Amerika Mau Gasak Greenland, Pakar UGM: Berpotensi Merusak Norma dan Hukum Internasional

Kabar711 Dilihat
Amerika Mau Gasak Greenland, Pakar UGM: Berpotensi Merusak Norma dan Hukum Internasional
Foto: Istimewa

ejogja.ID | Dalam ruang konferensi yang dipenuhi lampu sorot dan kamera, Presiden Amerika Serikat sekali lagi memantik perdebatan global. Kali ini bukan soal ekonomi atau pandemi, melainkan tentang sebuah pulau es di Arktik Greenland, yang selama ini hanya dikenal oleh para ilmuwan dan pelaut penjelajah kutub.

Jangan Lewati: Pekerjaan Utama

Di hadapan publik internasional, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan tinggal diam dalam persaingan global: ia menyatakan negeri adidaya itu berniat untuk merebut Greenland dengan cara apapun. Dalam pernyataannya, Trump menegaskan bahwa pengendalian atas pulau yang merupakan wilayah Kerajaan Denmark itu akan memberikan dampak besar bagi keamanan nasional Amerika Serikat, terutama di tengah meningkatnya aktivitas militer dan politik dari Rusia dan China di kawasan Arktik. Ia menekankan bahwa jika AS tidak segera bertindak, “Rusia dan China akan melakukan hal tersebut.”

Suasana global yang sejuk menjadi panas. Di Belahan Bumi Utara, arktik yang selama puluhan tahun terlihat sunyi kini menjadi pusat perhatian dunia. Di antara tirai diplomasi yang rumit inilah suara seorang pakar hubungan internasional dari Universitas Gadjah Mada ikut terdengar, menawarkan perspektif yang menyentuh lebih jauh daripada sekadar komentar permukaan.

Bukan Kebijakan yang Realistis

Prof. Dr. Nur Rachmat Yuliantoro, Guru Besar Departemen Hubungan Internasional UGM Yogyakarta, melihat pernyataan Trump bukan hanya sebagai retorika politik biasa, tetapi juga sebagai sesuatu yang perlu ditanggapi serius. Namun, dalam sudut pandangnya, dorongan itu “bukanlah kebijakan yang realistis.”

Nur mengakui posisi geografis Greenland memang sangat penting: pulau itu menjadi kunci pertahanan, jalur pelayaran masa depan, dan bahkan akses ke mineral-mineral strategis dunia. Namun, dilema muncul ketika penghormatan terhadap kedaulatan dan hukum internasional dipertaruhkan oleh kekuatan geopolitik besar.

Ia mengatakan pendekatan Trump mencerminkan karakter yang provokatif, langsung pada sasaran, dan penuh daya kejut. Namun, di sana tetap terselip perhitungan geopolitik yang tajam di baliknya. “Saya kira, akan lebih tepat membaca keinginan Trump sebagai bargaining tactic dan signal politics, dengan tiga target audiens,” jelas Nur.

Jangan Lewati: Diskusi Buku Reset Indonesia di Madiun Dibatalkan Aparat

Dalam analisisnya, Nur memetakan strategi Trump:

  • Di depan publik Amerika, Trump tampil sebagai pemimpin yang siap “mengamankan aset” demi keamanan nasional.
  • Kepada sekutu, terutama Denmark, pernyataan ini adalah tekanan terselubung agar lebih sejalan dengan agenda pertahanan AS.
  • Dan kepada publik dunia luas, pesan yang tersirat adalah bahwa Amerika Serikat akan terus memperluas hegemoni geopolitiknya.
Diplomasi sebagai Arena Drama

Selain strategi komunikasi, Nur melihat dinamika ini juga sebagai ekspresi karakter personal seorang pemimpin yang —menurutnya— menggabungkan narsisme politik. Ini tampak dengan kecenderungan memperlakukan geopolitik layaknya negosiasi bisnis. “Trump menjadikan Greenland sebagai ‘panggung,’ kehendaknya merebut wilayah ini terbukti efektif menciptakan kegaduhan, menguji reaksi, dan menggeser batas-batas wacana diplomatik,” tambahnya.

Greenland, yang selama ini menjadi latar bisu dalam peta dunia, kini tampil sebagai simbol major deal. Ini sebuah indikator siapa yang kuat dan siapa yang harus menyesuaikan diri. Namun di balik simbol itu, terhampar pertanyaan besar: apa yang terjadi jika retorika menjadi realitas?

Risiko Terhadap Norma Global

Nur memperingatkan, jika sebuah negara besar berupaya mengeksekusi pernyataan seperti itu, hasilnya bisa jauh lebih serius daripada sekadar headline berita. Ia berkata, “Apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat tersebut merupakan bentuk tantangan terbuka terhadap kedaulatan negara dan penentuan nasib sendiri.”

Jangan Lewati: Zohran Mamdani: Kisah Anak Imigran yang Mengubah Wajah New York

Dalam skenario seperti itu, bukan hanya hubungan trans-Atlantik yang terancam terguncang, tetapi juga legitimasi tatanan internasional berbasis aturan bisa terkikis. Ia memberi jalan bagi kekuatan materiil dan tekanan yang lebih keras untuk menegakkan kehendak. Dunia bisa saja menyaksikan tatanan global yang semakin kasar, transaksional, dan penuh dengan risiko. [fatihah]

Mau ngiklan di ejogja.ID? Klik: Pasang Iklan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *