Korban Kurban

Serat477 Dilihat
korban kurban
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin

Setiap Idul Adha, kita menyaksikan pemandangan yang hampir serupa: gema takbir, sapi dan kambing yang ditambatkan, panitia yang sibuk, lalu antrean warga menerima kantong daging kurban. Semua tampak khidmat dan penuh rasa. Namun di tengah ritual yang terus diwariskan itu, sebenarnya ada korban dalam kurban.

Secara teologis, kurban merupakan simbol ketundukan total manusia kepada Tuhan. Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus melampaui kepentingan pribadi. Penyembelihan hewan kurban bukan sekadar ritual darah, melainkan latihan spiritual untuk memotong ego, keserakahan, dan keterikatan duniawi. Kurban seharusnya melahirkan solidaritas sosial dan kepekaan terhadap penderitaan sesama.

Namun dalam praktik sosial sekarang ini, substansi itu sering bergeser. Kurban kerap berhenti pada seremoni tahunan yang administratif: siapa menyumbang sapi paling besar, siapa panitia paling sibuk, dan siapa mendapatkan distribusi terbanyak. Nilai spiritualnya perlahan kalah oleh simbol prestise sosial. Dengan demikian, membaca korban kurban menjadi penting.

Korban

Korban pertama yang sering luput dibicarakan adalah kelompok miskin yang hanya hadir sebagai penerima pasif. Mereka menunggu di barisan panjang, membawa kantong plastik, lalu pulang dengan beberapa ons daging yang mungkin hanya dinikmati setahun sekali. Ironisnya, setelah perayaan usai, struktur sosial yang membuat miskin tetap berdiri kokoh. Kurban memberi bantuan sesaat, tetapi tidak selalu menghadirkan keadilan yang berkelanjutan.

Padahal, semangat Idul Adha bukan hanya memberi daging, melainkan membangun empati sosial. Kurban mestinya tidak berhenti pada distribusi konsumtif, tetapi mendorong kesadaran tentang ketimpangan ekonomi, akses pendidikan, dan martabat manusia. Jika setelah Idul Adha masyarakat masih membiarkan kemiskinan berlangsung tanpa upaya perubahan sosial, maka kurban hanya menjadi ritual tahunan tanpa daya transformasi.

Korban berikutnya adalah hewan-hewan yang diperlakukan sekadar objek tontonan. Di media sosial, tidak sedikit penyembelihan berubah menjadi konten hiburan: darah direkam, sapi mengamuk diviralkan, bahkan momen kematian dijadikan candaan digital. Padahal dalam Islam, hewan memiliki hak untuk diperlakukan dengan baik. Nabi Muhammad mengajarkan agar hewan tidak disiksa, tidak ditakut-takuti, dan disembelih secara syar’i. Ketika kurban kehilangan dimensi kasih sayang, ritual itu justru bertentangan dengan pesan moral agama itu sendiri.

Lebih jauh lagi, ada korban yang paling gelap: nurani manusia modern. Banyak orang mampu membeli hewan kurban, tetapi gagal melumpuhkan kesombongan, kerakusan, dan ketidakpedulian sosialnya. Kita rela mengeluarkan jutaan rupiah untuk sapi, tetapi berat membantu tetangga yang kesulitan hidup sepanjang tahun. Kita fasih mengutip kisah Ibrahim, tetapi enggan menyembelih ego dan kepentingan diri sendiri.

Kurban

Hal terpenting bukan seberapa besar hewan yang disembelih, melainkan seberapa jauh manusia mampu mengorbankan sifat-sifat buruk dalam dirinya. Kurban adalah pendidikan moral agar manusia tidak diperbudak oleh harta, status sosial, dan kepentingan pribadi.

Beragama yang demikian diingatkan Arkoun dalam The Unthought in Contemporary Islamic Thought, bahwa agama semestinya tidak hanya dipahami sebagai kumpulan hukum dan upacara, tetapi sebagai energi pembebasan manusia. Agama dapat kehilangan ruh ketika dibekukan menjadi ritual tanpa refleksi. Kesalehan yang hanya tampil di permukaan mudah berubah menjadi formalitas sosial. Orang merasa telah dekat dengan Tuhan hanya karena menjalankan simbol agama, padahal relasi kemanusiaannya tetap rapuh. Tidak jarang jumlah hewan kurban yang fantastis dipamerkan sebagai ukuran kesalehan, bahkan ketika sebagian di antaranya berasal dari anggaran publik (baca: APBN). Perhatian lebih tertuju pada besarnya angka dan kemegahan seremoni daripada pada nilai kemanusiaan dan keadilan sosial yang seharusnya dihidupkan oleh ibadah kurban.

Idul Adha seharusnya tidak hanya menghasilkan daging yang dibagikan, tetapi juga kesadaran yang diperbarui. Pemahaman bahwa agama tidak cukup dirayakan lewat simbol, melainkan harus diwujudkan dalam keberpihakan pada kelompok rentan, penghormatan terhadap makhluk hidup, dan keberanian mengoreksi diri sendiri. Jika tidak, mungkin benar bahwa setiap tahun kita melaksanakan kurban, tetapi tidak pernah benar-benar memahami korban sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar