Habitus Popularitas

Kabar, Serat556 Dilihat
habitus popularitas
Foto: Dokumen ejogja.ID

Maghfur M. Ramin

Dahulu orang dikenal karena karyanya. Kini, karya sering kali menjadi kendaraan agar seseorang dikenal. Pergeseran itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mengubah cara sebuah masyarakat memberi penghargaan. Standar keberhasilan tidak lagi bertumpu pada kedalaman gagasan atau ketekunan berkarya, melainkan pada kemampuan merebut perhatian. Visibilitas.

Perubahan ini menjalar ke hampir seluruh ruang kehidupan. Politik lebih sibuk mengelola citra daripada memperdalam visi. Pendidikan berlomba membangun reputasi digital, sementara pembaruan pembelajaran kerap tertinggal di belakang layar. Ceramah dipadatkan menjadi potongan satu menit agar mudah dibagikan. Akademisi pun ikut memasuki logika yang sama: kemampuan membangun personal branding acap kali lebih cepat mendatangkan pengakuan dibandingkan ketelitian menyusun argumentasi. Kita seolah memasuki zaman ketika sorotan lebih menentukan daripada substansi.

Mengubah Standar

Banyak orang menyebut algoritma media sosial sebagai biang keladinya. Penjelasan itu terlalu mudah. Algoritma memang mempercepat arus perhatian, tetapi ia tidak pernah menciptakan selera. Ia memperbesar kebiasaan yang telah hidup lebih dulu. Masalah utamanya terletak pada cara kita memandang nilai.

Melalui konsep habitus, Pierre Bourdieu menunjukkan bahwa penilaian, selera, dan cara memberi makna dibentuk oleh kebiasaan sosial yang terus diulang hingga terasa alamiah. Karena berlangsung perlahan, perubahan itu nyaris tidak disadari. Kita merasa sedang memilih secara bebas, padahal sesungguhnya sedang mengulang pola yang telah diwariskan oleh lingkungan.

Habitus itulah yang kini bekerja di balik budaya popularitas. Ketika wajah yang sama terus memenuhi layar, nama yang sama berulang kali sebagai rujukan, dan akun yang sama tak henti memperoleh panggung, publik menganggap semuanya adalah yang pantas dipercaya. Pengulangan berubah menjadi legitimasi. Familiaritas menjelma otoritas.

Pergeseran itu mengubah logika ruang publik. Pertanyaan “Apa argumennya?” Digeser oleh pertanyaan “Siapa yang mengatakannya?”. Kredibilitas tidak lagi lahir dari pembuktian, melainkan diasumsikan hadir karena tingginya eksposur. Popularitas sebatas konsekuensi mutu; ia berubah sebagai mutu.

Dampaknya jauh melampaui media sosial. Anak-anak muda belajar bahwa tampil lebih penting daripada bertumbuh. Lembaga pendidikan semakin piawai mengelola kesan, tetapi sering lupa membangun kedalaman. Pengetahuan dipaksa mengikuti ritme perhatian: yang rumit disederhanakan, yang membutuhkan perenungan dipercepat, dan yang tidak cukup menarik untuk konten disisihkan. Maka, kita hanya menghasilkan perhatian agar tetap relevan.

Jangan Lewati: Normalisasi Kebusukan

Kekuasaan paling efektif bukanlah yang memaksa dari luar, melainkan yang membentuk kebiasaan dari dalam. Tidak ada yang memerintahkan masyarakat mengagumi yang viral. Namun, mekanisme sosial terus melatih kita melakukan hal itu sampai akhirnya terasa wajar. Dominasi bekerja tanpa suara karena telah menjelma kebiasaan.

Keyakinan bahwa yang viral pasti layak dipercaya itu super bahaya. Ketika sorotan dijadikan ukuran utama, ruang publik kehilangan daya bedanya. Tidak bermutu terkenal, yang tenang diabaikan, dan yang sungguh-sungguh bekerja sering tersisih oleh mereka yang terlihat pandai.

Popularitas memang dapat membuka pintu, tetapi tidak bisa menggantikan mutu sebagai penentu nilai. Sebab, sebuah bangsa tidak kehilangan masa depannya karena terlalu banyak memprodukdi orang terkenal. Bangsa mulai rapuh ketika ketenaran tidak lagi memerlukan pembuktian, ketika perhatian disamakan dengan kompetensi, dan ketika sorotan lebih dipercaya daripada kebenaran. Kredibiltas jauh lebih anggun daripada popularitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *