menunjuk pada manfaat yang sesungguhnya dimiliki suatu benda, sedangkan nilai tukar menunjukkan harga atau nilai ekonominya di pasar.
Logika yang sama merasuk ke dunia pendidikan.
Ilmu tidak lagi dicari karena mampu memperluas cakrawala berpikir, mempertajam kepekaan moral, atau menumbuhkan kebijaksanaan. Pengetahuan semakin sering dihargai sejauh ia dapat meningkatkan posisi tawar seseorang di pasar kerja. Sebuah program studi dianggap menarik karena peluang gajinya. Sebuah keterampilan dipelajari karena nilai jualnya. Bahkan belajar pun perlahan berubah menjadi investasi ekonomi.
Entah disadari atau tidak, nilai guna pendidikan dikalahkan oleh nilai tukarnya. Pengetahuan tidak lagi menjadi jalan untuk memahami kehidupan, melainkan instrumen untuk memenangkan persaingan. Belajar tidak lagi dipahami sebagai proses pendewasaan, melainkan sebagai perlombaan mengoleksi legitimasi.
Kapitalisme pendidikan tidak membutuhkan manusia yang merasa cukup. Ia membutuhkan manusia yang terus percaya bahwa dirinya masih kurang. Sebab selama rasa kurang itu dipelihara, pasar akan terus menemukan pembelinya. Pendidikan menghadapi ironi terdalamnya. Ia mengajarkan manusia untuk berpikir bebas, tetapi sekaligus membentuk kebiasaan baru yang membuat manusia terus bergantung pada pasar untuk menentukan nilai dirinya sendiri.
Pendidikan tentu membutuhkan biaya. Universitas harus dikelola secara profesional. Pengembangan ilmu pengetahuan memerlukan dukungan finansial. Namun ketika logika pasar menjadi satu-satunya cara memaknai pendidikan, sesuatu yang mendasar menjadi hilang: keyakinan bahwa belajar adalah proses memanusiakan manusia, bukan sekadar meningkatkan nilai jualnya.
Karena itu, persoalan terbesar pendidikan kita hari ini bukan mahalnya biaya kuliah. Persoalan yang lebih mendasar adalah ketika pasar berhasil meyakinkan kita bahwa tidak pernah ada kata “cukup” dalam belajar. Selalu ada kursus berikutnya, sertifikasi berikutnya, gelar berikutnya, dan kompetensi berikutnya yang harus dibeli. Pendidikan tidak lagi sekadar melahirkan pembelajar sepanjang hayat, tetapi juga konsumen sepanjang hayat.
Kita harus sanggup mempertanyakan: mengapa pendidikan kita harus selalu diukur oleh pasar?















