Sumpah Bergerak

Beasiswa, Literasi, Serat1821 Dilihat
sumpah bergerak - serat maghfur MR
Foto: Istimewa

Maghfur M. Ramin

Sejarah tidak pernah berhenti berbicara. Ia menunggu setiap generasi untuk menjawab ulang pertanyaan yang sama: apa arti menjadi Indonesia hari ini?

Hampir satu abad sebelum generasi Z mengenal kata startup, TikTok, dan AI, sekelompok pemuda berkumpul di Batavia pada Oktober 1928, dengan semangat yang melampaui zamannya. Mereka datang dari berbagai latar — Jawa, Sumatra, Sulawesi, Ambon, Kalimantan — namun satu hal menyatukan: kerinduan akan tanah air yang merdeka dan bermartabat. Dari rahim pertemuan itulah lahir ikrar suci bernama Sumpah Pemuda. Tiga kalimat yang kemudian menjadi fondasi bangsa yang terus bergerak.

Bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan berbahasa satu. Kalimat visioner tersebut menyulam revolusi kesadaran. Pemuda 1928 bukanlah generasi yang memiliki kekuatan ekonomi atau politik. Tetapi, mereka punya gagasan dan keberanian untuk bermimpi tentang Indonesia yang belum ada di peta dunia.

Sumpah Pemuda merupakan manifestasi keberanian berpikir kolektif di tengah penjajahan. Ia adalah deklarasi imajiner tentang bangsa yang baru ada di alam pikiran sebelum hadir di alam nyata. Seperti kata Paul Ricoeur dalam Time and Narrative, sejarah bukan sekadar peristiwa masa lalu, tetapi teks yang terus ditafsirkan ulang oleh generasi berikutnya. Dalam semangat itu, Sumpah Pemuda adalah teks hidup — dan generasi Z hari ini adalah penafsirnya. Mereka membaca ulang ikrar itu bukan dengan pidato, melainkan dengan kode digital, video pendek, dan ide-ide kreatif yang menjelma jadi tindakan.

Dalam konteks tersebut, Sumpah Pemuda bukan sekadar peristiwa historis, melainkan titik tolak transformasi kultural bangsa: dari identitas terpecah menuju kesadaran nasional. Generasi muda Indonesia sekarang hidup di dunia yang sangat berbeda. Generasi Z — mereka yang lahir di antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an — tumbuh dalam dunia digital yang serba cepat, terbuka, sekaligus bising. Mereka tidak lagi berhadapan dengan kolonialisme asing, tetapi dengan bentuk penjajahan baru: kolonialisme algoritmik, kapitalisme global, dan keterasingan eksistensial.

Namun sebagaimana pemuda 1928, mereka juga berdiri di persimpangan sejarah: antara arus globalisasi yang menghapus batas dan panggilan moral untuk tetap berpijak pada identitas kebangsaan. Pertanyaannya kemudian: bagaimana nilai Sumpah Pemuda dapat hidup dalam gerak perjuangan generasi Z yang digital, plural, dan sering kali apatis terhadap simbol-simbol nasionalisme lama?

Ruang Digital

Kalimat pertama Sumpah Pemuda — bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia — pada 1928 bermakna fisik dan geopolitik. Tanah air adalah ruang perebutan kemerdekaan, simbol perjuangan melawan kolonialisme. Bagi Gen Z, makna tanah air perlu diperluas menjadi ruang ekologis dan digital. Mereka hidup di dua dunia: dunia nyata dan dunia maya. Tanah air sekarang mencakup lingkungan hidup yang mesti dijaga, sekaligus ruang digital tempat ide, nilai, dan narasi Indonesia dipertarungkan.

Dalam The Rise of the Network Society, Manuel Castells menyebut masyarakat hari ini hidup dalam networked space — ruang jaringan di mana identitas dan kekuasaan didefinisikan oleh arus informasi. Apa yang dulu menjadi perebutan teritorial, kini bergeser menjadi perebutan narasi. Ketika ruang digital dipenuhi ujaran kebencian, hoaks, dan polarisasi politik, maka membela tanah air berarti menjaga akal sehat, etika, dan literasi digital bangsa.

Gen Z yang melek teknologi memiliki posisi strategis untuk menjadi penjaga moral dunia maya. Mereka adalah warga bangsa yang hidup di network society — jaringan manusia yang menghidupkan nilai kemanusiaan melalui komunikasi dan kolaborasi. Tanah air tidak lagi hanya soal batas negara, tetapi juga ruang kesadaran kolektif tempat nilai kemanusiaan Indonesia harus tetap hidup.

Fragmentasi Baru

Berbangsa satu, bangsa Indonesia. Pada 1928, kalimat ini berarti menolak fragmentasi etnis dan primordialisme yang melemahkan perlawanan terhadap penjajah. Namun pada abad ke-21, fragmentasi datang dalam bentuk baru: algoritma media sosial yang memecah publik ke dalam gelembung informasi. Kita hidup di era kebenaran terpecah, tantangan solidaritas, dan empati sering terkikis oleh kecepatan berita.

Dalam konteks ini, berbangsa satu tidak lagi hanya tentang kesamaan asal-usul, tetapi tentang kesediaan untuk tetap berempati dan berpihak kepada yang tertindas. Generasi Z memperlihatkan potensi besar di bidang ini. Mereka aktif dalam gerakan sosial: advokasi lingkungan, kesehatan mental, kesetaraan gender, dan solidaritas lintas agama. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa semangat kebangsaan telah bergeser dari nasionalisme simbolik menuju nasionalisme etis — bukan sekadar bangga menjadi orang Indonesia, tetapi juga bertanggung jawab atas kemanusiaan di dalamnya.

Bangsa Indonesia yang diimpikan 1928 sekarang menuntut wujud baru: bangsa yang berdaulat secara digital, adil secara sosial, dan berdaya secara ekologis. Dan tugas itu, mau tidak mau, sekarang berada di pundak generasi Z — generasi yang menguasai teknologi dan komunikasi, dua kekuatan utama abad ini.

Bahasa Kolaborasi

Kalimat ketiga, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, adalah kemenangan kultural yang paling cerdas dari Kongres Pemuda II. Bahasa Indonesia, yang waktu itu belum mapan, dipilih bukan karena superioritas linguistik, melainkan karena sifatnya yang egaliter dan terbuka. Hal itu merupakan simbol kesediaan untuk bertemu di tengah, melepaskan ego lokal demi komunikasi nasional.

Sekarang, ketika Gen Z berbicara dalam bahasa ganda — bahasa Indonesia, bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahkan bahasa kode digital — semangat itu tetap relevan. Bahasa persatuan hari ini tidak hanya berarti kemampuan berbahasa Indonesia, tetapi juga kemampuan berkomunikasi lintas budaya, lintas platform, dan lintas generasi.

Di sinilah pandangan Ivan Illich dalam Deschooling Society terasa hidup: belajar dan berbahasa tidak lagi milik institusi, tetapi milik komunitas. Gen Z belajar dari dunia yang mereka bangun sendiri — dari forum daring (dalam jaringan), kanal kreator, hingga jejaring sosial yang menjadi ruang belajar kolektif. Bahasa kolaborasi mereka tidak tunduk pada kurikulum, melainkan tumbuh dari semangat berbagi. Dalam ruang itu, nasionalisme menjelma menjadi kreativitas dan solidaritas, bukan dogma.

Gen Z adalah generasi kreator. Mereka menulis, memproduksi video, membangun startup, dan menciptakan ruang kolaborasi yang melampaui batas geografis. Dalam setiap produk digital hasil tangan kreatifnya, terdapat bentuk baru dari bahasa persatuan: bahasa inovasi, bahasa solidaritas, bahasa kolaborasi.

Spirit Teks

Sumpah Pemuda menjadi simbol lahirnya nasionalisme Indonesia. Generasi Z, dengan idealisme dan skeptisisme khas mereka, sering kali mempertanyakan makna nasionalisme konvensional yang hanya secuil slogan. Bagi mereka, nasionalisme harus memiliki bentuk konkret: kemandirian digital, ekonomi kreatif lokal, dan keberlanjutan lingkungan.

Inilah namanya nasionalisme substantif. Nasionalisme yang tidak mandek pada rasa bangga, tetapi bergerak menuju tindakan yang berdampak. Ketika seorang Gen Z membangun aplikasi edukasi untuk anak bangsa, ketika mereka kampanye melawan fast fashion untuk menyelamatkan bumi, atau ketika mereka membuat konten literasi politik yang cerdas di TikTok — di situlah Sumpah Pemuda menjelma dalam bentuk baru: gerak, bukan seremonial.

Namun, semangat ini datang dengan paradoksnya. Gen Z hidup dalam realitas sosial-ekonomi yang tidak mudah: lapangan kerja yang sempit, tekanan produktivitas, dan krisis kesehatan mental yang meningkat. Gairah mereka sering berhadapan dengan kegelisahan. Idealisme mereka diuji oleh pragmatisme dunia nyata. Dalam titik ini, nilai-nilai Sumpah Pemuda berfungsi sebagai jangkar moral: perjuangan tidak selalu harus besar, tapi bisa tulus. Nasionalisme bukan tentang mengibarkan bendera di layar, melainkan menjaga agar nurani tidak padam di tengah kebisingan algoritma.

Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perubahan besar bermula dari kesadaran kecil yang berani berkata: kami satu. Gen Z hari ini perlu meneruskan kalimat itu dengan aksi baru: kami bergerak. Beraksi melawan ketidakpedulian, melawan kebodohan digital, melawan ketimpangan sosial, dengan cara yang relevan dengan zamannya — lewat ide, inovasi, dan solidaritas.

Jika Sumpah Pemuda adalah teks, maka Gen Z adalah tafsirnya. Sumpah Pemuda memberi kita akar; Generasi Z memberi kita sayap. Akar untuk berpijak, sayap untuk terbang. Antara keduanya, sejarah menemukan keseimbangannya. Sebab, bangsa tidak lahir sekali, melainkan setiap kali generasinya berani mencintai dengan terus terang tanpa lelah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *