Proklamasi Jiwa

Serat357 Dilihat
proklamasi jiwa
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin

Kemerdekaan sering kita rayakan sebagai terbebasnya suatu bangsa dari penjajahan. Kita mengenang tanggal, mengibarkan bendera, menyanyikan lagu kebangsaan, lalu merasa telah menuntaskan makna kemerdekaan. Padahal ada penjajahan yang datang tanpa senjata dan seragam, bahkan tidak menduduki wilayah. Ia bekerja jauh lebih halus. Ia masuk ke dalam hasrat, membentuk cara berpikir, lalu membuat manusia merasa merdeka ketika sesungguhnya ia sedang diperintah. Penjajahan itu bernama ketundukan jiwa.

Seseorang dapat hidup dalam negara merdeka, memiliki hak politik, bebas berbicara, bebas memilih pekerjaan, bahkan bebas menentukan gaya hidup, tetapi tetap menjadi tawanan dari sesuatu yang berada di dalam dirinya sendiri. Ia mungkin diperbudak oleh keinginan untuk memiliki lebih banyak harta. Ia barangkali kehilangan kebebasan karena mengejar status. Ia bisa jadi menghabiskan hidupnya untuk memperoleh kekuasaan, lalu setelah mendapatkannya malah takut kehilangannya. Apakah manusia sungguh merdeka jika hidupnya dikendalikan oleh sesuatu yang ingin dimiliki?

Tuan Harta

Harta pada dirinya sendiri tidak jahat. Manusia membutuhkan makanan, rumah, pendidikan, keamanan, dan berbagai sarana material untuk mempertahankan kehidupan. Masalah muncul ketika harta tidak lagi menjadi sarana kehidupan, tetapi berubah menjadi ukuran keberadaan.

Rumah yang ditinggali akan ditinggalkan. Uang yang di tangannya bisa lenyap. Jabatan yang diemban pasti suatu hari akan selesai. Namun manusia yang menjadikan semua kepemilikan itu sebagai identitas akan mengalami kehilangan yang jauh lebih dalam ketika benda-benda tersebut pergi. Ia merasa dirinya ikut hilang. Harta menjajah jiwa.

Kita tidak lagi berkata, “Saya memiliki uang,” tetapi, “Saya adalah sebanyak uang yang saya miliki.” Kita tidak menggunakan baju, tetapi membiarkannya menentukan harga diri. Membeli bukan karena membutuhkan, melainkan karena ingin terlihat berhasil. Bekerja tidak untuk hidup, tapi hidup untuk mempertahankan citra keberhasilan.

Manusia tidak memiliki harta. Harta yang memiliki manusia.

Al-Qur’an telah lama memperingatkan kecenderungan manusia untuk terperangkap dalam logika memperbanyak dan membandingkan. Surah At-Takatsur bahkan menempatkan bermegah-megahan dalam memperbanyak dunia sebagai persoalan spiritual yang serius. Saat jumlah menjadi ukuran nilai diri, itulah problemnya. Selain harta, manusia berhasrat untuk berkuasa. Manusia memasuki perang yang tidak pernah selesai. Perang kekuasaan.

Perang Kekuasaan

Jika harta membuat manusia ingin memiliki benda, kekuasaan membuat manusia ingin memiliki manusia. Kekuasaan memiliki daya pikat yang lebih berbahaya karena ia dapat menyamar sebagai pengabdian. Seseorang dapat mengatakan dirinya ingin memimpin demi kebaikan bersama, tetapi menikmati kenyataan bahwa orang lain harus mendengarkan perintahnya.

Manusia tidak selalu menginginkan kebebasan. Kebebasan dapat menghadirkan kecemasan karena manusia harus menentukan dirinya sendiri. Dalam kondisi itu, manusia mencari tempat berlindung pada otoritas: tunduk kepada yang lebih kuat atau berusaha menjadi pihak yang lebih kuat. Kecenderungan tersebut sebagai salah satu mekanisme pelarian dari kebebasan.

Ada paradoks yang menyedihkan. Orang yang merasa tidak berdaya ingin memiliki kekuasaan agar tidak lagi merasa lemah. Setelah memperoleh kekuasaan, ia takut kehilangan. Untuk mempertahankannya, ia membutuhkan lebih banyak kontrol. Semakin banyak kontrol yang dijalankan, semakin besar ketakutan terhadap kemungkinan kehilangan kendali.

Kekuasaan yang awalnya dicari untuk membebaskan diri dari rasa tidak berdaya ternyata menciptakan penjara baru. Orang yang berkuasa harus terus memastikan bahwa dirinya tetap berkuasa. Maka kekuasaan menjadi candu, sebab ia memberi ilusi bahwa hidup dapat dikendalikan seutuhnya. Padahal hidup tidak pernah sepenuhnya dapat dicais.

Manusia dapat mengontrol bawahan, tetapi tidak kematian. Dapat mengendalikan keputusan rapat, tetapi tidak masa depan. Dapat mengatur orang lain, tetapi tidak dapat memaksa dirinya sendiri untuk selalu dicintai. Bisa memerintah banyak manusia, tetapi tidak dapat memerintah waktu agar berhenti berjalan.

Orang yang ingin menguasai semuanya sebenarnya sedang berhadapan dengan kenyataan paling eksistensi: manusia tidak pernah betul-betul berkuasa atas hidupnya sendiri.

Kemerdekaan dari harta tidak boleh disalahartikan sebagai romantisasi kemiskinan. Apakah memiliki atau tidak, tapi siapa yang menjadi tuan dan/atau apa yang menjadi alat. Asketisme yang paling jelas tidak membuang seluruh harta, tapi mengembalikan harta pada tempatnya.

Jangan Lewati: Rapor Ego

Harta boleh dimiliki. Kekuasaan boleh diemban. Tetapi jiwa, jangan diserahkan. Kemerdekaan hanyalah didapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad, ‘Merdeka, merdeka atau mati!’ Penegasan Soekarno ini mengukuhkan perjuangan sebuah bangsa. Namun, setelah merdeka dari penjajahan, kita masih perlu memproklamasikan satu kemerdekaan lagi:

Kami, manusia biasa, dengan ini menyatakan kemerdekaan jiwa.

Hal-hal mengenai pembebasan diri dari keserakahan, kesombongan, dan ketakutan kehilangan diselenggarakan dengan kesadaran dan keberanian, untuk selamanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *