Limpahan Cahaya

Serat1371 Dilihat
Limpahan cahaya
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin

Al-‘ilmu nurun. Ilmu adalah cahaya. Ungkapan ini sering terdengar, tetapi jarang sungguh-sungguh direnungkan. Cahaya tidak sekadar membuat sesuatu tampak; ia menuntun arah. Tanpa cahaya, kita bisa bergerak cepat dan merasa maju, padahal sedang kehilangan orientasi. Di sinilah problem kita hari ini: terlalu sibuk mengejar prestasi, tetapi lalai menyiapkan kompas batin. Kita mengumpulkan capaian, namun belum tentu membangun kejernihan.

Lapangkan Dada

Bagi Al-Ghazali, ilmu bukan sekadar akumulasi pengetahuan, melainkan proses pembentukan diri. Dalam Ihya Ulum al-Din, ia menegaskan bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu menjernihkan hati dan meluruskan tindakan. Ilmu yang tidak mengubah cara hidup justru dapat menjadi hijab: menutup kebenaran dengan kepuasan intelektual semu.

Sang Hujjatul Islam itu juga menegaskan tentang cahaya yang Allah lemparkan ke dalam dada. Nur melapangkan jiwa. Ketika Nabi ditanya tentang makna kelapangan dada dalam ayat: Maka barangsiapa yang Allah kehendaki untuk diberi petunjuk, Dia melapangkan dadanya untuk (menerima) Islam (QS. Al-An‘am: 125), Nabi menjawab: itu adalah cahaya yang Allah tanamkan ke dalam hati. Tandanya? Tidak terpaut pada dunia sebagai ruang tipuan (dar al-ghurur), dan kembali mengarah kepada akhirat sebagai ruang keabadian (dar al-khulud).

Cahaya ilahi ini bukan sekadar metafora emosional, melainkan prinsip epistemologis: ia memungkinkan kepastian yang menenangkan, mengakhiri himpitan skeptisisme, sekaligus memberi arah etis. Nur menjadi poros yang menghubungkan dimensi kognitif dan spiritual. Akal tercerahkan, hati dituntun.

Di Persimpangan

Kritik Al-Ghazali terasa relevan hari ini. Kita hidup di era pengetahuan yang melimpah, tetapi refleksi semakin langka. Banyak orang mengetahui banyak hal, namun sedikit yang sungguh memahami kedalamannya. Ilmu mudah diakses, tetapi adab sering terabaikan. Terang secara kognitif, gelap secara etis.

Pendidikan seharusnya tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi menyelaraskan akal dan nurani. Akal tanpa nilai melahirkan kecerdasan dingin; kesalehan tanpa nalar melahirkan keyakinan rapuh. Cahaya ilmu bekerja ketika keduanya saling menopang: ketika berpikir kritis berjalan seiring dengan kepekaan moral.

Gagasan ini menemukan resonansi dalam pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Ia menegaskan bahwa pendidikan adalah proses menuntun tumbuhnya kodrat anak, bukan memaksakan kehendak sistem. Peserta didik bukan bejana kosong, melainkan subjek yang sedang mencari bentuk dirinya. Ketika pendidikan direduksi menjadi mesin nilai dan peringkat, cahaya ilmu meredup. Sisanya hanya tekanan dan kepatuhan semu.

Nurcholish Madjid juga mengingatkan bahwa ilmu kehilangan daya pembebasannya ketika diperlakukan semata sebagai alat pragmatis. Ilmu seharusnya melahirkan keadaban: kemampuan berpikir jernih, bersikap adil, dan hidup berdampingan secara manusiawi. Modernitas bukan musuh, tetapi ia menjadi problem ketika tercerabut dari nilai.

Sebagai Penuntun

Di sinilah generasi muda memegang peran kunci. Ilmu sejati sering bersemi pada usia muda. Bukan karena paling tahu, melainkan karena paling terbuka. Masa muda adalah fase pembentukan orientasi hidup. Jika fase ini hanya diisi dengan target dan prestasi tanpa refleksi, ilmu mudah berubah menjadi alat, bukan cahaya.

Al-Ghazali menyebutnya adab, Ki Hadjar menyebutnya budi pekerti, dan Nurcholish Madjid menyebutnya keadaban. Istilah boleh berbeda, tetapi intinya sama: ilmu harus membuat manusia lebih manusiawi. Belajar tidak berhenti di ruang kelas atau layar; belajar adalah cara membaca hidup. Pengalaman, kegagalan, dan kegelisahan bukan gangguan, melainkan bahan bakar pertumbuhan.

Cahaya ilmu tidak diukur dari seberapa banyak yang kita kuasai, melainkan seberapa jauh ia membentuk cara kita berpikir, bersikap, dan bertindak. Jika ilmu hanya membuat kita unggul sendirian, ia belum menjadi cahaya. Cahaya sejati justru membuat sekitar ikut terlihat: lebih jernih, lebih adil, dan lebih beradab.

Itulah limpahan cahaya: ilmu yang bukan sekadar diketahui, tetapi dihayati; bukan sekadar dibanggakan, tetapi ditumbuhkan; bukan sekadar menerangi diri, tetapi juga menyalakan kehidupan bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *