
SISA TAHUN
Tidak bisa kudengar lagi jam
malam yang mendetak. Bunyi sama
dari kehadiran, luas, dan samar.
Orang-orang telah tidur lebih lelap.
Hujan telah menderap jauh,
bayang-bayang silam jatuh.
Tidak bisa lagi. Dan kumemandang
jarak dan ruang,
kini jadi kenangan.
Ada pertanyaan karam. Sunyi.
Sebuah perjalanan telah berlalu.
Di sini mereka tumbuh
dalam masa-masa lantunan kasidah.
Kepada siapa bisa kubenamkan
sisa tahun dan kebangkitan dini hari?
2024
PERTAMA
Sumber-sumber terbaik,
hidup menyajikan dirinya.
Sore rapuh dari sebatang ranting
—jauh warna malam.
Perahu dan laut mabuk,
sebuah pulau yang kembali
dari dasar samudra.
2025
PUTIH PILIHAN
Tidak ada yang bisa memandang lebih jauh.
Ngarai tidur dalam matahari,
jalan lempeng; ruas yang tampak
lebih besar dari diriku.
Kanak-kanak saja, tidak ada yang lebih
bisa menebak. Hari kian berumur,
sepucuk pohon kian rontok.
Lagu riang di bulan ini, sebuah lagu
dicipta dari doa.
Masih diriku, tidak menemu selain jejak.
2024
TANDA RAMADAN
Tidak diajarkan pada laut letih,
suara seruling di padang.
Hanya debur lirih,
memeluk hamparan pasir.
Seberapa jauh warna biru,
hari membentuk kelabu:
lagu menjelma, suara memutus roda
jalan, serangkum tawa rendah
seperti menepis angin jauh.
Inilah saatnya,
sebentuk tanda telah tiba.
Kita yang berkeringat oleh mata,
oleh kata,
oleh kemilau surya perlahan bangkit
menuju saat memejam indra.
Sebuah pelayaran,
suatu pendakian.
Dibawanya nyanyian dari arus tahun
ketika ramadan berjarak.
Ditabur di sepanjang cerita:
rindu diperam malam.
2024
ORANG-ORANG DARI KOTA
Udara telah penuh
dan dingin. Malam,
merdeka sejauh kepak burung.
Di hari awan dan matahari
telah kucari saat
warna-warna berganti.
Di kejauhan gema dari pinta yang hilang.
Embun akan tiba,
kabut hidup hanya tanya asing.
Lalu, sekali lagi, suatu penantian
ditanam dalam kubu haus lapar.
Petani-petani telah kembali,
pelaut dan pemancing telah menurunkan tirai senjanya.
Sayup, gemeretak sunyi.
Tidak mereka genggam apa saja,
kecuali sebaris warna lain
dalam sapuan biru dusun.
Telah berganti, berubah:
nyanyian kami.
2023
SUATU BABAK DALAM KISAH
Pelana dari musim berikut,
telah sampai di ujung bukit.
Hanya matahari,
dan lautan tinggi.
Mencapai nama bersembunyi
dari balik tabir hujan,
adalah bahasa sunyi.
Puan dan tuan, demikian disebutkan
telah menjelma laut itu.
Dan warna biru seragam,
bulu-bulu semacam,
dan kereta serta kuda penariknya.
Burung-burung berbiak jadi rumah.
Aku melihat saja sejarah lewat,
dan genta dari bangunan menjulang
telah menyebut nama-nama
sepi. Cendera mata perang,
semata bunga anyelir,
tumbuh dari air matanya.
Ke dalam jiwa tenang,
menyala obor bening:
menggambar setapak pemukiman.
Dan laju dalam nada-nada kenduri.
Dengan sebongkah tanah,
Tuhan menjadikan kita.
Dengan penerangan menyala
sejuk, wajah bulan bisu.
2022
Rudiana Ade Ginanjar, lahir di Cilacap, 1985. Menulis puisi, esai, dan menerjemahkan. Karya-karyanya diterbitkan dalam media massa cetak atau daring serta sejumlah buku. Buku puisi terbarunya berujudul Menetap (2026).
Jangan Lewati: Belajar Kembali pada Buku




















