Sajak-Sajak Rudiana Ade Ginanjar

Literasi, Puisi134 Dilihat
Sajak-Sajak Rudiana Ade Ginanjar
Foto: Ilustrasi

SISA TAHUN

 

Tidak bisa kudengar lagi jam 

malam yang mendetak. Bunyi sama 

dari kehadiran, luas, dan samar. 

 

Orang-orang telah tidur lebih lelap.

Hujan telah menderap jauh,

bayang-bayang silam jatuh. 

 

Tidak bisa lagi. Dan kumemandang 

jarak dan ruang, 

kini jadi kenangan. 

 

Ada pertanyaan karam. Sunyi. 

Sebuah perjalanan telah berlalu. 

 

Di sini mereka tumbuh 

dalam masa-masa lantunan kasidah. 

 

Kepada siapa bisa kubenamkan 

sisa tahun dan kebangkitan dini hari? 

 

2024

 

PERTAMA 

 

Sumber-sumber terbaik, 

hidup menyajikan dirinya. 

 

Sore rapuh dari sebatang ranting

—jauh warna malam. 

 

Perahu dan laut mabuk, 

sebuah pulau yang kembali 

 

dari dasar samudra. 

 

2025 

 

PUTIH PILIHAN

 

Tidak ada yang bisa memandang lebih jauh. 

Ngarai tidur dalam matahari, 

jalan lempeng; ruas yang tampak 

lebih besar dari diriku. 

 

Kanak-kanak saja, tidak ada yang lebih 

bisa menebak. Hari kian berumur, 

sepucuk pohon kian rontok. 

 

Lagu riang di bulan ini, sebuah lagu 

dicipta dari doa. 

 

Masih diriku, tidak menemu selain jejak. 

 

2024

 

TANDA RAMADAN

 

Tidak diajarkan pada laut letih, 

suara seruling di padang. 

Hanya debur lirih, 

memeluk hamparan pasir. 

 

Seberapa jauh warna biru, 

hari membentuk kelabu: 

lagu menjelma, suara memutus roda 

jalan, serangkum tawa rendah 

seperti menepis angin jauh. 

 

Inilah saatnya, 

sebentuk tanda telah tiba. 

 

Kita yang berkeringat oleh mata, 

oleh kata, 

oleh kemilau surya perlahan bangkit 

menuju saat memejam indra. 

 

Sebuah pelayaran, 

suatu pendakian. 

Dibawanya nyanyian dari arus tahun 

ketika ramadan berjarak. 

Ditabur di sepanjang cerita: 

rindu diperam malam. 

 

2024

 

ORANG-ORANG DARI KOTA 

 

Udara telah penuh 

dan dingin. Malam, 

merdeka sejauh kepak burung. 

 

Di hari awan dan matahari 

telah kucari saat

warna-warna berganti. 

 

Di kejauhan gema dari pinta yang hilang. 

 

Embun akan tiba, 

kabut hidup hanya tanya asing. 

 

Lalu, sekali lagi, suatu penantian 

ditanam dalam kubu haus lapar. 

Petani-petani telah kembali, 

pelaut dan pemancing telah menurunkan tirai senjanya. 

 

Sayup, gemeretak sunyi. 

 

Tidak mereka genggam apa saja, 

kecuali sebaris warna lain 

dalam sapuan biru dusun. 

 

Telah berganti, berubah:  

nyanyian kami. 

 

2023

 

SUATU BABAK DALAM KISAH

 

Pelana dari musim berikut,

telah sampai di ujung bukit. 

Hanya matahari,

dan lautan tinggi. 

 

Mencapai nama bersembunyi

dari balik tabir hujan,

adalah bahasa sunyi. 

 

Puan dan tuan, demikian disebutkan

telah menjelma laut itu.

Dan warna biru seragam,

bulu-bulu semacam,

dan kereta serta kuda penariknya.

 

Burung-burung berbiak jadi rumah.

 

Aku melihat saja sejarah lewat,

dan genta dari bangunan menjulang

telah menyebut nama-nama

sepi. Cendera mata perang,

semata bunga anyelir,

tumbuh dari air matanya. 

 

Ke dalam jiwa tenang,

menyala obor bening:

menggambar setapak pemukiman.

Dan laju dalam nada-nada kenduri. 

 

Dengan sebongkah tanah,

Tuhan menjadikan kita. 

 

Dengan penerangan menyala

sejuk, wajah bulan bisu. 

 

2022

 

Rudiana Ade GinanjarRudiana Ade Ginanjar, lahir di Cilacap, 1985. Menulis puisi, esai, dan menerjemahkan. Karya-karyanya diterbitkan dalam media massa cetak atau daring serta sejumlah buku. Buku puisi terbarunya berujudul Menetap (2026). 

 

 

Jangan Lewati: Belajar Kembali pada Buku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *