Ujian Waktu

Ilmiah, Serat1191 Dilihat
ujian waktu
Foto: Istimewa

Maghfur M. Ramin

Waktu sering dipahami secara dangkal. Sesuatu yang mengalir netral di luar diri kita. Jam berdetak, kalender berganti, notifikasi menumpuk —dan kita merasa sekadar mengikuti arus. Dalam pengalaman sehari-hari, waktu tampil sebagai tekanan deadline, timeline, dan target yang tak pernah selesai. Namun, dalam banyak tradisi studi, waktu justru bukan latar pasif. Ia adalah struktur ujian, tanggung jawab, dan keterlibatan eksistensial manusia. Waktu bukan sekadar kronologi, melainkan cara manusia dipanggil untuk menjadi dirinya sendiri.

Dalam khazanah budaya Jawa, pemahaman ini tercermin dalam relasi antara wektu, rasa, dan laku. Wektu tidak dipahami sebagai hitungan jam semata, melainkan selalu terkait dengan rasa. Kepekaan batin untuk membaca situasi. Sementara laku, tindakan yang lahir dari pembacaan itu. Orang Jawa tidak hanya bertanya jam piro, tetapi wis wayahé durung: sudah pantaskah bertindak sekarang? Waktu, dengan demikian, bukan soal kecepatan, melainkan kepantasan eksistensial.

Al-Qur’an sejak awal menempatkan waktu pada posisi yang tidak biasa. Wa al-‘ashr. Inna al-insana la fi khusr demi masa, sungguh manusia berada dalam kerugian. Sumpah ilahi ini menunjukkan bahwa waktu bukan dekorasi kosmik, melainkan arena penilaian hidup manusia. Kerugian (khusr) di sini bukan sekadar rugi materi, tetapi kerugian eksistensial. Hidup berlalu nirfaidah, arah, dan tanggung jawab. Manusia, secara default, sedang menuju kehilangan, kecuali jika waktu itu diisi oleh iman, amal, dan kesadaran etis. Dengan cara ini, waktu menjadi arena evaluasi makna, bukan sekadar ukuran perubahan.

Subjek Aktif

Pandangan ini menantang asumsi populer bahwa manusialah pemilik waktu. Justru sebaliknya: waktulah yang menguji manusia. Setiap detik membawa tuntutan hikmah, dan kegagalan meresponsnya bukan sekadar buang-buang waktu, melainkan kerugian ontologis.

Imam Syafi‘i menangkap kesadaran ini dalam ungkapan terkenal: waqtuka in lam taqtha‘hu bil-haqqi qatha‘aka bil-bathil —jika engkau tidak memotong waktumu dengan kebenaran, ia akan memotongmu dengan kebatilan. Di sini, waktu hampir dipersonifikasikan sebagai subjek aktif. Ia tidak menunggu, tidak netral, dan tidak peduli pada niat baik yang tak diwujudkan. Waktu akan membentuk kita. Tergantung bagaimana kita mengarahkannya.

Nada serupa hadir dalam etika Jawa. Wektu bukan sekadar berlalu, tetapi menegur manusia yang kehilangan rasa. Ketika rasa tumpul, laku menjadi salah arah. Terlalu cepat atau terlalu lambat, terlalu reaktif atau terlalu ragu. Kesalahan hidup bukan terutama soal kurangnya waktu, melainkan kegagalan membaca tanda waktu.

Netralitas waktu, dengan demikian, adalah ilusi. Yang ada hanyalah waktu yang dimaknai, atau waktu yang melindas.

Modal Eksistensial

Di tengah dunia modern yang bergerak cepat dan penuh distraksi, Said Nursi menawarkan diagnosis yang terasa sangat relevan. Dalam Risalah al-Nur, ia menegaskan: inna ra’sa mal al-insan fi hadzihi al-dunya huwa al-waqt —modal utama manusia di dunia ini adalah waktu. Bagi Nursi, waktu bukan kapital ekonomi, melainkan kapital eksistensial. Ia tidak bisa ditabung, diwariskan, atau diulang. Setiap detik adalah investasi yang langsung menentukan arah hidup. Dalam horizon iman, ia menentukan orientasi akhirat.

Namun justru di era digital, kesadaran ini semakin menipis. Manusia modern bukan kekurangan waktu, melainkan kehilangan kehadiran di dalamnya. Kita sibuk, tetapi tidak hadir. Produktif, tetapi mandul nilai. Dalam bahasa Jawa, ini adalah kondisi ketika relasi wektu–rasa–laku terputus. Waktu bergerak cepat, tetapi rasa tidak sempat bekerja. Akibatnya, laku menjadi impulsif, reaktif, dan dikendalikan oleh dorongan instan.

Tabiat scrolling tanpa henti menunjukkan bagaimana waktu tidak lagi dihidupi, melainkan dikonsumsi. Jam-jam habis tanpa disadari, bukan karena waktu kurang, tetapi karena rasa mati rasa. Demikian pula tabiat hustle: waktu diperas habis demi produktivitas, tanpa jeda untuk bertanya apakah laku yang dijalani masih selaras dengan tujuan hidup. Ini krisis kepantasan, bukan kecepatan.

Keberadaan Manusia

Menariknya, di luar tradisi Islam dan kearifan lokal Nusantara, Martin Heidegger sampai pada kesimpulan yang secara struktural paralel. Dalam Being and Time, ia menyatakan: Das Dasein ist zeitlich —keberadaan manusia bersifat temporal. Manusia tidak sekadar hidup “di dalam” waktu; justru waktu adalah cara manusia ada.

Masa lalu, masa kini, dan masa depan bukan sekadar urutan kalender, melainkan struktur eksistensial: keterlemparan, keterjebakan dalam rutinitas, dan proyeksi diri ke masa depan. Puncaknya adalah kesadaran akan kematian, yang membuat waktu terasa terbatas dan mendesak. Heidegger mengkritik pemahaman sehari-hari yang mereduksi waktu menjadi angka dan jadwal. Hidup yang tenggelam dalam kesibukan adalah hidup yang jatuh dalam ketidakotentikan.

Jika Heidegger menyoroti keterasingan eksistensial, tradisi Jawa menyoroti tumpulnya rasa, sementara Islam menegaskan kerugian moral-spiritual. Ketiganya menunjuk pada krisis yang sama: manusia gagal hadir secara bertanggung jawab di dalam waktu.

Titik Temu

Meski berangkat dari horizon yang berbeda, wahyu Islam, pandangan Heidegger, dan kearifan Jawa bertemu pada satu titik fundamental: waktu adalah struktur tanggung jawab eksistensial. Al-Qur’an menyebut manusia berada dalam kerugian. Heidegger menyebut manusia terlempar dan fana. Tradisi Jawa mengingatkan bahwa waktu menuntut rasa yang peka dan laku yang tepat.

Perbedaannya terletak pada orientasi akhir. Dalam Islam, waktu berujung pada pertanggungjawaban transenden. Cara pandang Heidegger berujung pada otentisitas eksistensial. Bagi kebijaksanaan Jawa, waktu menguji keharmonisan hidup manusia dengan dirinya, sesama, dan semesta. Namun ketiganya sepakat pada satu hal: hidup yang lalai terhadap waktu adalah hidup yang jatuh dalam kehampaan. Maka pertanyaan paling mendesak hari ini bukanlah “jam berapa sekarang?”, melainkan: siapa kita di dalam waktu yang terus menguji ini?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan Lewatkan