Dugaan Pelecehan Dosen UIN Semarang ke Mahasiswi Betul-betul Mengusik Nurani

Kabar, Nasional1565 Dilihat
Dugaan Pelecehan Dosen UIN Semarang ke Mahasiswi Betul-betul Mengusik Nurani
Foto: Tangkap Layar IG @pesan_uinws

ejogja.ID | Pesan itu masuk lewat WhatsApp. Ruang yang semestinya menghadirkan rasa aman bagi mahasiswa saat berkomunikasi dengan dosennya. Namun bagi seorang mahasiswi di UIN Walisongo Semarang, percakapan itu justru memunculkan rasa tidak nyaman sekaligus ketakutan. Tangkapan layar percakapan tersebut kemudian diunggah oleh akun Instagram @pesan_uinws dan segera memicu perhatian publik (7/5/25).

Jangan Lewati: Hari Pendidikan

Media sosial ramai memperbincangkan tangkapan layar percakapan yang memuat pesan bernada tidak pantas dari seorang dosen dan mahasiswi. Publik pun bereaksi. Banyak orang merasa geram karena relasi antara dosen dan mahasiswi seharusnya berdiri di atas penghormatan, bukan penyalahgunaan posisi.

“Dari beberapa informasi yang terkait bisa dipastikan lebih daripada satu. (Lebih dari dua?) Iya sepertinya lebih dari dua,” ujar Yusuf Aditya Pratama Wakil DEMA UIN Walisongo dilansir detikJateng, Kamis (7/6/2026).

Kampus Bergerak

Di tengah riuh perhatian publik, pihak UIN Walisongo Semarang langsung bergerak. Kampus membentuk tim investigasi untuk menelusuri dugaan pelecehan seksual tersebut. Wakil Rektor III UIN Walisongo, Prof. Dr. H. Muhammad Sholihin, menyatakan kampus telah menerima laporan dan berkomitmen mengusut kasus itu secara objektif.

Jangan Lewati: Serdik di Tangan, Dosen PTKIS DIY Meneguhkan Profesionalisme

Bagi banyak mahasiswa, kampus bukan sekadar tempat mempelajari teori dan mengejar gelar. Kampus menjadi ruang bertumbuh, tempat mahasiswa menitipkan mimpi dan masa depan. Karena itu, ketika figur akademik yang seharusnya membimbing justru diduga melakukan pelecehan, luka yang muncul tidak hanya melukai korban secara personal, tetapi juga meruntuhkan rasa aman di lingkungan pendidikan.

Kasus ini kembali mengingatkan publik bahwa pelecehan seksual kerap muncul dalam relasi kuasa yang timpang. Pesan singkat yang tampak sederhana di layar ponsel dapat meninggalkan tekanan psikologis panjang bagi korban. Terutama ketika pengirim pesan memiliki otoritas akademik.

Pihak kampus menegaskan mereka tidak akan mentoleransi segala bentuk kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan pendidikan. Tim investigasi kini mendalami keaslian percakapan serta memeriksa pihak-pihak terkait. Jika tim menemukan pelanggaran, kampus akan menjatuhkan sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Jangan Lewati: Pelecehan Seksual oleh Oknum Pengasuh di Sentolo Kulon Progo

Di luar proses investigasi, publik berharap keberanian terus tumbuh: keberanian korban untuk bersuara, keberanian kampus untuk bertindak tegas, dan keberanian semua pihak menjaga ruang pendidikan tetap manusiawi.

Sebab pendidikan seharusnya melahirkan rasa aman. Bukan trauma yang mahasiswi pikul sendirian dalam diam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *