Senyum dan Cerita di Balik Upaya Cegah Bullying di SMAN 1 Playen

Gunungkidul, Kabar971 Dilihat
Senyum dan Cerita di Balik Upaya Cegah Bullying di SMAN 1 Playen
Foto: Road ke-4 implementasi Model Literasi Digital Komunikasi Hati.

ejogja.ID | Siang itu, Aula SMAN 1 Playen Gunungkidul  riuh oleh suara tawa bercampur serius. Di antara 142 siswa kelas XI, ada yang berani angkat tangan, bercerita bagaimana pernah jadi bahan olokan di media sosial. Ada pula yang mengaku merasa tertekan dengan komentar teman sekelas di grup WhatsApp. Momen itu menjadi pintu masuk diskusi yang hangat: bagaimana memahami, sekaligus mencegah, perilaku bullying dan cyberbullying.

Jangan Lewati: Lahirkan 84 Cumlaude dan 37 Hafiz 30 Juz Plus Qiraah Sab`ah, IIQ An Nur Gelar Wisuda ke-17

Pada Kamis 11/09/2025, sekolah yang akrab disapa Wahabita ini dipercaya menjadi tuan rumah road ke-4 implementasi Model Literasi Digital Komunikasi Hati (Sikomhati.id), program hasil penelitian hibah DRTPM 2025. Tidak hanya siswa, guru bimbingan konseling, guru pendamping, dan jajaran pimpinan sekolah juga ikuti kegiatan tersebut.

Para Pakar Turun Gunung

Acara ini menghadirkan Tim Peneliti SIKOMHATI yang diketuai Prof Puji Lestari dari UPN Veteran Yogyakarta (UPNVY). Turut serta akademisi dan praktisi: Sri Isworo Ediningsih, Agnes Indar Etikawati (psikolog dari Universitas Sanata Dharma), serta Rudy Prakanto dari Balai Tekkomdik DIY. Dari lembaga yang sama, hadir pula Dini Nurul Insani, Oki Pambudi, Erick Syafriatna, dan Fatih Oktika Ulfah.

Jangan Lewati: Telah Dibuka! Beasiswa Program KIP Kuliah IIQ An Nur Yogyakarta 2025

Kassubag Tata Usaha SMAN 1 Playen, Arif Bintaro, menekankan pentingnya edukasi semacam ini.
“Implementasi ini sangat penting, terutama bagi siswa di Gunungkidul yang perlu mendapatkan bekal literasi digital sekaligus karakter agar tidak terjebak pada perilaku perundungan,” ujarnya.

Empati di Era Teknologi

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Topari, menambahkan:
“Derasnya kemajuan teknologi sering membuat kita terjebak pada framing pikiran yang mengurangi simpati dan empati. Cyberbullying salah satunya lahir dari kondisi itu.”

Sementara itu, Prof Puji menjelaskan bahwa sejak 2021 ia mengembangkan konsep Komunikasi Hati, berlandaskan enam aspek: olah pikir, olah rasa, kelola sampah hati, simpati, empati, hingga mencapai damai dan bahagia. “Orang yang terbiasa mengarahkan pikiran ke hal-hal positif akan membentuk kebiasaan baik. Sebaliknya, pikiran negatif bisa mengarahkan ke kebiasaan buruk,” jelasnya.

Jangan Lewati: Guru Gunungkidul “Naik Kelas” Lewat Bimtek Literasi, Numerasi, dan Sains

Diskusi interaktif pun mengalir. Siswa tak sekadar mendengar, tapi juga mengaitkan teori dengan kehidupan sehari-hari mereka, terutama di lingkar pertemanan.

Suara dari Pelajar

Agnes Indar Etikawati mengupas fenomena bullying di kalangan remaja. Di sesi ini, siswa mendapat ruang untuk berbagi pengalaman. Salah seorang di antaranya, Rahardian, berharap program ini tidak berhenti di satu pertemuan.
“Program ini sebaiknya jadi bagian dari literasi rutin sekolah. Kami jadi lebih sadar bagaimana berkomunikasi dengan sehat dan saling mendukung,” katanya.

Jangan Lewati: Anies: Ngalah, Ngalih, Ngamuk

Lebih dari Sekadar Seminar

Acara ditutup dengan penyerahan buku Komunikasi Hati oleh Prof Puji kepada pihak sekolah dan Balai Tekkomdik. Dari pertemuan singkat itu, para siswa membawa pulang pesan besar: bahwa literasi digital bukan hanya tentang keterampilan teknologi, tetapi juga tentang membangun hati yang mampu menolak perundungan, baik di dunia nyata maupun maya.

Pasang iklan di ejogja.ID, klik: Pasang Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *